Analisa Kekuatan-Kekuatan Politik di Indonesia: Referensi Bagi Mahasiswa dan Umum

Lihat Detail

Deskripsi

Buku ini tidak ditulis untuk orang yang sudah tahu jawabannya. Ia ditulis untuk kamu yang baru mulai curiga, bahwa yang diajarkan di ruang kelas tentang politik Indonesia tidak cocok dengan apa yang kamu lihat di jalan.

Di kelas, politik Indonesia digambar sebagai bagan. Ada input, ada output. Ada partai, ada pemilu, ada DPR. Semua berjalan menurut aturan. Semua bisa dijelaskan dengan slide. Di jalan, politik Indonesia tidak seperti itu. Ia bising, tumpang tindih, dan sering tidak sopan. Keputusan-keputusan penting di negeri ini tidak selalu diambil di ruang sidang. Ia diambil di ruang makan, di lobi hotel, di telepon tengah malam, di mobil yang melaju kencang di jalur tengah sambil menyalakan sirine yang kamu bayar pajaknya.

Buku ini ditulis untuk membongkar jarak antara bagan dan jalan itu. Bukan untuk membuat kamu sinis. Kesinisan itu kemewahan orang yang tidak mau repot. Buku ini ditulis supaya kamu bisa membaca: siapa yang membayar, siapa yang dibayar, dan mengapa yang lemah selalu kalah meskipun secara konstitusi ia punya hak yang sama.

Kamu akan menemukan bab tentang partai politik yang berubah menjadi kendaraan pribadi. Bab tentang militer yang kembali ke ranah sipil tanpa harus memakai nama dwifungsi. Bab tentang oligarki yang tidak muncul di televisi tetapi menentukan arah kebijakan. Bab tentang birokrasi yang seharusnya melayani tetapi justru menjadi mesin kekuasaan. Bab tentang ormas yang berubah menjadi preman, tentang civil society yang dicekik, tentang mahasiswa yang lelah, tentang buruh dan perempuan yang terus melawan meski tidak pernah diberi ruang, tentang Islam politik yang dijadikan alat legitimasi, tentang media yang dijual, dan tentang kartelisasi yang menutup hampir semua pintu oposisi.

Buku ini tidak berpihak pada "keseimbangan". Ia berpihak pada yang lemah, pada yang dibungkam, pada yang tidak punya suara. Kalau kamu mencari "pandangan kedua" untuk merasa nyaman, carilah di tempat lain. Di sini saya menunjukkan siapa yang membayar, siapa yang dibayar, dan siapa yang selalu kalah.

Tetapi berpihak bukan berarti menutup mata. Setiap klaim di buku ini harus bisa kamu uji. Setiap argumen harus bisa kamu bantah. Saya tidak minta kamu percaya. Saya minta kamu berpikir. Mahasiswa yang baik bukan mahasiswa yang percaya pada dosennya, melainkan mahasiswa yang membaca, memeriksa, dan kemudian memutuskan sendiri.

Satu hal lagi. Buku ini tidak ditulis dari menara gading. Ia ditulis dari pinggir jalan, dari orang yang setiap hari harus minggir untuk iring-iringan yang tidak pernah ia pilih, dari orang yang membayar pajak tetapi tidak pernah merasa diwakili, dari orang yang melihat fakir miskin dan anak jalanan tidak diurus sementara pejabatnya sibuk mengurus citra.

Kamu mungkin akan marah ketika membaca buku ini. Bagus. Marah adalah awal dari berpikir. Yang berbahaya bukan marah, tetapi apati. Yang berbahaya bukan menolak, tetapi diam.

Selamat membaca. 

Selamat berpikir. 

Selamat marah.

 

Lihat Detail

Tentang Produk

Loading...