Deskripsi
William Faulkner dalam Requiem for a Nun tahun 1951 bertaka "The past is never dead. It's not even past." Setiap kali seorang mahasiswa Indonesia duduk di bangku sekolah menengah dan menyaksikan adegan penyiksaan di Lubang Buaya dalam film Pengkhianatan G30S/PKI, ada sesuatu yang terjadi di luar proses belajar sejarah.
Yang terjadi adalah penanaman, bukan pengetahuan, melainkan ketakutan. Anak-anak itu tidak belajar apa yang terjadi pada malam 30 September 1965. Mereka belajar bahwa bertanya terlalu jauh adalah berbahaya.
Kabut sebagai Objek Studi
Inilah efek paling awet dari arsitektur ketidaktahuan yang dibangun di sekitar peristiwa tersebut. Setelah hampir enam dekade, medan historiografi G30S menyerupai reruntuhan bangunan yang sengaja diledakkan dari dalam: serpihannya berserakan, sebagian sengaja dikubur, dan tidak ada cetak biru yang bisa ditemukan. Namun, berbeda dengan reruntuhan biasa, arsitektur ini memiliki fitur yang unik: ia dirancang agar kerusakannya sendiri terlihat seperti kecelakaan.
Esai ini adalah upaya untuk membalikkan proses tersebut. Saya tidak akan bertanya "siapa dalangnya?", karena pertanyaan itu sendiri adalah produk dari arsitektur yang ingin saya bongkar. Sebaliknya, saya akan bertanya: Bagaimana kabut ini diproduksi? Siapa yang memproduksinya? Mengapa ia bertahan? Dan apa fungsi politik dari ketidakpastian yang disengaja ini?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, saya akan membedah empat lapisan arsitektur ketidaktahuan:
