Deskripsi
Prakata
Buku ini lahir dari sebuah kegelisahan: mengapa Adam Malik, seorang tokoh yang begitu sentral dalam sejarah Indonesia modern, seringkali direduksi menjadi sekadar "diplomat ulung" atau, sebaliknya, dicap sebagai "oportunis politik"? Di antara dua kutub simplistis itu, ada sosok manusia yang jauh lebih kompleks, lebih menarik, dan lebih relevan untuk dipahami oleh generasi Indonesia masa kini.
Adam Malik adalah sebuah paradoks yang hidup. Ia memulai kariernya sebagai jurnalis muda yang mendirikan kantor berita ANTARA, alat perjuangan bawah tanah melawan kolonialisme. Ia menjadi salah satu pendiri Partai Murba, partai "komunisme nasional" yang menolak dominasi Moskow. Ia adalah murid dan pengagum Tan Malaka, sang revolusioner legendaris. Namun, ia mengakhiri perjalanannya sebagai Wakil Presiden di bawah Soeharto, rezim yang membantai kaum kiri dan mengubur cita-cita revolusi sosial yang dulu ia bela.
Bagaimana seorang Marxis nasionalis bisa menjadi arsitek diplomasi Orde Baru yang pro-Barat? Bagaimana ia bisa bertahan, bahkan naik ke puncak kekuasaan, di tengah perubahan rezim yang menghancurkan begitu banyak rekannya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong penulisan buku ini.
Dengan menggunakan sumber-sumber primer yang jarang disentuh, surat-surat pribadi, memoar yang tidak dipublikasikan, risalah rapat internal partai, serta laporan intelijen asing yang baru dideklasifikasi dari Amerika Serikat, Inggris, Australia, Belanda, Jepang, dan Malaysia, buku ini berusaha menghadirkan perspektif baru yang segar, melampaui narasi-narasi yang sudah ada. Kami tidak bermaksud menghakimi Adam Malik sebagai pahlawan atau pengkhianat. Sebaliknya, kami mencoba memahami bagaimana seorang manusia menavigasi arus sejarah yang dahsyat, membuat pilihan-pilihan sulit, dan berusaha tetap hidup, secara harfiah maupun politik, di tengah pusaran yang menghancurkan begitu banyak orang di sekitarnya.
Konsep "mimikri" dalam judul buku ini merujuk pada kemampuan Adam Malik untuk menyesuaikan diri, mengubah warna politiknya, tanpa sepenuhnya kehilangan inti dirinya. Seperti bunglon yang mengubah warna kulitnya bukan untuk menipu, melainkan untuk bertahan hidup, Adam Malik bergerak dari Murba ke istana, dari Moskow ke Washington, dari Sukarno ke Soeharto, selalu beradaptasi, selalu bernegosiasi, selalu membangun jembatan. Apakah ini bentuk oportunisme? Atau justru bentuk ketahanan yang hanya dimiliki oleh sedikit orang? Kami serahkan kepada pembaca untuk menilai.
Buku ini disusun dalam dua belas bab yang mengikuti kronologi kehidupan Adam Malik, dari masa kecilnya di Pematangsiantar hingga kematiannya di Jakarta. Setiap bab berusaha menggali dimensi-dimensi yang belum banyak diungkap: perannya sebagai operator logistik revolusi, kontak-kontak rahasianya dengan intelijen asing, kekecewaannya terhadap model Soviet setelah bertugas di Moskow, kegelisahan batinnya selama pembantaian 1965-66, dan konflik-konfliknya dengan para jenderal Orde Baru yang akhirnya menyingkirkannya ke posisi seremonial Wakil Presiden.
Kami berharap buku ini dapat memberikan sumbangan kecil bagi pemahaman yang lebih bernuansa tentang sejarah Indonesia, sejarah yang tidak hitam-putih, tidak terbagi rapi antara "pahlawan" dan "penjahat," tetapi penuh dengan abu-abu, penuh dengan manusia-manusia yang berusaha melakukan yang terbaik dalam situasi yang mustahil.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya buku ini: keluarga Adam Malik yang telah memberikan akses ke arsip-arsip pribadi, para pustakawan dan arsiparis di berbagai lembaga di dalam dan luar negeri, serta para sejarawan yang karyanya menjadi fondasi bagi riset kami. Segala kesalahan dan kekurangan dalam buku ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Daftar Isi
Imprint
CopyRight
Prakata
Daftar Isi
Bagian Satu Akar dan Api (1917–1945)
Bab 1 Pematangsiantar dan Tanah Batak, Membongkar Mitos Kelahiran (1917–1934)
Keluarga Batak Muslim, Hibriditas Identitas yang Terabaikan
Pendidikan Kolonial dan Munculnya Kesadaran Politik
Jejak Pertama di Laporan Intelijen Kolonial Belanda
Surat-Surat Awal, Korespondensi dengan Tokoh Pergerakan
Penutup Bab 1
Daftar Rujukan Bab 1
Bab 2 Jurnalis Muda di Medan Pergerakan (1934–1942)
Mendirikan Kantor Berita ANTARA, Sisi Lain yang Jarang Diungkap
Tulisan-Tulisan Awal di Koran Nasionalis
Jaringan dengan Tokoh-Tokoh Kiri Sumatera
Laporan PID tentang Aktivitas Politik Adam Malik
Menjelang Perang, Firasat dan Persiapan
Penutup Bab 2
Daftar Rujukan
Bab 3 Pendudukan Jepang dan Transformasi Ideologis (1942–1945)
Awal Pendudukan, Antara Kolaborasi dan Perlawanan
Jaringan Bawah Tanah yang Tersembunyi
Kolaborasi Taktis dengan Jepang, Sebuah Pembacaan Baru
Dokumen Kempeitai yang Belum Pernah Diterjemahkan
Hubungan dengan Sukarno, Sebuah Aliansi yang Dibangun di Bawah Bayang-Bayang
Menjelang Proklamasi, Posisi Adam Malik yang Sebenarnya
Penutup Bab 3
Daftar Rujukan
Bagian Dua Revolusi dan Pergolakan (1945–1959)
Bab 4 Proklamasi dan Revolusi Fisik, Sang Jembatan yang Terlupakan (1945–1949)
Proklamasi, Peran yang Sengaja Diredupkan
Rengasdengklok, Operator Logistik yang Tersembunyi
Menyebarkan Berita Proklamasi, Operasi Propaganda Pertama Republik
Mendirikan Partai Rakyat Indonesia dan Partai Murba
Jaringan Logistik Revolusi, Kontak Internasional Pertama
Surat-Surat kepada Keluarga Selama Revolusi
Penutup Bab 4
Daftar Rujukan
Bab 5 Murba dan Jalan Kiri-Nasionalis, Antara Tan Malaka dan Sukarni (1948–1955)
Posisi Ideologis Adam Malik, Antara Tan Malaka dan Sukarni
Konflik Internal Murba, Dokumen yang Belum Pernah Terungkap
Pemilu 1955 dan Kegagalan Murba, Sebuah Refleksi yang Jujur
Laporan CIA dan Intelijen Australia tentang Perpecahan di Murba
Hubungan Pribadi dengan Chairul Saleh dan Sukarni
Penutup Bab
Daftar Rujukan
Bab 6 Meninggalkan Kiri, Transformasi Politik Pertama (1955–1959)
Setelah Pemilu 1955, Sebuah Krisis Eksistensial
Kedekatan dengan Sukarno, Strategi atau Keyakinan?
Konflik dengan Sukarni dan Keluar dari Murba
Laporan Intelijen Australia dan Jepang tentang "Evolusi" Adam Malik
Dari Murba ke Istana, Sebuah Refleksi
Penutup Bab 6
Daftar Rujukan
Bagian Tiga Diplomat di Panggung Global (1959–1966)
Bab 7 Duta Besar di Moskow, Seorang Marxis Anti-Stalinis di Negeri Soviet (1959–1963)
Penunjukan yang Mengejutkan, Mengapa Moskow?
Kehidupan di Moskow, Antara Kekaguman dan Kengerian
Diplomasi di Balik Layar, Negosiasi Bantuan Militer dan Ekonomi
Jaringan dengan Diplomat-Diplomat Non-Blok
Menyaksikan Krisis Rudal Kuba dari Moskow
Kepulangan dan Warisan dari Moskow
Penutup Bab 7
Daftar Rujukan
Bab 8 Di Antara Dua Api, Adam Malik dan Jalan Menuju Jurang (1963–1965)
Kembali ke Jakarta, Sebuah Panggung yang Berubah
Konfrontasi Malaysia, Sebuah Perang yang Tidak Diinginkan
Kontak Rahasia dengan Intelijen Malaysia dan Inggris
Laporan ASIS Australia tentang "Jaringan Adam Malik"
Firasat Menjelang G30S, Sebuah Bencana yang Diantisipasi
Malam 30 September, Di Mana Adam Malik?
Penutup Bab 8
Daftar Rujukan
Bab 9 G30S dan Kebangkitan ke Puncak, Sang Bunglon Menemukan Warna Barunya (1965–1966)
Pagi 1 Oktober, Membaca Peta yang Berubah
Memilih Pihak, Sebuah Keputusan yang Diperhitungkan
Triumvirat, Bersama Soeharto dan Sultan
Menteri Luar Negeri, Memulihkan Reputasi Indonesia
Mengakhiri Konfrontasi, Diplomasi di Balik Layar
Membersihkan Diri dari Masa Lalu Kiri
Surat Pribadi yang Menunjukkan Beban Batin
Penutup Bab 9
Daftar Rujukan
Bab 10 Menteri Luar Negeri dan Arsitek Diplomasi Orde Baru (1966–1977)
Membangun Kembali Jembatan yang Terbakar
Kembali ke PBB, Sebuah Manuver Diplomatik yang Cemerlang
Pembentukan ASEAN, Peran Adam Malik yang Sebenarnya
Normalisasi Hubungan dengan Malaysia dan Singapura
Diplomasi dengan Belanda dan Masalah Irian Barat
Menavigasi Tekanan Internal, Para Jenderal dan Aktivis
Misi Rahasia ke Tiongkok, Menjembatani Dua Dunia
Menjelang Akhir Masa Jabatan, Sebuah Refleksi
Penutup Bab 10
Daftar Rujukan
Bab 11 Wakil Presiden, Antara Kekuasaan dan Keterpinggiran (1978–1983)
Pengangkatan yang Mengejutkan, Sebuah "Hadiah" atau "Pembuangan Halus"?
Dinamika Kekuasaan yang Berubah, Tersingkir dari Lingkaran Dalam
Konflik dengan Sudharmono, Sekretaris Negara yang Semakin Berkuasa
Kesehatan yang Menurun, Harga dari Sebuah Kehidupan yang Panjang
Catatan-Catatan Akhir, Menerbitkan Memoar dan Menulis Sejarah
Akhir Masa Jabatan dan Sebuah Perpisahan yang Sunyi
Penutup Bab 11
Daftar Rujukan
Bab 12 Kematian dan Warisan yang Diperdebatkan (1984–Sekarang)
Tahun-Tahun Terakhir dan Kondisi Kesehatan
Kematian dan Pemakaman Kenegaraan
Reaksi Nasional dan Internasional
Warisan yang Diperdebatkan
Memori Keluarga dan Penutup
Daftar Rujukan
Sinopsis
Siapakah Adam Malik? Ia adalah pendiri kantor berita ANTARA, pemimpin Partai Murba, dan murid Tan Malaka. Namun, ia juga menjadi Menteri Luar Negeri di bawah Soeharto, arsitek ASEAN, dan akhirnya Wakil Presiden, sebuah puncak kekuasaan di rezim yang membantai kaum kiri, kawan-kawan lamanya sendiri.
Biografi Adam Malik dan Mimikri Revolusi Kiri ke Orde Baru menelusuri perjalanan hidup seorang tokoh paling paradoksal dalam sejarah Indonesia modern. Dari masa mudanya sebagai jurnalis pergerakan di Medan, perannya sebagai jembatan antara pemuda radikal dan pemimpin tua pada malam Proklamasi, kekecewaannya terhadap Uni Soviet saat bertugas di Moskow, hingga manuver-manuvernya yang memuluskan jalan bagi Soeharto sekaligus memulihkan reputasi internasional Indonesia pasca-G30S.
Dengan mengandalkan sumber-sumber primer yang belum pernah digunakan sebelumnya, surat-surat pribadi, memoar rahasia, dokumen intelijen asing dari CIA, MI6, ASIS, hingga arsip Kempeitai, buku ini membongkar lapisan-lapisan kompleksitas seorang "bunglon politik." Apakah ia seorang oportunis yang mengkhianati ideologinya, atau seorang penyintas yang melakukan apa pun untuk tetap hidup di tengah pusaran sejarah? Buku ini tidak memberikan jawaban sederhana, tetapi mengajak pembaca untuk merenungkan kembali makna perjuangan, pengorbanan, dan kompromi dalam panggung politik yang kejam. </sb>
