Deskripsi
Eyang Manikmaya melalui matanya yang setajam Teleskop Hubble melihat bahwa di Academi Plato, Aristoteles (murid Plato) tengah beradu argumentasi dengan Plato gurunya sendiri. Aristoteles membaca karya Plato yakni Politeia lalu mengkritik habis-habisan sebagai tulisan seorang pemabuk yang berimajinasi.
Casus Belli
Bagi Aristoteles, isi Politeia adalah "fancy imagination." Aristoteles menjelaskan "fancy imagination" persis seperti yang ada di kepala David Hume kepada Plato. Akibatnya Plato marah besar kepada sang murid. Hampir saja terjadi baku hantam kalau seorang Tukang Gorengan (bakwan, cireng, tahu polos, tahu isi plus cabe rawit; kebetulan risol dan tempe goreng sudah habis) tidak kebetulan lewat. Plato berkata kepada Tukang Gorengan soal kekurang-ajaran Aristoteles dan mengkritik Politeia. Plato menyuruh Tukang Cilok Bandung untuk membaca Politeia dalam Bahasa Yugnany Kuno untuk menilai "kesehatan" argumentasinya.
Namun, Tukang Cilok justru menawar buku Politeia dengan harga 20 ribu karena tebalnya, untuk membungkus gorengan. Akibatnya kemarahan Plato kini terarah kepada Tukang Gorengan. Dengan kelihaian filsafatnya, secara sarkastis Plato membully si Tukang Gorengan. Namun, si Tukagn Goreng benar-benar tidak paham kalimat apa yang diucapkan Plato kepadanya.
Di lain pihak, Aristoteles berkata pada Plato bahwa kalau berani dan bernyali hadapi saya, Aristoteles, dengan konsep Politeia yang matang, membumi, dan bisa diterapkan di bumi ini bukan di Nirwana. Jangan sok berfilsafat dengan Tukang Gorengan. Kemarahan Plato pada Aristoteles kembali tersulut dan terjadilah perdebatan kelas bantam senior antara Plato dengan Politeia versinya dan Aristoteles dengan Politeia versinya.
Eyang Manikmaya langsung menelepon Togog, bukan dengan telepon WA tapi langsung telepon Seluler. Eyang Manikmaya menyuruh Togog turun ke Yugnani. Pertama, ia harus segera menelepon Tukang Gorengan agar tenang karena khawatir kalau ia marah maka minyak panas akan disiramkan kepada Plato. Kedua, Togog harus menengahi pertengkaran guru-murid karena alasan etis.
Demikianlah, Togog pun turun ke Yugnani sebagai pakar filsafat yang lebih hebat dari Plato dan Aristoteles. Semua argumentasi Plato dan Aristoteles dibuat mentah oleh Togog. Dan yang membuat Togog sangat happy adalah, Tukang Gorengan menyediakan gorengan yang baru diangkat, khusus untuk Togog. Manakala Plato dan Aristoteles hendak mencomot, Tukang Gorengan memarahi keduanya dengan Filsafat yang beraroma Mazhab Frankfurt
Dramatis Personae
- Plato (427–347 SM), penggagas Politeia, pembela Dunia Ide.
- Aristoteles (384–322 SM), mantan murid, pengritik realis, penulis Politika.
- Tukang Gorengan (fiktif), penjual bakwan, cireng, tahu isi; tanpa sadar menganut Mazhab Frankfurt.
- Togog (pewayangan), pamong para raksasa, ditugaskan Eyang Manikmaya sebagai pakar filsafat antargalaksi.
- (Hanya disebut) Eyang Manikmaya, Sang Maha Saksi.
- Waktu & Tempat: Senja di pelataran Akademi Plato, Athena, sekitar 350 SM, dengan lompatan ruang-waktu yang memungkinkan Togog dan si Tukang Gorengan hadir.
