Di Ujung Jurang Revolusi, Rekonstruksi Dialogi Tan Malaka Musso, Amir, dan Togog Menjelang Madiun 1948

Lihat Detail

Deskripsi

Peristiwa Madiun 1948 adalah salah satu luka paling dalam dan paling gelap dalam sejarah Republik yang baru lahir. Sering dianggap sebagai "pemberontakan PKI", peristiwa ini menewaskan ribuan orang dan mengoyak persatuan nasional di tengah Agresi Militer Belanda. Namun, yang sering terlupakan adalah bahwa Partai Komunis Indonesia sendiri, di bawah pimpinan Musso yang baru kembali dari Moskow, terbelah. Di luar PKI, ada seorang tokoh yang sudah lama memperingatkan bencana ini: Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka.

Tan Malaka bukan sekadar tokoh pinggiran. Ia adalah konseptor Republik, mantan pemimpin Komintern di Asia Tenggara, dan pendiri Persatuan Perjuangan yang pada 1946 menentang diplomasi kompromi Sjahrir. Pada tahun 1948, ia baru saja keluar dari penjara tanpa pengadilan. Saat ia bebas, Musso tiba di Yogyakarta, membawa "Djalan Baru" yang radikal: menggabungkan semua partai kiri ke dalam satu PKI yang bersatu di bawah garis Moskow, dan melancarkan kritik tajam ke kanan dan ke kiri.

Di antara dua kutub ini berdiri Amir Sjarifuddin. Mantan Perdana Menteri yang jatuh karena Perjanjian Renville, Amir adalah seorang Marxis yang emosional, seorang Kristen yang taat, dan seorang politisi yang terpojok. Ia telah menyerahkan mandatnya kepada Hatta, dan kini, di bawah bayang-bayang Musso, ia menuntun sayap kiri PKI legal untuk melebur ke dalam wadah baru.

Namun, sejarah mencatat keanehan: di antara mereka bertiga, selalu hadir seorang tua berwajah lucu dengan bibir tebal dan mata yang setengah mengantuk namun setengah waspada. Namanya Togog. Tidak ada yang tahu pasti dari mana asalnya. Ada yang mengatakan ia adalah mantan dalang wayang golek yang menjadi filsuf setelah membaca seluruh koleksi perpustakaan Komintern. Ada yang menduga ia adalah mata-mata yang menyamar sebagai badut revolusi. Yang lain lagi percaya ia hanyalah gelandangan yang kebetulan pandai bicara dan selalu muncul di saat-saat krisis.

Yang pasti, Togog selalu hadir dalam setiap perdebatan penting menjelang Madiun. Ia duduk di sudut ruangan, kadang tertawa kecil, kadang bergumam sendiri, dan sesekali melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Tan Malaka terdiam, Musso berang, dan Amir menangis. Ironisnya, hanya para pelayan dan juru tulis yang dengan setia mencatat setiap kata-katanya, mungkin karena mereka menganggap Togog hanyalah hiburan di tengah ketegangan. Namun justru kata-kata Togog-lah yang kemudian menjadi ramalan yang mengerikan.

Lihat Detail

Tentang Produk

Loading...