Duryudana Hasrat, Apa Daya Kalah Debat

Lihat Detail

Deskripsi

Dua

Mari kita mundur sejenak. Setahun sebelum malam tanpa tidur itu. Sebelum surat-surat dikirim. Sebelum debat besar di padang perbatasan. Sebelum semuanya berubah menjadi kekacauan yang bahkan para dewa pun tidak bisa memprediksinya.

Saat itu musim semi. Musim di mana pohon-pohon ashoka bermekaran di sepanjang jalan antara Astina dan Amarta, menebarkan kelopak-kelopak merah jambu yang beterbangan seperti salju yang berwarna. Udara masih sejuk, belum terlalu panas seperti musim panas nanti. Burung-burung berkicau di pepohonan, seolah-olah dunia belum pernah mengenal perang, belum pernah mengenal kebencian, belum pernah mengenal hasrat yang bisa menghancurkan segalanya.

Upacara itu sendiri adalah sebuah pertemuan tahunan, semacam festival perdamaian yang diadakan secara bergilir oleh kerajaan-kerajaan besar di Bharatawarsha. Tahun itu, tuan rumahnya adalah Kerajaan Wirata, yang terletak tepat di perbatasan antara wilayah pengaruh Astina dan Amarta. Raja Wirata, seorang lelaki tua yang gemar minum anggur dan menceritakan kisah-kisah masa mudanya yang heroik, mengundang semua keluarga besar Bharata untuk hadir: Pandawa dan Kurawa, beserta seluruh istri, anak, dan pengiring mereka.

Duryudana datang dengan rombongan besar, seratus saudaranya, Sengkuni di sisinya, dan ratusan pengawal yang mengenakan baju zirah berkilau. Ia sengaja datang seperti itu: sebuah pamer kekuatan. Setiap langkah kudanya, setiap kibaran panji-panjinya, setiap dentingan pedang para pengawalnya, adalah pesan yang tidak perlu diucapkan: "Lihatlah aku. Akulah masa depan Bharatawarsha."

Pandawa datang dengan rombongan yang jauh lebih sederhana. Yudistira menunggang kuda putih, sederhana, tanpa perhiasan. Bima berjalan kaki, ia tidak pernah suka menunggang kuda karena kuda-kuda selalu ketakutan oleh tubuhnya yang besar. Arjuna menunggang kuda hitam, dengan busur Gandewa tersampir di punggungnya. Nakula dan Sadewa mengikuti di belakang, membawa hadiah-hadiah untuk tuan rumah.

Dan di samping Arjuna, di atas kereta kecil yang ditarik oleh dua ekor kuda putih, duduklah Subadra.

Duryudana tidak langsung melihatnya. Saat itu ia sedang sibuk menyapa para raja, berjabat tangan dengan para brahmana, tersenyum dengan senyum yang sudah dilatihnya sejak kecil, senyum yang ramah di permukaan tetapi dingin di dalam. Ia sedang berbicara dengan Raja Matsya, yang terkenal sebagai sekutu setia Pandawa, mencoba merayunya dengan janji-janji perdagangan dan aliansi militer. Tiba-tiba, dari sudut matanya, ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti di tengah kalimat.

Seorang perempuan.

Perempuan itu turun dari keretanya dengan bantuan Arjuna. Tangannya menyentuh tangan Arjuna, hanya sebentar, hanya ringan, tetapi ada sesuatu dalam sentuhan itu yang membuat Duryudana menelan ludah. Sentuhan itu bukan sentuhan formal, bukan sentuhan protokoler. Sentuhan itu adalah sentuhan yang hanya dimiliki oleh dua orang yang saling memahami tanpa perlu kata-kata.

Perempuan itu, Subadra, tidak mengenakan perhiasan yang mencolok. Kalungnya sederhana, hanya seuntai mutiara. Gelangnya hanya perak biasa. Pakaiannya adalah sari berwarna biru tua, warna langit senja, tanpa sulaman emas atau perak. Tapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya bersinar di antara lautan perhiasan dan kemewahan yang dikenakan oleh para putri lainnya. Ia seperti bulan di antara lentera-lentera, tidak berusaha bersaing, tetapi justru karena itulah ia paling terang.

Duryudana berdiri terpaku. Ia melupakan Raja Matsya yang masih berbicara di sampingnya. Ia melupakan Sengkuni yang sedang membisikkan sesuatu di telinganya. Ia melupakan seluruh strategi politik yang telah ia susun selama berminggu-minggu. Yang ada di pikirannya saat itu hanya satu kata: "Siapa dia?"

"Siapa perempuan itu?" tanyanya pada Sengkuni, memotong bisikan pamannya.

Sengkuni mengikuti arah pandangan Duryudana. Ia melihat Subadra yang kini sedang berbicara dengan Dropadi, istri para Pandawa yang terkenal cantik dan cerdas. Kedua perempuan itu tertawa bersama, tidak sadar bahwa mereka sedang diamati.

"Itu Subadra," kata Sengkuni pelan. "Istri Arjuna."

"Istri Arjuna."

"Ya. Mereka menikah beberapa tahun yang lalu. Putra mereka, Abimanyu, sudah mulai belajar memanah."

Duryudana tidak menjawab. Ia terus menatap Subadra, yang kini sedang membungkuk memberi hormat kepada Dropadi. Gerakannya anggun, tidak dibuat-buat. Senyumnya tulus, bukan senyum politik yang sudah dilatih di depan cermin. Ia tertawa pada sesuatu yang dikatakan Dropadi, dan tawanya terdengar seperti gemericik air di sungai kecil, jernih, alami, tidak dibuat-buat.

"Kenapa kau bertanya?" tanya Sengkuni.

"Tidak ada. Hanya penasaran."

Tapi Sengkuni tahu bahwa keponakannya tidak pernah "hanya penasaran". Dalam lebih dari dua dekade hidupnya, Sengkuni telah belajar membaca Duryudana seperti membaca kitab yang terbuka. Ia tahu bahwa di balik setiap "tidak ada" ada sesuatu. Di balik setiap "penasaran" ada keinginan. Dan di balik setiap keinginan Duryudana, selalu ada kekacauan yang menunggu untuk lahir.

Daftar Isi

Imprint ii

Hak Cipta iii

PRAKATA iv

Daftar Isi ix

PROLOG DI BAWAH BULAN YANG PATAH 1

Satu 2

Dua 4

Tiga 8

Empat 9

Lima 13

Enam 17

Tujuh 20

Delapan 24

Sembilan 28

Sepuluh 30

BAGIAN PERTAMA KEDATANGAN SURAT 33

Satu - Pagi di Amarta 33

Dua - Arjuna 35

Tiga - Togog di Dapur Istana 40

Empat - Yiyitsu Kembali ke Astina 44

Lima - Persiapan di Amarta 49

Enam Negeri - Liliput dan Para Profesor 51

Tujuh Togog dan Kacang Rebusnya 57

Delapan Surat Kedua Duryudana 59

Sembilan - Persiapan Akhir 63

Sepuluh - Menuju Arena 65

BAGIAN KEDUA DEBAT TEMA PERTAMA, KEKUASAAN 67

Satu - Pembukaan Debat 67

Dua - Argumen Utama Duryudana, Kekuasaan sebagai Fondasi Segala Kebajikan 69

Tiga - Argumen Utama Yudistira, Kekuasaan adalah Instrumen, Bukan Kebajikan 72

Empat - Tanggapan Duryudana, Realisme Politik 78

Lima - Tanggapan Yudistira, Fondasi atau Alat? 79

Enam - Sesi Tanya-Jawab dengan Juri 80

Tujuh - Argumen Psikoanalitis dari Togog 83

Delapan Jeda dan Bisikan di Tenda 85

Sembilan Penilaian Juri untuk Tema Pertama 87

BAGIAN KETIGA: DEBAT TEMA KEDUA, KEDIGJAYAAN 89

Satu - Jeda yang Singkat 89

Dua - Argumen Utama Duryudana, Kedigjayaan sebagai Kebajikan Prajurit 91

Tiga - Tanggapan Yudistira, Kedigjayaan Sejati adalah Penguasaan Diri 94

Empat - Tanggapan Duryudana, Romantisasi Kelemahan 98

Lima - Tanggapan Yudistira, Keberanian yang Tidak Bersuara 100

Enam - Intervensi Togog, Kerbau dan Petani 101

Tujuh - Tanggapan Sengkuni, Ilusi Pengorbanan 103

Delapan - Sesi Tanya-Jawab dengan Juri 105

Sembilan - Pertanyaan untuk Yudistira 107

Sepuluh - Argumen Ketiga, Erich Fromm dan Psikologi Fasisme 108

Sebelas - Penilaian Juri untuk Tema Kedua 110

Dua Belas- Menjelang Tema Ketiga 111

BAGIAN KEEMPAT DEBAT TEMA KETIGA, KEKAYAAN 114

Satu - Senja di Padang Tengah 114

Dua - Pembukaan Tema Ketiga 117

Tiga - Tanggapan Yudistira, Kekayaan adalah Ujian, Bukan Tujuan 120

Empat - Tanggapan Sengkuni, Realitas Material 124

Lima - Intervensi Togog, Pasar dan Kemanusiaan 126

Enam - Serangan Balik Duryudana, Amarta dan Kemiskinan 128

Tujuh - Sesi Tanya-Jawab, Psikoanalisis Kekayaan 129

Delapan - Subadra Bersuara 131

Sembilan - Jawaban Yudistira dan Diam Duryudana 133

Sepuluh - Penilaian Juri 134

Sebelas - Malam di Padang Tengah 135

BAGIAN KELIMA DEBAT TEMA KEEMPAT, KELICIKAN 137

Satu - Malam Semakin Dalam 137

Dua - Pembukaan Tema Keempat 141

Tiga - Argumen Sengkuni, Kelicikan sebagai Kecerdasan Strategis 142

Empat - Yudistira Mencoba Menjawab 146

Lima - Sengkuni Menghancurkan 147

Enam - Togog Mencoba Membantu 151

Tujuh - Yudistira Bangkit Kembali 153

Delapan - Togog Menambahkan, Psikologi si Licik 155

Sembilan - Sesi Tanya-Jawab, Etika dan Strategi 157

Sepuluh - Penilaian Juri 160

Sebelas - Senyum Sengkuni 161

BAGIAN KEENAM DEBAT TEMA KELIMA, KECURIGAAN 162

Satu - Di Tenda Amarta, Arjuna dan Godaan Busur 162

Dua - Pembukaan Tema Kelima 165

Tiga - Argumen Utama Duryudana, Kecurigaan sebagai Tameng 166

Empat - Yudistira Mencoba Menjawab, Kepercayaan yang Rapuh 169

Lima - Sengkuni Membalas, Psikologi si Curiga 171

Enam - Togog Luka Batin si Curiga 172

Tujuh - Duryudana, Keraguan yang Muncul 176

Delapan - Sesi Tanya-Jawab, Filsafat dan Trauma 177

Sembilan - Yudistira dan Pengakuan Akhir 179

Sepuluh - Penilaian Juri 180

Sebelas - Setelah Debat 181

BAGIAN KETUJUH DURYUDANA TIDAK TERIMA KALAH 183

Satu - Malam yang Menolak Berakhir 183

Dua - Letupan Pertama 185

Tiga - Sengkuni Bicara 186

Empat - Anatomi Luka, Perspektif Heinz Kohut 188

Lima - Perspektif Otto Kernberg, Narsisisme Patologis 191

Enam - Dialog di Ruang Hampa 192

Tujuh - Perspektif Jacques Lacan, Cermin yang Retak 195

Delapan - Sengkuni Mengambil Alih 197

Sembilan - Malam yang Akhirnya Berakhir 199

BAGIAN KEDELAPAN SIASAT SENGKUNI 200

Satu - Ruang Tanpa Bayangan 200

Dua - Peta Kelemahan, Arsitektur Jiwa Yudistira 202

Tiga - Alasan Penyingkiran Togog, Luka Lama yang Terpendam 204

Empat - Prinsip Dilema, Memahami Teori Permainan 209

Lima - Perspektif Para Ahli Perang, Lebih dari Sekadar Sun Tzu 210

Enam - Surat Tantangan yang Lebih Manipulatif 213

Tujuh - Menghajar Duryudana dengan Kant 216

Delapan - Malam Penuh Pertanyaan 219

BAGIAN KESEMBILAN, TANTANGAN DEBAT BARU , KETIKA DHARMAPUTRA HARUS MEMILIH 221

Satu - Surat Itu Tiba 221

Dua - Luka yang Terbuka 223

Tiga - Arjuna dan Godaan Busur 226

Empat - Surat Dibalas 228

Lima - Setelah Yiyitsu Pergi 231

Enam - Malam Sebelum Debat 232

Tujuh - Kunjungan Kresna 234

Delapan - Tiga Pertanyaan Kresna 237

Sembilan - Renungan Yudistira 239

Sepuluh - Pagi Debat 241

Sebelas - Di Arena, Permainan Dimulai 243

Dua Belas - Debat Dimulai, Serangan Pertama 244

Tiga Belas - Jawaban Yudistira 246

Empat Belas - Tepuk Tangan dan Kekalahan 248

BAGIAN KESEPULUH, YUDISTIRA-TOGOG MENDERITA KEKALAHAN 250

Satu - Detik-Detik Sebelum Putusan 250

Dua - Palu Diketuk 251

Tiga - Ledakan Sunyi 253

Empat - Reaksi Berantai, Delapan Persepsi 254

Duryudana, Kemenangan yang Terasa Aneh 254

Sengkuni, Kemenangan yang Pahit 255

Arjuna, Api yang Ditahan 256

Subadra, Cermin dan Bayangan 257

Togog, Sisyphus di Padang Tengah 258

Yiyitsu, Saksi yang Terbelah 260

Kresna, Saksi di Atas Bukit 261

Lima - Yudistira Turun dari Panggung 262

Enam - Perjalanan Pulang yang Sunyi 263

Tujuh - Malam di Amarta 265

Delapan - Di Atas Bukit, Kresna Tersenyum 267

BAGIAN KESEBELAS BHAGAVAD GITA DARI KRESNA UNTUK YUDISTIRA-TOGOG 269

Satu - Pagi Setelah Kekalahan 269

Dua - Kedatangan Kresna 271

Tiga - Tiga Pertanyaan Yudistira 273

Empat - Siapa Aku? (Atman dan Anatman) 276

Lima - Apa Gunanya Kebajikan? (Nishkama Karma) 279

Enam - Apa yang Harus Kulakukan? (Svadharma) 283

Tujuh - Kenapa Semua Ini Terjadi? (Lila dan Misteri) 286

Delapan – Penutup, Kembali ke Taman 289

Sembilan - Surat Kecil untuk Togog 291

BAGIAN KEDUABELAS KEBANGKITAN YUDISTIRA-TOGOG 293

Satu - Subuh di Amarta 293

Dua - Togog dan Transformasi Sunyi 296

Tiga - Reaksi Para Pandawa, Arjuna 299

Empat - Reaksi Para Pandawa, Bima 301

Lima - Reaksi Para Pandawa, Nakula dan Sadewa 303

Enam – Subadra, Dari Korban Menjadi Pejuang 305

Tujuh - Dewi Drupadi, Bayangan yang Kembali 307

Delapan - Rapat Keluarga Pertama 309

Sembilan - Epilog Kecil, Surat untuk Astina 312

BAGIAN KETIGABELAS PERNYATAAN KALAH DARI DURYUDANA, TETAPI TIDAK DARI SENGKUNI 314

Satu - Astina dalam Keheningan yang Aneh 314

Dua - Sengkuni dan Kemenangan yang Tidak Pernah Cukup 317

Tiga - Duryudana dan Keputusan yang Mengejutkan 319

Empat - Tapi Sengkuni Tidak Menyerah 321

Lima - Reaksi Togog, Dari Badut Menjadi Simbol 322

Enam - Pernyataan Kalah dari Duryudana 325

Tujuh - Tapi Tidak dari Sengkuni, Tanggapan yang Pahit 326

Delapan - Yudistira dan Togog, Awal dari Sesuatu yang Baru 328

Sembilan – Penutup, Dua Jalan yang Berbeda 330

EPILOG TENTANG YANG TELAH TERJADI DAN YANG AKAN DATANG 332

Satu - Surat dari Masa Depan 332

Dua - Togog yang Berubah 333

Tiga - Subadra dan Perempuan-Perempuan Amarta 335

Empat - Arjuna dan Jalan Ksatria 336

Lima - Duryudana dan Jalan yang Belum Selesai 338

Enam - Sengkuni dan Jalan yang Tidak Pernah Berubah 340

Tujuh - Pertemuan di Perbatasan 342

Delapan - Surat Terakhir Kresna 345

Sembilan - Refleksi di Bawah Pohon Bodhi 346

Sepuluh - Kemungkinan di Masa Depan 348

Sebelas – Penutup, Tentang Yang Telah Terjadi dan Yang Akan Datang 350

Lihat Detail

Tentang Produk

Loading...