Deskripsi
Naskah ini tidak lahir dari rahim optimisme. Ia lahir dari rahim kegelisahan, kegelisahan seorang punakawan tua yang menyaksikan dunianya retak di mana-mana. Retak yang tidak bisa ditambal dengan retorika, tidak bisa disembunyikan di balik spanduk-spanduk pemilu, dan tidak bisa diabaikan begitu saja seperti lalat yang hinggap di pisang goreng. Retak ini, konon, sudah diperhitungkan sejak ribuan tahun lalu oleh para resi yang lebih pandai matematika kosmologis daripada saya.
Jika Anda bertanya apa agama saya, maka saya jawab being in Islamic process. Islam? Mana mungkin, kenapa Anda gunakan sejumlah ajarah Hindu dalam buku ini? Saya akan jawab, “Apa yang jadi masalah Anda? Baca dahulu, baru Anda timpakan vonis pada saya,” kira-kira itu jawaban saya.
Kita hidup di zaman Kali Yuga. Begitu kata mereka yang membaca kitab-kitab kuno. Saya sendiri tidak pernah membaca Surya Siddhanta secara langsung, jujur saja, bahasa Sanskerta membuat kepala saya pusing seperti habis menonton sidang paripurna Dewan Wong, tapi saya percaya pada kata orang-orang yang lebih pintar. Kata mereka, Kali Yuga dimulai pada 18 Februari 3102 Sebelum Masehi. Tanggal itu bukan sembarang tanggal. Ia adalah hari wafatnya Sri Krishna. Hari ketika sang pengendali roda dharma meninggalkan panggung dunia, dan roda itu mulai oleng.
Kata para resi, setiap Yuga dilambangkan dengan sapi. Satya Yuga: sapi berdiri dengan empat kaki, kokoh, sempurna. Treta Yuga: tiga kaki, mulai goyah. Dwapara Yuga: dua kaki, semakin limbung. Dan Kali Yuga? Sapi tanpa kaki. Nol. Kosong. Ia tidak bisa berdiri sendiri. Ia hanya bisa terguling-guling di lumpur, menunggu seseorang, siapa pun, untuk menegakkannya kembali.
Itulah zaman kita sekarang. Zaman di mana kebenaran dan kebohongan saling bertukar kostum, di mana para suhu spiritual menerima jasa santet, di mana para pemimpin lebih suka membaca buku daripada membaca keadaan, di mana rumor berubah menjadi kebenaran hanya karena diulang-ulang oleh orang-orang yang cukup keras suaranya. Zaman di mana Black Hole, baik yang harfiah maupun yang metaforis, menelan apa saja yang mencoba bersinar.
Naskah ini adalah rekaman dari zaman itu. Ia adalah catatan dari seorang saksi yang tidak penting, saya, yang kebetulan ada di tengah-tengah pusaran dan selamat untuk menceritakannya. Saya bukan pahlawan. Saya bukan filsuf. Saya hanya punakawan dengan perut buncit dan lutut yang mulai berderit. Tapi selama mulut saya masih bisa bicara, saya akan terus bercerita. Bukan karena cerita saya penting. Tapi karena diam di zaman sapi tanpa kaki adalah pengkhianatan.
Amarta, KalaCakra 12
Seta Basri
Daftar Isi
CopyLeft iii
PRAKATA iv
DAFTAR PUSTAKA vii
Belajar Membaca Yuga Hindu 1
Yuga-Yuga Selain Kali Yuga 2
Manifestasi Indikasi Pertama Kali Yuga di Indonesia, Ketika Harta Benda Menjadi Tolok Ukur Kehormatan 6
Manifestasi Indikasi Kedua Kali Yuga di Indonesia, Para Penguasa sebagai Pencuri 34
Manifestasi Indikasi Ketiga Kali Yuga di Indonesia, Hilangnya Kesucian Hubungan Pria dan Wanita 54
Manifestasi Indikasi Keempat Kali Yuga di Indonesia, Lenyapnya Kebenaran dan Kejujuran 75
Manifestasi Indikasi Kelima Kali Yuga di Indonesia, Alam yang Sakit dan Tubuh yang Ringkih 99
Manifestasi Indikasi Kali Yuga Keenam di Indonesia, Degradasi Spiritual dan Keagamaan 125
Manifestasi Indikasi Ketujuh Kali Yuga di Indonesia, Kasta Modern dan Panggilan Hidup Berdasarkan Simbol 150
Manifestasi Indikasi Kedelapan Kali Yuga di Indonesia, Gejala Alam yang Ekstrem dan Musim yang Kacau 176
Manifestasi Kesembilan Indikasi Kali Yuga di Indonesia, Makanan Kehilangan Sari dan Umur Manusia Memendek 199
Manifestasi Kesepuluh Indikasi Kali Yuga di Indonesia, Hancurnya Ikatan Keluarga dan Budaya Saling Bunuh 220
