Cover Involusi Demokrasi: Ketika Demokrasi Membeku

Involusi Demokrasi: Ketika Demokrasi Membeku

Lihat Detail

Deskripsi

Saya mulai menulis buku ini pada suatu malam di bulan Oktober 2026, setelah membaca berita tentang seorang dosen UGM yang menerima pesan ancaman hanya karena mengomentari mutasi seorang ASN. Saya duduk di depan laptop, menatap layar, dan bertanya-tanya: apa yang sedang terjadi pada negeri ini? Bukan pertanyaan retoris. Bukan pertanyaan untuk dibawa ke diskusi seminar. Pertanyaan yang benar-benar saya tidak tahu jawabannya.

Dua tahun sebelumnya, saya masih percaya bahwa demokrasi Indonesia punya masalah, tetapi masalah yang bisa diperbaiki. Saya masih percaya bahwa pemilu adalah mekanisme koreksi. Saya masih percaya bahwa parlemen adalah tempat rakyat diwakili. Saya masih percaya bahwa mahkamah adalah penjaga konstitusi. Saya masih percaya bahwa pers adalah anjing pengawas. Saya masih percaya bahwa masyarakat sipil adalah kekuatan yang bisa mengubah arah.

Saya tidak percaya itu lagi. Bukan karena saya menjadi sinis. Bukan karena saya kehilangan harapan. Tetapi karena bukti-bukti yang saya kumpulkan selama dua tahun terakhir tidak memungkinkan saya untuk percaya. Setiap kali saya menemukan satu mekanisme yang seharusnya berfungsi, saya menemukan bahwa mekanisme itu telah dibekukan. Setiap kali saya menemukan satu institusi yang seharusnya mengoreksi, saya menemukan bahwa institusi itu telah dikooptasi. Setiap kali saya menemukan satu suara yang seharusnya didengar, saya menemukan bahwa suara itu telah dibungkam.

Buku ini adalah hasil dari dua tahun pengumpulan bukti. Ia bukan buku tentang teori. Ia bukan buku tentang ideologi. Ia bukan buku tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia adalah buku tentang apa yang terjadi, tentang bagaimana sebuah republik bisa retak tanpa ambruk, tentang bagaimana demokrasi bisa mati tanpa dibunuh, tentang bagaimana kekuasaan bisa mengunci dirinya sendiri tanpa perlu kudeta.

Konsep yang saya gunakan untuk memahami semua ini adalah involusi. Kata itu berasal dari studi pertanian, Clifford Geertz menggunakannya untuk menggambarkan sawah di Jawa yang semakin rumit, semakin banyak menyerap tenaga kerja, tetapi tidak menghasilkan peningkatan produktivitas. Involusi adalah tentang intensifikasi tanpa kemajuan, tentang sistem yang berputar semakin cepat, tetapi tidak bergerak ke mana-mana.

Saya menggunakan kata itu untuk menggambarkan demokrasi Indonesia. Bukan karena demokrasi Indonesia mundur, mundur berarti bergerak ke arah yang salah. Bukan karena demokrasi Indonesia maju, maju berarti bergerak ke arah yang benar. Demokrasi Indonesia membeku. Ia berjalan di tempat. Prosedur tetap berjalan. Lembaga tetap berdiri. Pemilu tetap digelar. Tetapi tidak ada yang berubah. Tidak ada kekuasaan yang berpindah. Tidak ada ketimpangan yang berkurang. Tidak ada akuntabilitas yang ditegakkan.

Buku ini akan membawa Anda ke mana? Ia akan membawa Anda ke dalam mesin demokrasi Indonesia, bukan ke ruang kontrol, tetapi ke ruang mesin itu sendiri. Ke tempat di mana Anda bisa melihat bagaimana gigi-gigi mesin itu saling bertautan. Ke tempat di mana Anda bisa melihat bagaimana oli mengalir ke bagian-bagian yang seharusnya tidak dilumasi. Ke tempat di mana Anda bisa melihat bagaimana mesin itu berputar tanpa menghasilkan apa pun.

Bab pertama membuka dengan paradoks otokrasi elektoral, kategori yang diciptakan V-Dem Institute untuk menggambarkan negara-negara yang menyelenggarakan pemilu tetapi tidak demokratis. Indonesia masuk kategori itu pada 2025. Bukan lagi demokrasi cacat. Bukan lagi demokrasi hibrida. Otokrasi elektoral. Bab itu juga memperkenalkan kerangka involusi sebagai alternatif dari backsliding, alternatif yang, menurut saya, lebih tepat untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi.

Bab kedua menelusuri akar-akar involusi. Ia menunjukkan bahwa involusi bukanlah fenomena yang muncul tiba-tiba. Ia adalah hasil dari akumulasi faktor struktural: oligarki yang beradaptasi, desain institusi yang memfasilitasi kartelisasi, dan warisan otoritarianisme Orde Baru yang tidak pernah dibongkar. Bab ini juga menunjukkan bagaimana kekayaan Indonesia terkonsentrasi di tangan segelintir orang, dan bagaimana konsentrasi kekayaan itu menjadi fondasi dari involusi demokrasi.

Bab ketiga membahas akses yang terkunci. Ia menunjukkan bagaimana kartelisasi partai mengunci pintu bagi pendatang baru, bagi partai baru, bagi kandidat baru, bagi gagasan baru. Ia menunjukkan bagaimana biaya politik yang tinggi memastikan bahwa hanya mereka yang punya uang yang bisa ikut bertanding. Dan ia menunjukkan bagaimana dinasti politik menjadi satu-satunya jalur alternatif untuk masuk ke dalam sistem, satu-satunya cara untuk masuk ketika semua pintu lain telah ditutup.

Bab keempat membahas oligarki yang meraja. Ia menunjukkan bagaimana 50 orang terkaya Indonesia menguasai kekayaan yang setara dengan 55 juta rakyat. Ia menunjukkan bagaimana kekayaan itu berasal dari ekstraksi sumber daya alam, batu bara, kelapa sawit, nikel. Ia menunjukkan bagaimana kelas menengah menyusut 10 juta orang dalam tujuh tahun. Dan ia menunjukkan bagaimana ketimpangan melebar, bukan karena kebetulan, tetapi karena desain.

Bab kelima membahas institusi yang membeku. Ia menunjukkan bagaimana parlemen menjadi stempel karet. Bagaimana Mahkamah Konstitusi memilih untuk tidak menyelesaikan masalah. Bagaimana pers dibungkam dengan senyum. Bagaimana lembaga independen kehilangan independensinya. Bab ini adalah inti dari buku ini, karena ia menunjukkan bagaimana semua mekanisme koreksi yang seharusnya berfungsi telah berhenti berfungsi.

Bab keenam membahas korupsi yang dilembagakan. Ia menunjukkan bagaimana pejabat yang korup tidak merasa malu, tidak merasa takut, tidak merasa bersalah. Ia menunjukkan bagaimana korupsi bukan lagi penyimpangan, tetapi norma. Ia menunjukkan bagaimana indeks persepsi korupsi Indonesia jatuh ke skor 34, sejajar dengan Nepal. Dan ia menunjukkan bagaimana presiden yang berpidato tentang pemberantasan korupsi di Davos kehilangan lima pejabatnya dalam waktu kurang dari 20 bulan.

Bab ketujuh membahas ekonomi yang meredup. Ia menunjukkan bagaimana investor asing melarikan diri, penjualan bersih terbesar sejak 1996, tahun sebelum krisis moneter. Ia menunjukkan bagaimana rupiah melemah, bagaimana cadangan devisa terkuras, bagaimana lembaga pemeringkat menurunkan outlook Indonesia. Ia menunjukkan bagaimana ekonomi Indonesia tidak sedang runtuh, tetapi sedang merudup. Perlahan. Diam-diam. Satu kebijakan buruk demi satu kebijakan buruk.

Bab kedelapan adalah potret dari dua tahun yang menghancurkan segalanya. Ia menunjukkan bagaimana program MBG meracuni 50.059 orang. Ia menunjukkan bagaimana 5.000 titik dapur MBG fiktif. Ia menunjukkan bagaimana 102 yayasan terafiliasi politik mengelola dapur-dapur itu. Ia menunjukkan bagaimana kelas menengah hilang, bagaimana pekerja kehilangan pekerjaan, bagaimana demokrasi membeku. Bab ini adalah ringkasan dari semua yang salah dalam dua tahun terakhir, dan peringatan tentang apa yang akan datang.

Bab kesembilan membahas mesin pemilu yang cacat. Ia menunjukkan bagaimana Mahkamah Konstitusi memuluskan jalan Gibran menuju kursi wakil presiden. Ia menunjukkan bagaimana Bawaslu tidak bisa mengakses dokumen pencalonan. Ia menunjukkan bagaimana sistem pengawasan pemilu, sistem yang seharusnya memastikan bahwa semua calon memenuhi syarat, tidak bekerja. Bab ini adalah tentang bagaimana pemilu, yang seharusnya menjadi mekanisme koreksi, telah menjadi mekanisme untuk mempertahankan kekuasaan.

Bab kesepuluh menggunakan bor untuk membongkar semua kebusukan. Ia menunjukkan bagaimana anggaran pendidikan dijarah untuk program MBG. Ia menunjukkan bagaimana motor listrik di-mark up, bagaimana televisi 75 inci dibeli, bagaimana ompreng disisipi fee untuk brigadir jenderal. Ia menunjukkan bagaimana dana desa dipotong 60 persen untuk koperasi yang tidak berjalan. Ia menunjukkan bagaimana pikap-pikap di-mark up Rp61–69 juta per unit. Bab ini adalah tentang bagaimana uang rakyat, uang yang seharusnya digunakan untuk membangun sekolah, membayar guru, membantu rakyat miskin, digunakan untuk membiayai korupsi.

Bab kesebelas menggunakan linggis untuk membongkar rezim yang busuk. Ia menunjukkan bagaimana 470 dari 580 kursi DPR dikuasai koalisi. Ia menunjukkan bagaimana indeks persepsi korupsi jatuh ke skor 34. Ia menunjukkan bagaimana net sell asing mencapai Rp84,99 triliun, lebih besar dari krisis 2008 dan pandemi Covid-19. Ia menunjukkan bagaimana demokrasi membeku, bagaimana ekonomi meredup, bagaimana negara ini sakit.

Bab kedua belas membahas lidah yang dibungkam dan pena yang dipatahkan. Ia menunjukkan bagaimana indeks kebebasan pers Indonesia jatuh ke peringkat 129. Ia menunjukkan bagaimana 89 kasus kekerasan terhadap jurnalis terjadi sepanjang 2025. Ia menunjukkan bagaimana dosen UGM menerima ancaman hanya karena mengomentari mutasi ASN. Ia menunjukkan bagaimana RUU Penyiaran akan menjadi palu terakhir yang memaku peti mati kebebasan pers Indonesia. Bab ini adalah tentang bagaimana suara-suara yang seharusnya menjadi pengawas kekuasaan semakin tercekik.

Bab ketiga belas membahas kaum muda yang menolak. Ia menunjukkan bagaimana generasi muda, yang tidak tahu banyak tentang 1965, cenderung menolak kekerasan masa lalu. Ia menunjukkan bagaimana penolakan mereka tidak berakar pada pemahaman yang mendalam. Ia menunjukkan bagaimana penolakan itu rapuh, bisa berubah, bisa dibalik, bisa diisi dengan apa saja. Bab ini adalah tentang harapan, dan tentang kerapuhan harapan itu.

Bab keempat belas membahas skandal ijazah dan logika kekuasaan yang cacat. Ia menunjukkan bagaimana Gibran bisa menjadi wakil presiden tanpa kredensial yang jelas. Ia menunjukkan bagaimana MK mengakui pelanggaran tanpa menghentikannya. Ia menunjukkan bagaimana Prabowo memilih untuk diam. Ia menunjukkan bagaimana seluruh sistem, dari KPU hingga Bawaslu, dari DPR hingga MK, telah gagal menjalankan fungsi dasarnya. Bab ini adalah tentang bagaimana kekuasaan bisa mengunci dirinya sendiri, tanpa perlu kudeta, tanpa perlu kekerasan, tanpa perlu pelanggaran hukum yang terang-terangan.

Buku ini tidak menawarkan solusi. Saya tidak punya solusi. Saya tidak percaya bahwa solusi yang utuh itu ada, setidaknya tidak dalam kondisi saat ini. Yang saya punya adalah diagnosis. Dan diagnosis yang jujur adalah langkah pertama menuju pemulihan. Tanpa mengakui bahwa demokrasi Indonesia sedang membeku, bukan mundur, bukan backsliding, tetapi membeku, kita tidak akan pernah bisa mencari jalan keluarnya.

Saya tidak menulis buku ini sebagai orang yang netral. Tidak ada yang netral dalam menghadapi kehancuran. Saya menulisnya sebagai orang yang marah, marah karena melihat negeri yang saya cintai dijarah oleh orang-orang yang tidak pantas memegang kekuasaan. Marah karena melihat guru-guru honorer menerima Rp400 ribu per bulan sementara menteri-menteri menerima puluhan juta. Marah karena melihat anak-anak keracunan makanan yang seharusnya menyehatkan mereka. Marah karena melihat jurnalis diserang, akademisi dilaporkan ke polisi, aktivis disiram air keras. Marah karena melihat demokrasi, sesuatu yang diperjuangkan oleh generasi sebelum saya dengan darah dan air mata, dibuang begitu saja seperti sampah.

Tetapi saya juga menulis buku ini sebagai orang yang berharap. Berharap bahwa suatu hari, ketika retakan-retakan ini sudah terlalu lebar untuk diabaikan, akan ada yang bangkit. Berharap bahwa suatu hari, ketika rakyat sudah terlalu lelah untuk diam, mereka akan bersuara. Berharap bahwa suatu hari, ketika azab itu akhirnya tiba, ia tidak akan menghancurkan segalanya, tetapi akan menjadi awal dari sesuatu yang baru.

Saya tidak tahu apakah harapan itu realistis. Saya tidak tahu apakah Indonesia akan pulih, atau apakah ia akan terus retak sampai tidak ada yang tersisa. Yang saya tahu: saya harus menuliskannya. Bukan karena saya punya jawaban. Tetapi karena saya tidak mau menjadi bagian dari kehancuran itu, bagian dari mereka yang tahu, tetapi memilih untuk tidak tahu. Bagian dari mereka yang melihat, tetapi memilih untuk tidak melihat.

Buku ini adalah pilihan saya. Saya memilih untuk melihat. Saya memilih untuk mencatat. Saya memilih untuk mengingat. Dan saya memilih untuk berbagi, kepada siapa pun yang masih peduli pada negeri ini, kepada siapa pun yang masih percaya bahwa Indonesia bisa diperbaiki, kepada siapa pun yang masih mau membaca sampai halaman terakhir.

Selamat membaca. Semoga buku ini tidak menjadi prasasti. 

Lihat Detail

Tentang Produk

Loading...