Deskripsi
Gue yakin lo semua sering banget ngerasa heran, bahkan mungkin naik darah, pas lihat tingkah dua tokoh ini di berita: Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Kok bisa ya, orang kayak gitu yang pegang kuasa? Kok keputusan-keputusan mereka yang kelihatannya ngawur, egois, dan kadang sadis banget, bisa nentuin nasib jutaan orang, bahkan mengguncang dunia? Rasa penasaran dan gemas itulah yang jadi alasan utama buku ini lahir. Buku Kuasa dan Kehancuran: Tinjauan Psikopolitik Donald Trump dan Benjamin Netanyahu ini ibarat ngajak lo buat "ngerumpi" tapi pakai kacamata psikologi dan politik. Kita bakal ngulik isi kepala mereka: sebenernya ada yang 'beres' enggak sih sama jiwa dua pemimpin paling kontroversial abad ini?
Buku ini bukan kayak majalah gosip yang cuma bahas sensasi. Kita akan ngebedah karakter mereka dari akar, kayak lagi baca "riwayat penyakit" tapi versi jiwa. Bayangin aja, lo bakal diajak flashback ke masa kecil Trump: gimana pola asuh bokapnya yang otoriter dan dingin secara emosional bisa ngebentuk pribadi yang haus pujian, narsis akut, dan kayaknya selalu merasa nggak aman di dalam dirinya. Sampe akhirnya "luka" masa kecil itu kebawa ke Ruang Oval dan jadi kebijakan perang dagang. Nah, sisi Netanyahu juga nggak kalah "berisik". Lo bakal liat gimana akar ideologi Jabotinsky dari keluarganya nanem bibit ekspansionis garis keras, plus gimana ketidakpercayaan dan paranoia yang dia idap bikin dunia seolah isinya cuma musuh yang harus dihancurin, termasuk anak-anak di Gaza.
Kerennya, buku ini bukan cuma ngasih vonis "Eh, si A kena narsisisme maligna, lho!" atau "Si B tuh psikopat!". Kita bakal pake alat-alat analisis dari ahli-ahli kece kayak Kernberg yang ngomongin narsisisme ganas, atau Erik Erikson yang bahas soal krisis identitas. Semua teori yang biasanya cuma buat orang psikologi, kita "terjemahin" biar lo ngerti, "Oalah, pantesan kelakuan Trump begitu, ternyata karena egonya jadi mata uang utama dan dia nggak bisa akui salah." Atau, "Pantesan Netanyahu ngegas terus, karena ada dendam emosional dan pengin hindar dari jerat hukum." Semua kebijakan mereka yang bikin elus dada, dari pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem, 'Kesepakatan Abad Ini' yang berat sebelah, sampai yang bikin kita semua geram: dukungan penuh pada genosida di Gaza, kita buktikan sebagai ekspresi langsung dari jiwa mereka yang lagi nggak beres.
Yang bikin buku ini lain dari yang lain, kita nggak cuma berhenti di "diagnosis". Masa kita cuma bisa bilang "Wah, rusak nih orang" tanpa nyari obatnya? Di bagian akhir, kita bakal mampir ke khazanah pemikiran Islam yang adem dan bijak. Kita bakal ngobrolin Ibn Khaldun yang ngajarin bahwa kehancuran peradaban itu dimulai saat pemimpinnya kehilangan solidaritas dan rasa keadilan. Ada Al-Ghazali yang kasih peta buat bersihin "penyakit hati" yang jadi akar kezaliman politik. Dan yang paling seru, kita liat gimana Imam Ali ngasih contoh konkret: pemimpin sejati itu yang hatinya nggak bisa tidur kalau rakyatnya kelaparan, dan tangannya nggak gemeteran buat negakin keadilan, bahkan ke keluarganya sendiri. Jadi, kita nggak cuma mengkritik, tapi juga menawarkan alternatif: seharusnya kepemimpinan itu kayak gimana.
Gue ngerti, baca buku yang ngebahas genosida dan kezaliman saat realitasnya masih berdarah-darah itu berat. Tapi justru karena itulah kita nggak bisa nunggu sampai semuanya "selesai". Korban nggak punya kemewahan buat nunggu kita paham. Lewat buku ini, gue ngajak lo semua buat jadi "detektif jiwa" yang lebih kritis. Berani melongok ke jurang tergelap dari jiwa penguasa, yang ternyata dampaknya bukan cuma di layar kaca, tapi bikin bumi hangus dan darah tertumpah nyata.
Buku ini cocok buat lo yang bosen dengan analisis politik yang gitu-gitu aja, buat mahasiswa yang pengin liat teori psikologi dipakai dengan cara "liar", atau buat siapa pun yang cuma pengin ngerti, "Ada apa sih di balik muka dua orang ini?" Selamat membaca, dan semoga setelah nutup buku ini, kita semua makin keukeuh buat jadi bagian dari solusi, bukan cuma penonton yang mengelus dada.
TukangNgararang
City of Cileungsi
