Deskripsi
Esai ini lahir dari sebuah kegelisahan yang tidak mudah dijelaskan: mengapa negeri ini tampak begitu kaya, tetapi banyak warganya merasa semakin tidak memiliki apa-apa? Kegelisahan itu bukan datang dari buku-buku tebal, melainkan dari hal-hal yang kita jumpai sehari-hari. Dari berita tentang pejabat yang merangkap pengusaha, dari cerita tentang petani yang tanahnya diukur paksa untuk proyek, dari keluh kesah pengusaha kecil yang harus membayar uang pelicin agar izinnya keluar, dan dari desas-desus di ruang rapat yang tidak pernah dibuka kepada publik. Semua itu adalah potongan-potongan dari satu masalah besar: hubungan negara, pasar, dan masyarakat yang sudah lama timpang.
Patologi dalam hubungan tiga aktor besar ini bukanlah isu baru. Ia sudah dirawat oleh para pemikir sejak lama, dari Adam Smith yang curiga pada persekongkolan pedagang, Karl Polanyi yang memperingatkan bahaya melepas pasar dari masyarakat, hingga Jean-François Bayart yang menggambarkan politik perut di negara-negara pinggiran. Esai ini mencoba meneruskan kekhawatiran mereka, dengan membawa analisis itu ke Indonesia hari ini. Tujuh penyakit yang dibahas, konflik kepentingan, lobi gelap, politik gentong babi, bansos elektoral, birokratisasi berlebihan, militerisme dan intervensi militer, serta kekerasan politik, semuanya adalah gejala dari satu tubuh yang sedang tidak seimbang.
Dalam menulis, saya berusaha memakai bahasa yang manusiawi dan contoh-contoh yang dekat dengan pengalaman kita. Saya tidak ingin esai ini menjadi khotbah yang menggurui, melainkan peta kecil yang bisa membantu kita melihat jalan. Jika ada bagian yang terasa terlalu keras, mohon dipahami: kegelisahan memang sering kali berbicara dengan suara yang tidak nyaman.
Akhir kata, semoga esai ini bermanfaat bagi siapa pun yang masih percaya bahwa negara, pasar, dan masyarakat bisa berdiri seimbang, saling menjaga, dan saling menghidupkan.
