Ketika Minyak dan Air Berdialog: Aidit, Natsir, dan Saksi Bisu dari Masa Lalu

Lihat Detail

Deskripsi

Tulisan ini adalah sebuah percakapan yang tak pernah terjadi secara persis dalam satu ruang dan waktu, namun sesungguhnya telah berlangsung sengit di koran-koran, mimbar parlemen, dan bilik Konstituante. Saya mencoba menghidupkan kembali gelora pemikiran Dipa Nusantara Aidit dan Mohammad Natsir, dua kutub ideologi yang mendefinisikan Republik ini di era 1950-an. Semua kata yang mereka ucapkan dalam dialog ini, kecuali interupsi naratif, adalah kutipan langsung atau saduran setia dari pidato, artikel, buku, dan surat-surat mereka. Daftar pustaka dan catatan rujukan memungkinkan pembaca melacak kembali setiap kalimat ke sumber aslinya. Saya hanya menjadi juru tulis bagi para hantu agung itu.

Namun, di antara mereka berdua, sejarah mencatat keanehan: selalu hadir seorang tua berwajah lucu dengan bibir tebal dan mata yang setengah mengantuk namun setengah waspada. Namanya Togog. Tidak ada yang tahu pasti dari mana asalnya. Ada yang mengatakan ia adalah penasihat spiritual yang ditemukan Aidit di sebuah warung kopi di Semarang. Ada yang menduga ia adalah mantan guru mengaji Natsir yang menjadi gila setelah membaca terlalu banyak buku filsafat Barat. Yang lain lagi percaya ia hanyalah gelandangan yang kebetulan pandai bicara dan selalu muncul di saat-saat krisis.

Yang pasti, Togog selalu hadir dalam setiap perdebatan penting antara Aidit dan Natsir. Ia duduk di sudut ruangan, kadang tertawa kecil, kadang bergumam sendiri, dan sesekali melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Aidit terdiam dan Natsir berpikir ulang. Ironisnya, hanya para pelayan dan juru tulis yang dengan setia mencatat setiap kata-katanya, mungkin karena mereka menganggap Togog hanyalah hiburan di tengah ketegangan. Namun justru kata-kata Togog-lah yang kemudian menjadi ramalan yang mengerikan.

Lihat Detail

Tentang Produk

Loading...