Deskripsi
Ada semacam kelelahan intelektual ketika kita berbicara tentang Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Topik ini telah menjadi semacam genre tersendiri dalam historiografi Indonesia. Ia telah ditulis, dibahas, dan diperdebatkan dalam ratusan buku, ribuan artikel, dan tak terhitung diskusi panel, seminar, serta unggahan media sosial. Ia telah menjadi favorit di kalangan penulis Islam, aktivis politik identitas, akademisi, dan tentu saja, rezim yang berkuasa. Setiap pihak memiliki agendanya sendiri, dan setiap narasi memiliki kepentingannya sendiri.
Namun, justru karena kelimpahan itulah, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: Apakah kita benar-benar sudah memahami DI/TII? Ataukah kita hanya tenggelam dalam lautan narasi yang saling bertentangan, tanpa pernah menyentuh akar persoalannya?
Buku ini lahir dari kegelisahan intelektual tersebut. Ia bukan sekadar menambah satu lagi daftar panjang tulisan tentang DI/TII. Ia adalah upaya untuk membaca ulang sebuah fenomena yang telah lama terkubur di bawah lapisan-lapisan mitos, propaganda, dan romantisme. Ia adalah ajakan untuk melihat DI/TII bukan sebagai monolit, bukan sebagai “pemberontakan agama” yang sederhana, melainkan sebagai cermin retak dari Revolusi Indonesia yang belum selesai.
Ada tiga pilar utama yang membedakan tulisan ini dari aneka tulisan yang telah beredar luas, terutama di kalangan penulis Islam dan pendukung politik identitas Islam:
1. Melampaui Romantisme dan Apologetika
Banyak tulisan tentang DI/TII, terutama yang ditulis oleh kalangan Islamis, cenderung terjebak dalam romantisme sejarah. Mereka menggambarkan Kartosoewirjo, Daud Beureueh, Kahar Muzakkar, dan Ibnu Hadjar sebagai pahlawan-pahlawan yang murni, sebagai pejuang Islam yang gagah berani melawan kezaliman negara sekuler. Narasi ini seringkali apologetik: setiap tindakan kekerasan dibenarkan, setiap kekalahan dikemas sebagai pengorbanan heroik, dan setiap kritik dianggap sebagai serangan terhadap Islam.
Tulisan ini menolak romantisme tersebut. Kami tidak akan menggambarkan para pemimpin DI/TII sebagai orang suci tanpa cela, maupun sebagai iblis tanpa alasan. Mereka adalah manusia, manusia yang terluka, kecewa, dan merasa dikhianati oleh negara yang mereka perjuangkan. Mereka adalah produk dari Revolusi Indonesia, dengan segala kontradiksi dan luka batinnya. Kami akan menyoroti kelemahan, kesalahan, dan bahkan sisi gelap dari gerakan ini, tanpa mengurangi empati terhadap akar kekecewaan mereka.
2. Mengungkap Dimensi Dukungan Asing yang Tabu
Inilah kebaruan paling radikal dari tulisan ini. Selama puluhan tahun, narasi resmi, baik versi Orde Baru maupun versi Islamis, sama-sama bungkam tentang satu fakta yang sangat penting: bahwa DI/TII, terutama di Jawa Barat, memiliki hubungan rahasia dengan Belanda dan kekuatan asing lainnya.
Ini adalah topik yang sangat sensitif. Bagi Orde Baru, mengungkap fakta ini akan merusak narasi bahwa DI/TII adalah “pengkhianat bangsa” yang murni didalangi oleh ambisi agama. Bagi kalangan Islamis, mengungkap fakta ini akan merusak citra DI/TII sebagai gerakan anti-penjajahan yang murni. Kedua pihak memiliki kepentingan untuk menutupi kebenaran ini.
Namun, dokumen-dokumen yang telah dideklasifikasi, laporan intelijen Belanda, kawat diplomatik Amerika Serikat, surat-surat pribadi para pelaku, menunjukkan bahwa hubungan ini nyata. Ada pertemuan antara Kartosoewirjo dengan Westerling. Ada pasokan senjata dari NEFIS. Ada uang palsu yang dicetak untuk mendanai gerakan. Ini bukan teori konspirasi; ini adalah sejarah yang terdokumentasi, namun sengaja dilupakan.
Tulisan ini akan mengungkap dimensi ini secara jujur dan berbasis bukti. Kami tidak akan menyajikannya sebagai tuduhan kosong, melainkan sebagai temuan yang didukung oleh sumber-sumber primer. Ini penting bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami kompleksitas dan kontradiksi dari gerakan DI/TII.
3. Menghadirkan Aktor Intelektual dan Jaringan di Balik Layar
Selama ini, DI/TII sering direduksi menjadi kisah tentang pemimpin karismatik. Kartosoewirjo, Daud Beureueh, Kahar Muzakkar, mereka adalah nama-nama yang selalu disebut. Namun, di balik mereka, ada jaringan intelektual dan ideologis yang lebih luas. Ada para ulama, guru pesantren, perwira militer, dan politisi yang merancang konsep NII, yang menyusun strategi, dan yang memobilisasi dukungan.
Tulisan ini akan menyoroti peran aktor-aktor intelektual yang sering terlupakan. Kami akan menelusuri bagaimana ide-ide NII dirumuskan, bagaimana jaringan pesantren dimobilisasi, dan bagaimana strategi politik dan militer dirancang. Kami akan melihat DI/TII bukan sebagai gerakan spontan, melainkan sebagai proyek politik yang direncanakan dengan cermat.
Pertanyaan yang wajar muncul adalah: Mengapa kita perlu repot-repot membaca ulang DI/TII? Bukankah ini sudah menjadi masa lalu yang selesai?
Jawabannya adalah: Tidak, ini belum selesai.
DI/TII bukanlah sekadar peristiwa sejarah yang telah berlalu. Ia adalah luka yang belum sembuh dalam tubuh bangsa Indonesia. Ia adalah cermin dari bagaimana negara ini dibangun, dengan mengorbankan banyak pihak, dengan mengabaikan banyak aspirasi, dan dengan menutupi banyak kebenaran. Memahami DI/TII secara jujur dan kritis berarti memahami kontradiksi-kontradiksi yang masih hidup hingga hari ini: ketegangan antara pusat dan daerah, antara nasionalisme sekuler dan Islamisme, antara janji kemerdekaan dan realitas kekecewaan.
Lebih dari itu, mengungkap dimensi dukungan asing dalam DI/TII penting untuk memahami kerentanan integrasi nasional. Ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap keutuhan negara tidak selalu datang dari dalam, tetapi juga dari permainan kekuatan global yang memanfaatkan konflik internal untuk kepentingan mereka sendiri. Ini adalah pelajaran yang tetap relevan hingga hari ini.
Tulisan ini bukanlah pembelaan terhadap DI/TII. Kami tidak berusaha membenarkan kekerasan, apalagi tindakan teror yang dilakukan oleh sebagian elemen gerakan ini. Kami juga tidak berusaha menghakimi mereka yang telah lama mati. Kami hanya berusaha memahami, dengan segala kerumitannya.
Tulisan ini juga bukan serangan terhadap Islam atau umat Islam. Kami tidak akan terjebak dalam narasi Islamofobia yang menggambarkan DI/TII sebagai bukti bahwa Islam tidak kompatibel dengan demokrasi. Kami justru akan menunjukkan bahwa DI/TII adalah fenomena historis yang spesifik, produk dari konteks sosial, politik, dan ekonomi tertentu, bukan dari esensi agama itu sendiri.
Kami mengundang pembaca untuk membuka pikiran, meninggalkan prasangka, dan bersama-sama menyelami sebuah babak sejarah yang kelam namun penting. Mari kita baca ulang DI/TII, bukan untuk mencari kambing hitam atau pahlawan, tetapi untuk memahami diri kita sendiri sebagai bangsa.
Selamat membaca.
