Deskripsi
Buku yang Anda pegang ini saya beri judul Mang Ujang, Marx, dan Kuburan Para Aristokrat: Sebuah Pengadilan Teori Elit di Langit Kahyangan berawal dari satu pertanyaan sederhana yang, setelah ditelusuri, ternyata tidak sederhana sama sekali: Apakah "Teori Elitisme" benar-benar sebuah teori?
Pertanyaan ini mungkin terdengar teknis dan hanya relevan bagi para akademisi. Namun, implikasinya jauh lebih luas. Setiap kali kita berbicara tentang "elit politik", "elit ekonomi", "elit oligarki", atau "kekuasaan segelintir orang", kita sebenarnya sedang menggunakan kerangka berpikir yang diwariskan oleh para pemikir tertentu. Masalahnya, sebagaimana akan dibuktikan dalam buku ini, para pemikir yang dianggap sebagai pelopor "Teori Elitisme" ternyata tidak memiliki kesepakatan tentang apa yang mereka maksud dengan "elit". Mereka menggunakan kata yang sama, tetapi menunjuk pada realitas yang berbeda-beda.
Kegelisahan ini pertama kali saya temukan dalam buku Concepts and Theories of Modern Democracy karya Anthony Harold Birch. Dalam edisi keduanya (2001), Birch secara spesifik membahas masalah ini di halaman 177 hingga 212. Ia menunjukkan bahwa empat tokoh yang selama ini digolongkan sebagai "teoretisi elit klasik", Vilfredo Pareto, Gaetano Mosca, Robert Michels, dan C. Wright Mills, ternyata "do not share a common conception of the object they are studying" (Birch 177). Mereka tidak memiliki ontologi bersama. Pareto mendefinisikan elit berdasarkan atribut psikologis individu (yang ia sebut "residu"), Mosca mendefinisikannya berdasarkan kapasitas organisasi minoritas, Michels mendefinisikannya sebagai produk dari hukum besi oligarki dalam organisasi, dan Mills mendefinisikannya berdasarkan posisi komando dalam hierarki institusional nasional. Empat definisi, empat ontologi, empat objek studi yang berbeda. Lalu, Birch membuat perbandingan yang provokatif: justru Karl Marx, dengan konsepnya tentang kelas borjuis sebagai kelas penguasa alat produksi, memiliki ontologi yang jauh lebih jelas dan koheren.
Di sinilah letak masalahnya. Jika para pendiri "Teori Elitisme" sendiri tidak sepakat tentang apa yang mereka teliti, dalam arti apa kita bisa menyebutnya sebagai satu teori? Bukankah lebih jujur untuk mengatakan bahwa ada beberapa teori yang berbeda, yang kebetulan menggunakan kata "elit" yang sama?
Pertanyaan ini membawa saya pada Thomas Kuhn, filsuf ilmu pengetahuan yang terkenal dengan bukunya The Structure of Scientific Revolutions (1962). Kuhn memperkenalkan konsep "paradigma" sebagai kerangka teoretis dan ontologis yang disepakati bersama oleh komunitas ilmuwan. Ilmu pengetahuan yang matang, menurut Kuhn, adalah ilmu yang sudah memiliki paradigma bersama. Jika sebuah bidang studi masih diwarnai oleh pertarungan antar-mazhab yang tidak bisa disatukan karena perbedaan ontologi yang mendasar, maka bidang itu masih berada dalam tahap "pra-paradigmatik." Inilah yang saya duga terjadi pada studi tentang elit.
Untuk menguji dugaan ini, saya tidak ingin menulis makalah akademik yang hanya dibaca oleh segelintir orang. Saya ingin membawa perdebatan ini ke ruang yang lebih luas, ke ruang di mana ia bisa diuji dengan realitas yang paling sederhana sekalipun. Maka, saya memilih format dialog imajiner.
Dalam buku ini, saya mengundang Anda ke sebuah pengadilan di Kahyangan. Eyang Manikmaya, Raja Para Dewa dalam kosmologi Jawa, bertindak sebagai hakim agung yang telah membaca semua teks dan kini menginginkan kejelasan. Ia menugaskan Togog, panakawan yang bijak dalam kebodohannya, untuk menjemput arwah enam pemikir, Birch, Pareto, Mosca, Michels, Mills, dan Marx, serta menghadirkan Thomas Kuhn sebagai penasihat ahli. Tugas Togog bukan sekadar memandu debat, melainkan "membumikan" semua abstraksi itu dengan contoh-contoh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia: Mang Ujang si tukang cilok, Mang Dodo si mandor bangunan, dan Profesor Budi si guru besar. Dengan cara inilah teori diuji: jika sebuah teori tidak bisa menjelaskan realitas sederhana, apa gunanya ia disebut teori?
Buku ini disusun dalam empat bagian utama. Bagian pertama memperkenalkan secara rinci siapa para tokoh yang akan berdebat, lengkap dengan latar belakang intelektual dan konsep-konsep kunci mereka. Bagian kedua menyajikan gugatan Birch dan tanggapan pertama dari Pareto, Mosca, Michels, Mills, dan Marx, dengan menggunakan Mang Ujang sebagai batu ujian. Bagian ketiga menghadirkan diagnosis Thomas Kuhn, yang membedah perdebatan dengan konsep paradigma dan inkomensurabilitas, serta mengujinya dengan kasus Mang Dodo. Bagian keempat adalah ujian refleksivitas, di mana setiap pemikir diminta untuk menempatkan diri mereka sendiri dalam kerangka teori masing-masing, sebuah ujian konsistensi yang seringkali justru mengungkap titik buta. Buku ini ditutup dengan Epilog, Lampiran Analitis yang memetakan perbedaan ontologis secara sistematis, dan Catatan Kaki Rinci yang merujuk langsung pada karya-karya asli para pemikir.
Tujuan buku ini bukanlah untuk memenangkan satu teori atas teori lainnya. Bukan pula untuk mengatakan bahwa semua teori itu salah. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa "Teori Elitisme" yang sering kita anggap sebagai satu bangunan yang kokoh sebenarnya adalah medan pertarungan ontologis yang belum selesai. Dengan memahami hal ini, kita bisa menjadi pembaca yang lebih kritis, peneliti yang lebih hati-hati, dan warga negara yang lebih waspada terhadap klaim-klaim tentang "elit" yang berseliweran di ruang publik.
Buku ini adalah undangan untuk berpikir. Ia tidak mensyaratkan latar belakang akademik tertentu. Ia hanya mensyaratkan satu hal: kesediaan untuk mempertanyakan apa yang selama ini kita anggap sudah jelas. Semoga perjalanan intelektual di Pendapa Kahyangan ini membawa pencerahan, atau setidaknya, senyuman.
Daftar Isi
Imprint ii
CopyRight iii
Prakata iv
Daftar Isi viii
Dramatis Personae - Siapa Mereka yang Akan Berdebat?
1 - Anthony Harold Birch (1924–2014) Sang Jaksa dari Inggris
2 - Vilfredo Pareto (1848–1923) Sang Insinyur Psikologi Kekuasaan
3 - Gaetano Mosca (1858–1941) Sang Ahli Organisasi Kekuasaan
4 - Robert Michels (1876–1936) Sang Penemu Hukum Besi
5 - Charles Wright Mills (1916–1962) Sang Ahli Anatomi Kekuasaan Amerika
6 - Karl Marx (1818–1883) Sang Revolusioner Klasik
7 - Thomas Samuel Kuhn (1922–1996) Sang Filsuf Revolusi Ilmu
8 - Eyang Manikmaya (Batara Guru) Sang Hakim Agung dari Kahyangan
9 - Togog Sang Moderator yang Membumi
Bagian II Debat Dimulai, Gugatan Birch dan Jawaban Pertama
Bagian III Diagnosis Thomas Kuhn, Paradigma, Anomali, dan Mang Dodo Sang Tukang Bangunan
Bagian IV Ujian Refleksivitas, Para Pemikir Membedah Diri Sendiri
EPILOG: DI LUAR TEORI, DI BAWAH LANGIT KAHYANGAN
Perbandingan Ontologi dan Metodologi
Mang Ujang, Mang Dodo, dan Profesor Budi
Bagaimana Teoretisi Menempatkan Diri Mereka Sendiri
Peta Konseptual Inkomensurabilitas dalam Studi Elit
CATATAN KAKI RINCI
Bagian II: Debat Dimulai, Gugatan Birch dan Jawaban Pertama
Bagian III: Diagnosis Thomas Kuhn
Bagian IV: Ujian Refleksivitas
Catatan Umum tentang Sumber
Sinopsis
