Memahami Kebatinan Sunda, Laku Spiritual yang Dibungkam Sejarah dan Stigma Politik

Lihat Detail

Deskripsi

Prakata

Miang, Miangkeun, Ngahiang: Sebuah Catatan Perjalanan Pulang

Ada tiga kata dalam kosmologi Sunda kuno yang terus menggema di benak saya sepanjang menyusun risalah ringkas ini: Miang, Miangkeun, Ngahiang. Secara harfiah, ia berarti pergi, melepaskan, dan menghilang. Secara spiritual, ini adalah derajat tertinggi perjalanan manusia: berangkat dari diri, melepaskan segala kemelekatan duniawi, dan kembali menyatu ke dalam keheningan Ilahi, Hyang, Sang Pencipta yang tak tersekat oleh nama dan kitab.

Buku ini adalah sebuah usaha untuk tidak membiarkan para pelaku ngahiang itu benar-benar menghilang dari ingatan republik ini.

Izinkan saya memulai dengan sebuah pengakuan yang jujur. Saya menulis risalah ini bukan dari menara gading akademis yang steril, melainkan dari sebuah kegelisahan yang telah lama membatu di dada. Kegelisahan melihat saudara-saudara saya di Tatar Sunda, para sesepuh, petani, dan perawat api luhur karuhun, yang harus menunduk malu ketika ditanya apa agamanya. Kegelisahan menyaksikan sebuah laku spiritual adiluhung harus bersembunyi di balik jubah agama-agama formal demi sekadar bertahan hidup.

Buku ini lahir dari kritisisme yang saya coba jinakkan menjadi tulisan, dan dari haru yang saya coba alirkan menjadi narasi.

Kita, sebagai bangsa yang bermartabat, seringkali lupa bahwa jauh sebelum agama-agama besar dunia datang ke Nusantara, para leluhur kita telah memiliki sistem keyakinan yang matang. Mereka telah bertuhan, telah beradab, telah memiliki konsep kosmologis yang luhur tentang hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta. Di Tatar Sunda, keyakinan itu menjelma dalam apa yang sering kita sebut sebagai Kebatinan Sunda, Sunda Wiwitan, atau Agama Djawa Sunda. Ia bukanlah sekadar "animisme-dinamisme" primitif seperti yang didiktekan buku-buku pelajaran kolonial. Ia adalah filsafat hidup, jalan keselamatan, dan ilmu kemanusiaan yang sangat universal.

Namun, apa yang terjadi kemudian adalah sebuah tragedi pembungkaman yang berlapis. Sejarah politik telah begitu bengis menciptakan stigma yang mematikan. Ketika iman dijadikan senjata politik oleh gerakan-gerakan formalis, dan ketika ketakutan akan komunisme dijadikan hantu untuk menghancurkan apa pun yang berbeda, para penghayat berada di posisi paling rentan. Label "kafir", "komunis", dan "ateis" disematkan begitu saja oleh mereka yang tidak sudi memahami, atau oleh negara yang gagal melindungi. Akibatnya, sebuah peradaban spiritual yang gemah ripah perlahan-lahan digerogoti, dikucilkan, dan dipaksa ngahiang sebelum waktunya.

Melalui buku ini, saya tidak sedang berusaha membandingkan atau mempertentangkan Kebatinan dengan agama-agama yang kini menjadi arus utama. Sama sekali bukan. Saya hanya ingin mengajak Anda, pembaca yang berakal dan berhati, untuk duduk sejenak di lembah sunyi itu. Mendengarkan bisikan doa dalam bahasa Sunda yang halus. Memahami bahwa sembah bakti tidak melulu harus diteriakkan di pengeras suara, tetapi bisa hadir dalam diam yang paling dalam.

Ini adalah risalah pembelaan. Sebuah pembelaan bagi hak konstitusional dan hak kemanusiaan para penghayat. Sebuah pembelaan bagi akal sehat kita yang selama ini mungkin telah dibius oleh stigma-stigma politik usang. Lebih dari itu, ini adalah ajakan untuk memperkaya kembali definisi kita tentang "beradab", bahwa Indonesia yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sejatinya adalah rumah yang cukup besar, cukup hangat, dan cukup teduh bagi semua jalan spiritual menuju Tuhan yang Satu.

Saya menulis ini pada Musim Panas, di bawah naungan energi Kuda Api, dengan sebuah harapan: semoga api kecil dari tulisan ini bisa ikut menerangi lorong gelap sejarah yang telah menelan begitu banyak korban. Semoga tidak ada lagi warga negara yang harus menangis dalam diam, hanya karena caranya mencintai Tuhan berbeda dari cara kebanyakan.

Akhirnya, kepada para pembaca yang budiman, saya haturkan Pun sapun, permohonan maaf yang tulus jika dalam risalah ringkas ini terdapat banyak kekurangan. Izinkan saya mengutip kearifan luhur para karuhun: ulah ngaliarkeun taleus ateul, ulah nyaliksik bulu bitis (jangan menyebarkan perkara yang akan mengakibatkan kegatalan, jangan pula mencari-cari kesalahan yang tidak perlu). Mari kita ambil inti sarinya: bahwa kemanusiaan yang beradab hanya mungkin terwujud ketika kita berhenti menghakimi dan mulai merangkul.

Selamat menyelami dunia batin yang nyaris sirna. Selamat mendengarkan kembali suara dari gua yang digelapkan. Panyileukan, Bandung, Mugi rahayu sagung dumadi (Semoga keselamatan dan kesejahteraan terlimpah ke seluruh alam semesta.)

Dr. (knh) Seta Basri

City of Cileungsi 

Daftar Isi

Imprint

CopyRight

Prakata

Daftar Isi

Mukadimah, Suara dari Gua yang Digelapkan

Bab 1 Tatar Sunda, Islam Formal, dan Bayang-Bayang Kartosuwiryo

Luka Sejarah, Ketika Iman Dijadikan Senjata Politik

Trauma Berlanjut, Pembersihan 1965-1966

Bab 2 Ajaran Inti, Memahami Spiritualitas Lembur dan Laku Kesundaan

Teologi, Nu Ngersakeun, Gusti Sikang Sakawasa

Kosmologi, Tri Tangtu Buana (Tiga Pilar Dunia)

Konsep Diri, Panca Paraji dan Susuk Diri

Bab 3 Laku Spiritual, Teknik Olah Batin Warisan Karuhun Sunda

Tapa, Samadi, dan Ngukus

Etika Pergaulan, Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh

Pamali, Etika Lingkungan yang Disakralkan

Bab 4 Studi Kasus, Melihat dari Dekat Komunitas yang Bertahan

Kasepuhan Ciptagelar, Bertahan dengan Padi dan Doa

Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Situs Perjuangan yang Terluka

Bab 5 Analogi Besar, Gunung, Hutan, dan Sungai Bukan Sembahan, Tapi Kitab Suci

Kitab Suci yang Hijau, Alam sebagai Ayat

Puasa dalam Bentuk Lain, Ngeureut Napek

Bab 6 Bantahan terhadap Stigma “Komunis”

Apakah Penghayat Sunda Ateis? Sama Sekali Tidak.

Apakah Mereka Komunis? Justru Mereka Adalah Nasionalis Kultural.

Bab 7 Dasar Konstitusi dan Kemanusiaan

Bab 8 Suara Para Bijak, Dari Ulama Hingga Filsuf

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, Islam Nusantara sebagai Perisai

Azyumardi Azra, Sejarah dan Pluralisme

Bab 9 Penutup, Memulihkan Harga Diri, Merajut Kembali Persaudaraan

Sinopsis

Memahami Kebatinan Sunda adalah risalah kemanusiaan yang mengangkat kembali suara para penghayat Kepercayaan di Tatar Sunda, sebuah laku spiritual luhur yang selama puluhan tahun dibungkam oleh sejarah dan stigma politik. Seta Basri menulis dengan perpaduan amarah yang tertahan dan haru yang mendalam, membela saudara-saudara sebangsanya yang kerap dicap “kafir”, “komunis”, dan “ateis”, padahal mereka menyembah Tuhan yang sama, hanya dengan jalan yang berbeda.

Buku ini menelusuri akar marjinalisasi brutal itu: dari pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kartosuwiryo yang meneror dan mengislamkan paksa desa-desa di Jawa Barat, hingga pembersihan massal 1965–1966 yang menjadikan “tidak beragama formal” sama artinya dengan “musuh negara”. Dalam pusaran itu, komunitas seperti Sunda Wiwitan Cigugur di bawah Pangeran Djatikusuma terpaksa menyembunyikan identitas spiritual mereka, bahkan berpura-pura memeluk agama lain, demi bertahan hidup.

Melalui studi kasus, rujukan sejarah, dan pembacaan ajaran para karuhun, Basri menunjukkan bahwa Kebatinan Sunda sesungguhnya menyimpan nilai-nilai universal yang sangat selaras dengan esensi semua agama: keheningan, keselarasan dengan alam, dan penghormatan terhadap sesama. Lebih dari sekadar pembelaan, buku ini adalah ajakan untuk berhenti menghakimi, memulihkan ingatan yang terluka, dan membuktikan bahwa Indonesia yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa cukup luas untuk merangkul semua jalan menuju Sang Hyang Maha Suci. </sb>

Lihat Detail

Tentang Produk

Loading...