Deskripsi
SINOPSIS
Negara sebagai Bisnis Sampingan
Apa yang terjadi ketika negara diubah menjadi perusahaan, dan rakyatnya menjadi karyawan yang tidak pernah menerima gaji?
Buku ini adalah jawabannya. Dan jawabannya tidak nyaman.
Selama lebih dari dua dekade, kita diajarkan bahwa reformasi 1998 telah mengubah Indonesia. Dwi Fungsi ABRI dicabut. Polri dipisahkan dari TNI. Kursi militer di parlemen dihapuskan. Undang-undang melarang prajurit berbisnis dan berpolitik praktis. Kita diajarkan bahwa militer telah kembali ke barak, bahwa supremasi sipil telah ditegakkan, bahwa demokrasi telah menang.
Buku ini membongkar kebohongan itu.
Dengan menggunakan data yang bisa diverifikasi, dokumen resmi, laporan HAM, dan kesaksian dari mereka yang pernah merasakan tongkat rotan di tangan dan kaki, buku ini menunjukkan bahwa racket yang dibangun selama 32 tahun Orde Baru tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti kulit. Dwi Fungsi menjadi "Total Defence". Kekaryaan menjadi "penempatan prajurit aktif di kementerian". Struktur teritorial menjadi "pendekatan kewilayahan". Bisnis militer menjadi "koperasi kesejahteraan". Dan impunitas, impunitas tetap impunitas, dengan nama yang sama, wajah yang sama, dan dosa yang sama.
Ini bukan buku tentang doktrin. Ini buku tentang uang.
Tesis utamanya sederhana tetapi mengerikan: negara di Indonesia, bagi banyak elitnya, bukanlah sumber penghasilan utama. Negara adalah bisnis sampingan. Gaji mereka kecil. Tetapi akses mereka terhadap kekuasaan, untuk mengatur, untuk mengizinkan, untuk melindungi, untuk menakut-nakuti, sangat besar. Dan akses itu, dalam sistem yang tidak transparan dan tidak akuntabel, bisa dikonversi menjadi uang. Banyak uang.
Dari Cendana hingga Defend ID, dari Freeport hingga proyek makan bergizi gratis, dari yayasan militer hingga judi online, buku ini menelusuri bagaimana segitiga racket, militer, politisi sipil, dan oligarki, bekerja sama untuk mengendalikan negara dan menguras kekayaannya. Mereka duduk di meja yang sama. Mereka berbagi kue yang sama. Mereka menjaga satu sama lain agar tetap aman. Rakyat? Rakyat adalah kue itu.
Apa yang akan Anda temukan di dalam buku ini:
Sejarah yang tidak pernah diceritakan, Bagaimana "Jalan Tengah" Nasution pada 1958, yang dimaksudkan sebagai kompromi, berubah menjadi monster yang menghancurkan republik. Bagaimana Soeharto membangun imperium bisnis keluarganya di atas darah dan air mata rakyat.
Darah yang tidak pernah kering, Trisakti. Semanggi. Tanjung Priok. Wasior. Paniai. Tembagapura. Nama-nama yang tidak pernah mendapatkan keadilan, dan para pelaku yang masih berkuasa.
Racket yang berganti kulit, Bagaimana bisnis militer bertahan meskipun sudah dilarang, dari yayasan ke koperasi, dari koperasi ke jasa pengamanan ilegal, dari jasa pengamanan ke tambang, dari tambang ke narkoba, dari narkoba ke judi online.
Kemunduran yang tidak disadari, Bagaimana Jokowi, yang disebut "presiden sipil", justru menjadi fasilitator kembalinya militer ke ranah sipil. Bagaimana Prabowo, seorang jenderal purnawirawan yang pernah dituduh terlibat pelanggaran HAM, menjadi presiden, dan membangun "Dwi Fungsi Baru" yang lebih halus, lebih legal, dan lebih sulit dibongkar.
Papua yang tidak pernah selesai, Koloni ekonomi yang terus diperah Freeport, militer, dan politisi Jakarta. Narasi "proxy war" yang digunakan untuk membenarkan kehadiran militer permanen. Dan puluhan korban sipil yang tidak pernah mendapatkan keadilan.
Panggilan untuk bertindak, Neraca reformasi. Dua skenario masa depan. Sepuluh rekomendasi kebijakan. Dan pesan untuk mereka yang masih punya marah.
Ini bukan buku yang nyaman.
Buku ini tidak akan membuat Anda merasa baik. Ia tidak akan membuat Anda percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak akan membuat Anda tidur nyenyak di malam hari.
Tetapi buku ini akan membuat Anda melihat. Melihat apa yang selama ini disembunyikan. Melihat apa yang selama ini dibungkus dengan kata-kata mulia. Melihat apa yang selama ini kita biarkan terjadi, karena kita sibuk, karena kita takut, karena kita tidak peduli.
Dan mungkin, hanya mungkin, buku ini akan membuat Anda marah. Marah pada ketidakadilan. Marah pada impunitas. Marah pada kekuasaan yang sewenang-wenang. Marah pada sistem yang memperkaya segelintir orang sementara jutaan lainnya hidup dalam kemiskinan.
Marah itu suci. Jangan biarkan siapa pun mengambilnya dari Anda.
Untuk siapa buku ini ditulis?
Untuk mahasiswa yang ingin memahami Indonesia, bukan versi yang diajarkan di sekolah, tetapi versi yang sebenarnya. Untuk akademisi yang lelah dengan analisis yang dingin dan netral, dan merindukan analisis yang tajam dan berpihak. Untuk jurnalis yang masih percaya bahwa kata-kata bisa mengubah dunia. Untuk aktivis yang tidak pernah berhenti melawan. Dan untuk setiap warga negara yang pernah bertanya: "Mengapa negara ini begitu rusak?"
Buku ini tidak akan memberi Anda jawaban yang mudah. Tetapi ia akan memberi Anda pertanyaan yang lebih baik. Dan pertanyaan yang lebih baik adalah langkah pertama menuju perubahan.
"Negara ini telah diubah menjadi perusahaan, dan rakyatnya menjadi karyawan yang tidak pernah menerima gaji." "Selama kita masih mengingat, selama itu pula mereka yang berkorban tidak akan pernah benar-benar mati."
DAFTAR ISI
PRAKATA iii
Mengapa Buku Ini Tidak Netral iv
Tesis, Negara sebagai Bisnis Sampingan v
Tiga Teoretikus, Satu Pertanyaan vii
Untuk Siapa Buku Ini Ditulis? ix
Satu Hal Terakhir x
GLOSARIUM xi
DAFTAR ISI xliii
BAB 1 Gaji Kecil, Bisnis Besar, Negara sebagai Sampingan 1
Mengapa Buku Ini Tidak Netral 2
Tesis, Negara sebagai Bisnis Sampingan 3
Tiga Teoretikus, Satu Pertanyaan 5
Huntington, Profesionalisme sebagai Alibi 5
Finer, Mood, Opportunity, dan Rasa Lapar 6
Stepan, Prerogatif yang Tidak Pernah Dilepas 8
Segitiga Racket, Militer, Politisi, Oligarki 9
Mengapa Rakyat Diam? 11
Metode dan Sumber 12
Satu Hal Terakhir 14
Daftar Pustaka dengan Komentar 15
A. Teori Klasik Hubungan Sipil-Militer 16
B. Studi Militer Indonesia 19
C. Demokrasi dan Transisi 23
D. Ekonomi-Politik Pertahanan 25
E. Sumber Kontemporer 26
Catatan Penutup 28
BAB 2 Jalan Tengah yang Membengkok, Kompromi yang Melahirkan Monster 30
Tentara yang Lahir dari Rakyat 31
Kegagalan Sipil dan Godaan Politik 33
Pidato Magelang, Kompromi yang Membengkok 35
Legalisasi Bertahap, Dari Pidato ke Undang-Undang 38
Soeharto, Dari Jalan Tengah ke Jalan Tol 40
Mengapa "Jalan Tengah" adalah Pintu Masuk, Bukan Jalan Tengah 42
Refleksi, Kompromi dan Tanggung Jawab 44
Daftar Pustaka dengan Komentar 45
Sumber Utama 46
Sumber Pendukung 48
Sumber Primer dan Dokumenter 51
Catatan Penutup 53
BAB 3 Tiga Pilar Racket, Dwi Fungsi, Teritorial, Bisnis 54
Pilar Pertama, Dwi Fungsi sebagai Ideologi Negara 55
Landasan Yuridis-Konstitusional 57
Mekanisme Operasional "Kekaryaan" 58
Dominasi di Lembaga Legislatif 59
Pilar Kedua, Struktur Teritorial sebagai Tulang Punggung 60
Hierarki Komando Teritorial 60
Fungsi Ganda Struktur Teritorial 62
Pilar Ketiga, Jaringan Bisnis sebagai Urat Nadi 64
Asal-Usul Bisnis Militer 64
Bentuk-Bentuk Bisnis Militer 65
Logika Ekonomi-Politik 68
Fenomena "Negara dalam Negara" 69
Tiga Pilar, Satu Tubuh 70
Refleksi, Tiga Pilar dan Dosa yang Tidak Diakui 73
Daftar Pustaka dengan Komentar 74
A. Sumber Utama tentang Bisnis Militer 75
B. Sumber tentang Struktur Teritorial 77
C. Sumber tentang Dwi Fungsi 78
D. Sumber tentang Bisnis Militer dalam Konteks Kontemporer 79
E. Sumber Teoretis Pendukung 80
Catatan Penutup 82
BAB 4 Cendana Inc., Keluarga, Kroni, dan Bisnis Utama Rezim 84
Peta Imperium Cendana 85
Enam Anak, Enam Kerajaan 86
Kroni-Kroni Utama 88
Militer sebagai Penjamin Kontrak 90
Skala Ekonomi Cendana 91
Bagaimana Imperium Ini Beroperasi 93
Monopoli dan Konsesi 93
Krisis 1997 dan Keruntuhan Imperium 97
Refleksi, Dosa yang Tidak Diakui 99
Daftar Pustaka dengan Komentar 101
A. Sumber Utama tentang Imperium Cendana 102
B. Sumber tentang Kroni-Kroni Soeharto 104
C. Sumber tentang Korupsi dan Ekonomi Politik 105
D. Sumber tentang Krisis 1997–1998 106
E. Sumber Kontemporer 107
Catatan Penutup 108
BAB 5 1998, Ketika Racket Bangkrut dan Darah Mengalir 109
Krisis Moneter 1997, Pukulan Telak 110
Bantuan IMF dan Syarat-Syarat Memalukan 114
Gelombang Demonstrasi Mahasiswa 116
Tragedi Trisakti, 12 Mei 1998 118
Kerusuhan 13–15 Mei 1998, Neraka di Jakarta 120
Dugaan Keterlibatan Faksi Militer 122
Penculikan Aktivis, Teror yang Terorganisir 124
Wiranto vs Prabowo, Perpecahan yang Menyelamatkan Reformasi 125
Pendudukan Gedung DPR/MPR dan Pengunduran Diri Soeharto 127
Refleksi, Darah yang Tidak Pernah Kering 131
Daftar Pustaka dengan Komentar 134
A. Sumber Utama tentang Krisis 1998 134
B. Sumber tentang Tragedi Trisakti dan Kerusuhan Mei 136
C. Sumber tentang Penculikan Aktivis 137
D. Sumber tentang Rivalitas Wiranto-Prabowo 138
E. Sumber tentang Pengunduran Diri Soeharto 139
Catatan Penutup 140
BAB 6 Pakta Kotor, Reformasi yang Dinegosiasikan di Balik Meja 141
Habibie, Presiden yang Tidak Diinginkan 143
Wiranto, Jenderal yang Menentukan Segalanya 145
Pemisahan Polri dari ABRI, Reformasi yang Paling Monumental 146
Pencabutan Doktrin "Musuh Internal", Paradigma Baru yang Tidak Pernah Selesai 151
Penghapusan Peran Sosial-Politik Militer, Reformasi Setengah Hati 154
Netralitas dalam Pemilu 1999, Ujian Pertama 156
Yang Tidak Disentuh, Bisnis, Teritorial, Impunitas 158
Analisis Teoretis, Transisi yang Dinegosiasikan 160
Refleksi, Reformasi yang Tidak Selesai 163
Daftar Pustaka dengan Komentar 165
A. Sumber Utama tentang Era Habibie 165
B. Sumber tentang Reformasi Militer Era Habibie 167
C. Sumber tentang Wiranto dan Peran Militer 169
Catatan Penutup 169
BAB 7 Dua Jalan, Satu Pengkhianatan, Gus Dur Tumbang, Megawati Berkompromi 171
Gus Dur, Kiai yang Tidak Takut pada Jenderal 172
Lingkaran Setan, Mengapa Gus Dur Tumbang 176
Megawati, Tembok yang Tidak Bergeming 177
Harga yang Harus Dibayar, Impunitas 180
Dua Jalan, Satu Pengkhianatan 181
Analisis Teoretis, Transisi yang Tidak Selesai 183
Refleksi, Dua Jalan, Satu Harapan 185
Daftar Pustaka dengan Komentar 186
A. Sumber Utama tentang Gus Dur dan Megawati 187
B. Sumber tentang Megawati dan Pelembagaan Supremasi Sipil 188
C. Sumber Teoretis Pendukung 189
Catatan Penutup 191
BAB 8 Kontrak Bernama Undang-Undang, Cetak Biru yang Bocor 192
Pasal 2, Jati Diri yang Ambigu 194
Pasal 39, Larangan yang Tidak Pernah Tegas 196
Pasal 47, Pintu Belakang yang Tidak Pernah Ditutup 198
Pasal 76, Janji yang Tidak Pernah Ditepati 200
Pasal 7, OMSP yang Terus Diperluas 203
Analisis Teoretis, Cetak Biru yang Bocor 206
Refleksi, Kontrak yang Tidak Pernah Kami Tandatangani 207
Daftar Pustaka dengan Komentar 209
A. Sumber Primer 209
B. Sumber Akademik 210
C. Laporan dan Dokumen 211
D. Sumber Kontemporer 212
Catatan Penutup 213
BAB 9 Racket yang Berganti Kulit, Bisnis Militer dari Yayasan ke Ekstasi 214
Pasal 76, Janji yang Tidak Pernah Ditepati 216
Asabri, Puncak Gunung Es 219
Modus Baru, Jasa Pengamanan, Tambang, Narkoba, Judi Online 222
Jasa Pengamanan Ilegal 222
Tambang Ilegal 223
Narkoba dan Judi Online 224
Purnawirawan di BUMN, Racket yang Dilegalkan 226
Analisis Teoretis, Racket yang Tidak Pernah Mati 227
Refleksi, Perut yang Tidak Pernah Kenyang 229
Daftar Pustaka dengan Komentar 230
A. Sumber Utama tentang Bisnis Militer 230
B. Sumber tentang Asabri 232
C. Sumber tentang Modus Baru Bisnis Militer 233
D. Sumber Teoretis Pendukung 234
Catatan Penutup 235
BAB 10 Perayapan di Bawah Meja, Jokowi dan Normalisasi Militerisme 237
Dari SBY ke Jokowi, Kontinuitas yang Tidak Disadari 239
Gatot Nurmantyo, Ketika Kontrol Sipil Bergantung pada Loyalitas Personal 240
Hadi Tjahjanto, Panglima yang Akomodatif 242
Isu Wabah, Darurat yang Menjadi Permanen 242
Prabowo sebagai Menteri Pertahanan, Pintu Masuk Militer 245
Perayapan di Papua, Smart Approach sebagai Retorika 247
Militerisasi Kesehatan dan Ekonomi 249
Bisnis Militer, Kontinuitas di Bawah Jokowi 250
Analisis Teoretis, Normalisasi Militerisme 251
Refleksi, Kekecewaan yang Tidak Boleh Menjadi Keputusasaan 253
Daftar Pustaka dengan Komentar 254
A. Sumber Utama tentang Era Jokowi 254
B. Sumber tentang Gatot Nurmantyo dan Hadi Tjahjanto 256
C. Sumber tentang Isu Wabah dan Militerisasi Kesehatan 256
D. Sumber tentang Papua 257
E. Sumber tentang Bisnis Militer di Era Jokowi 258
F. Sumber Teoretis Pendukung 259
BAB 11 Darah di Nusantara, Aceh, Maluku, dan Poso 261
Aceh, Laboratorium Kekerasan Negara 262
Akar Konflik, Deprivasi Relatif di Tengah Kelimpahan 263
DOM 1990–1998, Perang Paling Kotor 264
Darurat Militer 2003–2004, Perang Total 265
Tsunami dan Perdamaian 266
Maluku dan Poso, Konflik Komunal dan Ketidaknetralan Aparat 268
Maluku 1999–2004, Ketika Aparat Memihak 268
Operasi Gabungan Kopassus-Paskhas-Marinir, Januari 2001 269
Poso 2000–2001, Konflik yang Tidak Kunjung Selesai 270
Pelajaran dari Maluku dan Poso 272
Pola yang Berulang, Darah, Kekerasan, dan Ketiadaan Keadilan 273
Analisis Teoretis, Sekuritisasi dan Kontraproduktivitas 274
Refleksi, Darah yang Tidak Pernah Kering 276
Daftar Pustaka dengan Komentar 278
A. Sumber Utama tentang Aceh 278
B. Sumber Utama tentang Maluku dan Poso 279
C. Sumber Teoretis Pendukung 280
D. Sumber Dokumenter 282
BAB 12 Impunitas Inc., Mengapa Pelanggar HAM Tidak Pernah Diadili 284
Enam Luka yang Tidak Pernah Sembuh 286
Trisakti, 12 Mei 1998 286
Semanggi I dan II, 13 November 1998 dan 24 September 1999 287
Penculikan Aktivis 1997–1998 288
Tanjung Priok, 12 September 1984 289
Wasior, 2001 290
Paniai, 2014 290
Mengapa Pengadilan HAM Ad Hoc Gagal? 291
Desain Hukum yang Cacat 291
Ketiadaan Kemauan Politik 292
Kelemahan Kapasitas Penyelidikan 292
Intimidasi terhadap Saksi dan Korban 293
Peradilan Militer, Benteng Impunitas 293
Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, Janji yang Dibatalkan 295
Penyelesaian Non-Yudisial Era Jokowi, Pengakuan Tanpa Keadilan 295
Analisis Teoretis, Impunitas sebagai Investasi 296
Impunitas sebagai Investasi Politik 297
Impunitas sebagai Bentuk Kekuasaan 298
Impunitas sebagai Hegemoni 298
Perbandingan, Argentina dan Afrika Selatan 299
Argentina, Keadilan yang Tertunda 299
Afrika Selatan, Kebenaran Tanpa Hukuman 300
Indonesia dalam Perspektif Komparatif 301
Refleksi, Payung Hitam yang Tidak Pernah Terlipat 301
Daftar Pustaka dengan Komentar 304
A. Sumber Utama tentang Impunitas dan Keadilan Transisi 304
B. Sumber tentang Kasus-Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia 306
C. Sumber tentang Peradilan Militer 307
D. Sumber tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi 308
E. Sumber tentang Penyelesaian Non-Yudisial 309
F. Sumber Teoretis Pendukung 309
BAB 13 Ancaman Palsu, Bisnis Nyata, Sekuritisasi sebagai Pintu Masuk 311
Sekuritisasi, Kerangka untuk Memahami Ancaman yang Diciptakan 313
Isu Wabah, Darurat yang Menjadi Permanen 314
Ancaman Siber, Matra Keempat dan Risiko Represi Digital 317
Perang Informasi, Ketika Militer Mengendalikan Narasi 321
Proxy War di Papua, Sekuritisasi untuk Kehadiran Permanen 324
Analisis Teoretis, Sekuritisasi Multi-Sektor 327
Refleksi, Tentara yang Datang ke Rumah Sakit 329
Daftar Pustaka dengan Komentar 331
A. Sumber Teoretis Utama 331
B. Sumber tentang Isu Wabah dan Militerisasi Kesehatan 333
C. Sumber tentang Ancaman Siber dan Matra Keempat 334
D. Sumber tentang Perang Informasi 335
E. Sumber tentang Proxy War di Papua 336
F. Sumber tentang UU TNI 2025 337
BAB 14 Beli Otot, Lupa Mata, Alutsista, Utang, dan Racket Baru 338
MEF, Janji yang Gagal, Kegagalan yang Dijanjikan 339
OEF dan Perisai Trisula Nusantara, Ambisi Baru, Masalah Lama 341
Anggaran Rp337 Triliun, Lompatan yang Mencurigakan 342
Defend ID, Embrio Kompleks Industrial-Militer 343
Mark Up, Calo, dan Opasitas Terstruktur 344
Utang Alutsista, Beban yang Akan Dibayar Generasi Mendatang 346
Interoperabilitas, Beli Otot, Lupa Mata 348
Refleksi, Veteran yang Tidak Pernah Dapat Kursi Roda 349
Daftar Pustaka dengan Komentar 350
A. Sumber Utama tentang Anggaran Pertahanan 350
B. Sumber tentang MEF dan OEF 351
C. Sumber tentang Defend ID 352
D. Sumber tentang Utang Alutsista 353
E. Sumber tentang Interoperabilitas 354
F. Sumber tentang Mark Up dan Korupsi 355
Bab 15 Konflik Papua 357
Akar Konflik, Deprivasi Relatif di Tengah Kelimpahan 357
Deprivasi Relatif, Kerangka untuk Memahami Konflik Papua 358
Tiga Pola Deprivasi di Papua 359
Kekayaan Alam yang Tidak Pernah Dinikmati 360
Ekonomi Politik Papua, Siapa yang Dapat Apa? 361
Freeport, Koloni Ekonomi yang Tidak Pernah Merdeka 362
Kontrak yang Tidak Adil Sejak Awal 363
Divestasi yang Tidak Pernah Berarti Apa-apa 364
Kerusakan Lingkungan, Warisan yang Tidak Pernah Dibersihkan 365
Hubungan dengan Militer, Perlindungan yang Dibayar Mahal 366
The Freeport Files, Dokumen Rahasia yang Mengungkap Segalanya 367
Divestasi 2018, Apa yang Berubah? 368
Papua, Koloni Ekonomi yang Tidak Pernah Merdeka 369
Militer di Papua, Okupasi, Kekerasan, dan Smart Approach 370
Skala Okupasi, Berapa Banyak Prajurit yang Dikirim ke Papua? 371
Smart Approach, Retorika dan Realitas 372
Ketidakmampuan Kultural, Ketika Tentara Tidak Mengerti Papua 373
Kilcullen dan "Gerilyawan Aksidental" 374
Smart Approach, Jalan Tengah yang Belum Ditemukan 375
Proxy War, Sekuritisasi untuk Kehadiran Permanen 376
Definisi Proxy War, Ketika "Perang" Tidak Pernah Dideklarasikan 377
Insiden Pilot Selandia Baru, False Flag atau Fakta? 378
Skala Kehadiran Militer, Angka yang Tidak Pernah Dijelaskan 379
Sekuritisasi, Bagaimana Konflik Papua Dijadikan "Ancaman Eksistensial" 381
Kilcullen dan Kontraproduktivitas Proxy War 382
Proxy War sebagai Alat Racket 383
Refleksi, Papua yang Tidak Pernah Selesai 384
Mengapa Papua Tidak Pernah Selesai? 385
Yang Tidak Pernah Dibicarakan, Korban 387
Panggilan, Apa yang Bisa Dilakukan? 388
Penutup, Harapan yang Tidak Naif 390
BAB 16 Prabowo, Dwi Fungsi Baru, Racket Lama dengan Wajah Baru 392
Kabinet Merah Putih, Bertabur Bintang, Bertabur Kepentingan 393
Perwira Aktif di Jabatan Sipil, Batas yang Semakin Kabur 395
Revisi UU TNI 2025, Legalisasi Dwi Fungsi Baru 397
100 Batalion Baru dan Enam Kodam, Ekspansi Struktural Terbesar dalam Masa Damai 401
Militer dalam Program Sipil, Makan Bergizi, Produksi Obat, Pertanian 402
Analisis Teoretis, Dwi Fungsi Baru dalam Kerangka Ilmu Politik 404
Perbandingan Regional, Menuju Thailand atau Myanmar? 406
Refleksi, Dwi Fungsi Baru dan Panggilan untuk Kewaspadaan 408
Daftar Pustaka dengan Komentar 410
A. Sumber Utama tentang Prabowo dan Kabinetnya 411
B. Sumber tentang Revisi UU TNI 2025 412
C. Sumber tentang Ekspansi Struktural 413
D. Sumber Teoretis Pendukung 414
E. Sumber tentang Perbandingan Regional 416
BAB 17 Cermin Tetangga, Mengapa Indonesia Bukan Myanmar, Juga Bukan Korea Selatan 417
Kerangka Croissant dan Kuehn, Lima Area Kontrol Sipil 419
Indonesia, Model Sukses yang Kini Dipertanyakan 420
Myanmar, Kegagalan Total, Konstitusi sebagai Bom Waktu 422
Thailand, Praetorianisme Pasca-Otoriter yang Bertahan 426
Filipina, Feodalisme Militer dan Politisasi dari Bawah 429
Lima Area Kontrol Sipil 432
Refleksi, Zona Abu-Abu yang Tidak Stabil 434
Daftar Pustaka dengan Komentar 435
A. Sumber Utama tentang Perbandingan Regional 435
B. Sumber tentang Myanmar 437
C. Sumber tentang Thailand 438
D. Sumber tentang Filipina 439
E. Sumber tentang Indonesia 439
BAB 18 Quo Vadis, Panggilan untuk yang Masih Punya Marah 441
Neraca Reformasi, Pencapaian dan Defisit 442
Pencapaian 1998–2014 442
Defisit yang Belum Terselesaikan 443
Ke Arah Manakah Timbangan Bergeser? 445
Dua Skenario Masa Depan 445
Skenario Optimistis, Reformasi 2.0 446
Skenario Pesimistis, Jalan Menuju Thailand atau Filipina 447
Jalan Tengah yang Tidak Memuaskan 449
Sishankamrata yang Inklusif, Alternatif Doktrin 450
Sepuluh Rekomendasi Kebijakan 451
Reformasi Kerangka Hukum 452
Penguatan Pengawasan Parlemen 452
Transparansi dan Akuntabilitas 453
Penyelesaian Konflik Papua 453
Pendidikan dan Pelatihan 454
Pembelajaran dari Dunia 454
Panggilan untuk Bertindak 456
Penutup, Untuk yang Masih Punya Marah 457
Daftar Pustaka dengan Komentar 459
A. Sumber Teoretis Utama 459
B. Sumber tentang Reformasi Militer Indonesia 460
C. Sumber tentang Perbandingan Regional 461
D. Sumber tentang Keadilan Transisi 462
Bab 19 Militer dan Pendidikan 464
Pendidikan sebagai Alat Kekuasaan 464
Penataran P4, Mencuci Otak dengan Pancasila 465
Sekolah sebagai Barak, Militerisasi Pendidikan 466
Pendidikan Tinggi, Ketika Kampus Kehilangan Otonomi 467
Reformasi 1998, Otonomi yang Belum Selesai 468
Pendidikan dan Militer, Siapa yang Diuntungkan? 469
Refleksi, Pendidikan yang Membebaskan 470
Militer dan Gender, Ketika Patriarki Berbaju Seragam 471
Mengapa Gender Penting dalam Studi Militer? 471
Maskulinitas Militer, Konstruksi Laki-laki Perkasa 472
Perempuan dalam Militer, Antara Partisipasi dan Subordinasi 473
Kekerasan Seksual dalam Konflik, Senjata yang Tidak Pernah Diadili 475
Perempuan sebagai Simbol, Ibu, Istri, dan Pelacur 476
Perlawanan Perempuan, Ibu-ibu dengan Payung Hitam 477
Refleksi, Patriarki yang Berbaju Seragam 478
Kesimpulan, Yang Tidak Pernah Dibicarakan 479
Tiga Medan yang Saling Terkait 479
Mengapa Ini Penting bagi Studi Militer dan Politik? 481
Yang Tidak Pernah Dibicarakan 482
Panggilan, Melawan Hegemoni 483
Penutup, Untuk yang Masih Punya Marah 484
SINOPSIS 486
PRAKATA
Untuk Mereka yang Masih Bertanya, Mengapa Buku Ini Ada?
Buku ini tidak seharusnya ada.
Jika reformasi 1998 berjalan sebagaimana janjinya, jika Tentara Nasional Indonesia benar-benar kembali ke barak, jika supremasi sipil benar-benar ditegakkan, jika pelanggar HAM benar-benar diadili, jika bisnis militer benar-benar dihapus, maka tidak ada yang perlu ditulis tentang militer dan politik Indonesia. Kita bisa menutup bab sejarah itu, mengarsipkannya bersama dokumen-dokumen Orde Baru, dan mengajarkannya sebagai pelajaran masa lalu.
Tapi kita tidak bisa. Hampir tiga dekade setelah Soeharto turun, kita masih menulis tentang hal yang sama. Nama-namanya berganti. Doktrinnya dibilas dengan bahasa baru. Dwi Fungsi menjadi "Total Defence". Kekaryaan menjadi "penempatan prajurit aktif di kementerian". Struktur teritorial menjadi "pendekatan kewilayahan". Bisnis militer menjadi "koperasi kesejahteraan". Tapi substansinya, hubungan kekuasaan antara seragam dan sipil, tetap tidak seimbang.
Buku ini lahir dari kegelisahan intelektual yang panjang. Bukan kegelisahan yang selesai dengan membaca lebih banyak buku atau menulis lebih banyak artikel. Ini kegelisahan yang datang dari kesadaran bahwa apa yang diajarkan di ruang-ruang kelas tentang hubungan sipil-militer di Indonesia seringkali tidak sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Bahwa teori-teori yang kita pelajari dari Huntington, Finer, dan Stepan, betapapun bergunanya, tidak selalu mampu menjelaskan mengapa militer Indonesia begitu sulit melepaskan diri dari politik. Dan bahwa ada jurang yang lebar antara narasi resmi tentang "reformasi militer yang sukses" dan realitas yang dihadapi rakyat sehari-hari.
Mengapa Buku Ini Tidak Netral
Buku ini berpihak.
Saya tidak akan berpura-pura bahwa buku ini adalah karya yang bebas nilai. Netralitas, dalam studi militer dan politik, bukanlah posisi yang suci. Ia adalah posisi yang menguntungkan mereka yang berkuasa. Ketika seorang akademisi mengatakan "saya netral," ia sedang mengatakan bahwa ia tidak berpihak pada korban. Ia sedang mengatakan bahwa penderitaan orang biasa dan kekuasaan orang besar adalah dua hal yang setara, yang sama-sama layak dipertimbangkan. Padahal tidak. Ada yang menembak, ada yang ditembak. Ada yang menyiksa, ada yang disiksa. Ada yang korupsi, ada yang kelaparan. Netralitas di antara keduanya adalah pengkhianatan.
Robert Cox, seorang sarjana Kanada yang membawa perspektif Gramscian ke dalam studi Hubungan Internasional, pernah menulis kalimat yang hingga hari ini masih dikutip oleh setiap mahasiswa yang serius: "Teori selalu untuk seseorang dan untuk suatu tujuan" (Cox 128). Kalimat ini bukan sekadar aforisme akademik. Ia adalah pengingat bahwa setiap kerangka teoretis, bahkan yang paling "netral" sekalipun, membawa kepentingan, sejarah, dan pilihan. Buku ini berpihak. Ia berpihak pada demokrasi, pada hak asasi manusia, pada supremasi sipil. Ia berpihak pada korban yang tidak pernah mendapatkan keadilan. Dan ia berpihak pada mahasiswa yang membaca buku ini, yang akan mewarisi republik yang sama.
Namun berpihak bukan berarti tidak teliti. Buku ini adalah karya akademik. Setiap klaim didukung oleh sumber. Setiap argumen diuji dengan bukti. Saya tidak akan meminta Anda percaya begitu saja. Saya akan meminta Anda memeriksa, mempertanyakan, dan, jika perlu, membantah. Yang saya minta hanyalah Anda membaca dengan mata terbuka.
Tesis, Negara sebagai Bisnis Sampingan
Ada satu pertanyaan yang tidak pernah selesai diajukan di ruang kelas studi politik Indonesia. Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya berlapis: mengapa militer Indonesia begitu sulit melepaskan diri dari politik?
Jawaban konvensional biasanya berkisar pada doktrin. Dwi Fungsi ABRI, kata para dosen, adalah ideologi yang melegitimasi keterlibatan militer dalam politik. Jalan Tengah Nasution, kata buku teks, adalah kompromi historis yang membuka pintu bagi peran sosial-politik militer. Atau, jawaban yang lebih sinis, militer Indonesia memang ambisius, haus kekuasaan, dan tidak pernah benar-benar ingin kembali ke barak.
Semua jawaban itu ada benarnya. Tetapi tidak ada satu pun yang menyentuh akar masalah. Jawaban-jawaban itu berbicara tentang ideologi, doktrin, dan ambisi. Mereka tidak berbicara tentang perut. Mereka tidak berbicara tentang gaji. Mereka tidak berbicara tentang fakta bahwa seorang prajurit dengan pangkat rendah, seorang politisi daerah, atau seorang birokrat eselon empat, seringkali tidak bisa menghidupi keluarganya dengan gaji resmi.
Di sinilah tesis buku ini, negara di Indonesia, bagi banyak elitnya, bukanlah sumber penghasilan utama. Negara adalah bisnis sampingan. Gaji mereka kecil. Tetapi akses mereka terhadap kekuasaan, untuk mengatur, untuk mengizinkan, untuk melindungi, untuk menakut-nakuti, sangat besar. Dan akses itu, dalam sistem yang tidak transparan dan tidak akuntabel, bisa dikonversi menjadi uang. Banyak uang.
Militer tidak terlibat dalam politik karena mereka membaca Huntington atau Nasution. Mereka terlibat dalam politik karena politik adalah tempat di mana uang berada. Politisi sipil tidak membiarkan militer kembali ke barak karena mereka butuh perlindungan, dan karena mereka juga sedang berbisnis. Oligarki tidak mendukung perluasan peran militer karena mereka mencintai tentara. Mereka mendukungnya karena tentara bisa mengamankan tambang, perkebunan, dan proyek-proyek mereka.
Inilah yang saya sebut sebagai segitiga racket: militer, politisi sipil, dan oligarki. Tiga aktor yang secara formal berbeda, satu memegang senjata, satu memegang mandat rakyat, satu memegang modal, tetapi yang dalam praktiknya duduk di meja yang sama, berbagi kue yang sama, dan menjaga satu sama lain agar tetap aman. Rakyat? Rakyat adalah kue itu.
Tiga Teoretikus, Satu Pertanyaan
Untuk memahami bagaimana segitiga racket ini bekerja, kita memerlukan alat analisis. Bukan alat yang dingin dan netral, melainkan alat yang tajam dan berpihak. Dalam studi hubungan sipil-militer, ada tiga pemikir yang tidak bisa diabaikan: Samuel P. Huntington, S.E. Finer, dan Alfred Stepan. Masing-masing menawarkan kerangka yang berbeda, tetapi saling melengkapi.
Samuel P. Huntington, dalam The Soldier and the State (1957), memperkenalkan dikotomi yang hingga kini menjadi fondasi studi hubungan sipil-militer: kontrol sipil objektif dan kontrol sipil subjektif. Kontrol sipil objektif adalah model ideal, di mana militer diprofesionalkan secara maksimal, fokus pada "manajemen kekerasan," dan steril dari politik. "The most effective way to assert civilian control over the armed forces is to professionalize the military," tulisnya (Huntington 83). Sebaliknya, kontrol sipil subjektif terjadi ketika kelompok sipil yang berkuasa menggunakan militer sebagai alat politik, atau sebaliknya, militer mendominasi sipil (Huntington 80–83). Dalam praktiknya, "profesionalisme" seringkali menjadi alibi. Ketika militer Indonesia hari ini berbicara tentang "profesionalisme," mereka tidak berbicara tentang kembali ke barak dan berhenti berbisnis. Mereka berbicara tentang modernisasi alutsista, tentang pembentukan matra siber, tentang penempatan prajurit aktif di kementerian, semua hal yang justru memperluas peran mereka, bukan mempersempitnya.
S.E. Finer, dalam The Man on Horseback (1962), membalik pertanyaan Huntington. Jika Huntington bertanya "bagaimana sipil mengontrol militer?", Finer bertanya "mengapa militer melakukan intervensi?" Finer tidak percaya bahwa profesionalisme militer secara otomatis menjamin netralitas politik. Baginya, militer memiliki keunggulan organisasi, simbolisme, dan persenjataan yang membuat mereka selalu memiliki kapasitas untuk melakukan intervensi. Yang menjadi pertanyaan adalah: dalam kondisi apa kapasitas itu diaktualisasikan menjadi tindakan? Finer mengajukan konsep kunci: tingkat kultur politik (level of political culture). "The higher the level of political culture, the less opportunity there is for the military to intervene," tulisnya (Finer 22). Tetapi Finer juga menekankan dua faktor psikologis dan situasional: mood (suasana hati) dan opportunity (kesempatan). Dalam konteks Indonesia, kita bisa menambahkan satu faktor lagi yang tidak dibahas Finer: rasa lapar. Bukan lapar dalam arti kiasan, tetapi lapar yang nyata.
Alfred Stepan, dalam Rethinking Military Politics (1988), memperkenalkan konsep "prerogatif militer" (military prerogatives). Stepan berargumen bahwa transisi dari rezim otoriter militer menuju demokrasi tidak otomatis menghilangkan kekuasaan militer; yang terjadi sering kali adalah negosiasi di mana militer "menukar" kekuasaan formalnya dengan mempertahankan hak-hak prerogatif tertentu. Prerogatif militer adalah hak-hak istimewa dan domain kekuasaan yang dipertahankan militer meskipun rezim telah berganti menjadi demokratis, otonomi dalam urusan internal, kendali atas anggaran pertahanan, peran dalam kebijakan keamanan nasional, dan pengaruh dalam pengangkatan jabatan-jabatan kunci (Stepan 90–92). Stepan memperingatkan bahwa "the transition to democracy is not complete until military prerogatives are reduced to the minimum necessary for the military to perform its professional functions" (Stepan 93). Dengan standar ini, Indonesia pasca-1998 masih jauh dari "transisi yang selesai."
Untuk Siapa Buku Ini Ditulis?
Buku ini ditulis untuk mahasiswa yang ingin memahami Indonesia, bukan versi yang diajarkan di sekolah, tetapi versi yang sebenarnya. Untuk akademisi yang lelah dengan analisis yang dingin dan netral, dan merindukan analisis yang tajam dan berpihak. Untuk jurnalis yang masih percaya bahwa kata-kata bisa mengubah dunia. Untuk aktivis yang tidak pernah berhenti melawan. Dan untuk setiap warga negara yang pernah bertanya: "Mengapa negara ini begitu rusak?"
Buku ini tidak akan memberi Anda jawaban yang mudah. Tetapi ia akan memberi Anda pertanyaan yang lebih baik. Dan pertanyaan yang lebih baik adalah langkah pertama menuju perubahan.
Satu Hal Terakhir
Buku ini didedikasikan untuk mereka yang tidak pernah mendapatkan keadilan. Untuk Elang, Heri, Hafidin, dan Hendriawan. Untuk aktivis yang hilang. Untuk ibu-ibu yang setiap Kamis berdiri di depan Istana Negara dengan payung hitam. Untuk petani di Aceh yang sawahnya dibakar. Untuk nelayan di Natuna yang ikannya dicuri. Untuk mahasiswa di Papua yang ditembak saat demokrasi. Untuk semua yang tetap bertahan, meskipun negara tidak pernah benar-benar hadir untuk mereka.
Selama buku ini masih dibaca, selama masih ada yang mengingat, selama masih ada yang marah, selama itu pula mereka tidak akan pernah benar-benar mati.
Selamat membaca. Selamat marah. Selamat bertindak.
City of Cileungsi
Author
