Deskripsi
Esai ini lahir dari sebuah pertanyaan yang sering kali muncul di sela-sela kekecewaan: mengapa partai politik, yang seharusnya menjadi sekolah demokrasi, justru berubah menjadi mesin yang hanya melayani segelintir orang? Pertanyaan itu bukan pertanyaan akademis semata; ia lahir dari percakapan-percakapan kecil. Dari seorang kader muda yang pulang dari kongres dengan wajah kecewa karena calon yang ia dukung disingkirkan lewat aturan mendadak. Dari seorang aktivis desa yang bercerita bahwa untuk menjadi calon legislator, orang seperti dirinya tidak punya peluang, sebab tidak punya uang untuk “mahar”. Dari sebuah warung kopi di pinggir kota, tempat beberapa orang setengah baya mengeluh bahwa partai sekarang tidak lagi mendidik kader, tetapi hanya memburu artis dan pengusaha.
Semua cerita itu mengendap, lalu menuntut untuk ditulis. Sebab, jika kita hanya mengeluh, partai politik akan terus berjalan seperti sekarang: dikuasai oleh bos, dikunci oleh elite, dijual oleh mahar, dan diisi oleh wajah-wajah yang tak punya akar. Esai ini adalah upaya untuk tidak berhenti pada keluhan. Ia mencoba memberi nama pada penyakit-penyakit yang selama ini kita rasakan tetapi jarang kita sebut: partai sebagai mesin kekuasaan pribadi, oligarki partai, politik transaksional dalam rekrutmen, kaderisasi yang mati, dan faksionalisme destruktif. Dengan menyebut nama penyakit, kita berharap bisa mulai memikirkan obatnya.
Dalam menulis, saya banyak berutang pada para pemikir yang telah lebih dulu memetakan lorong-lorong partai: Moisei Ostrogorski, Robert Michels, Max Weber, Maurice Duverger, Otto Kirchheimer, Richard Katz dan Peter Mair, serta Angelo Panebianco. Kutipan langsung dari sumber primer sengaja dipertahankan agar pembaca bisa menelusuri sendiri gagasan-gagasan itu. Saya juga berusaha mengaitkannya dengan konteks Indonesia, karena saya percaya bahwa teori yang baik harus mampu menyentuh tanah tempat kita berpijak.
Esai ini tidak menawarkan harapan murah. Ia tidak menjanjikan bahwa partai akan berubah dalam satu malam. Tetapi ia juga menolak menyerah pada sinisme. Di antara keduanya, ada ruang untuk bekerja: membenahi aturan, memperkuat kaderisasi, dan, yang paling sulit, mengubah budaya organisasi yang sudah terlalu lama memaklumi oligarki. Semoga esai ini bisa menjadi salah satu peta kecil untuk pekerjaan itu.
