Pemikiran Politik Indonesia Buku yang Tidak Sopan

Lihat Detail

Deskripsi

PRAKATA

Mengapa Buku Ini Berbeda

Ada dua jenis buku tentang pemikiran politik Indonesia di pasaran. Yang pertama adalah buku teks yang rapi, sopan, dan tidak berbahaya. Ia menyajikan gagasan para tokoh seperti menyajikan menu restoran: Soekarno sebagai pembuka, Hatta sebagai hidangan utama, Sjahrir sebagai pencuci mulut. Semuanya tersusun rapi. Semuanya aman. Semuanya bisa dihafal untuk ujian, lalu dilupakan setelah ujian selesai.

Yang kedua adalah buku yang mengklaim dirinya kritis, tetapi sebenarnya hanya mengulang-ulang kritik yang sama. Ia mengutip Marx, Foucault, Gramsci, lalu menempelkan nama-nama itu pada fenomena Indonesia tanpa benar-benar memahami konteksnya. Ia berbicara tentang "hegemoni" dan "oligarki" tanpa pernah menyebut siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan siapa yang mati.

Buku ini bukan keduanya.

Buku ini tidak sopan. Buku ini tidak aman. Buku ini tidak bisa dihafal untuk ujian, karena ia tidak memberikan jawaban yang rapi. Ia memberikan pertanyaan yang mengganggu. Pertanyaan yang membuat pembaca tidak bisa tidur nyenyak. Pertanyaan yang menghantui seperti suara sirine mobil militer yang melaju pongah di jalur tengah, memaksa penyeberang jalan mundur.

Buku ini juga tidak sekadar mengulang kritik. Ia tidak hanya mengatakan bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Ia bertanya: mengapa? Siapa yang membuatnya tidak baik-baik saja? Dan yang paling penting: apa yang bisa kita lakukan?

Buku-buku pemikiran politik Indonesia yang bertebaran di pasaran memiliki satu penyakit kronis: mereka membahas pemikir yang sudah mati, seolah-olah pemikiran politik Indonesia juga sudah mati. Mereka membahas Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Natsir semuanya sudah wafat. Mereka membahas dwifungsi ABRI, demokrasi terpimpin, nasakomsemuanya sudah berlalu. Mereka berbicara tentang masa lalu dengan nada nostalgia, seolah-olah masa kini tidak memerlukan pemikiran baru.

Padahal pemikiran politik Indonesia masih hidup. Ia hidup di YouTube. Ia hidup di podcast. Ia hidup di Twitter. Ia hidup di TikTok. Ia hidup di dalam diri anak-anak muda yang berani bertanya: "Kenapa negara ini tidak pernah beres?"

Buku ini berbeda karena ia tidak hanya membahas pemikir yang sudah mati. Ia juga membahas pemikir yang masih hidup. Mereka yang setiap hari memberikan pencerahan politik kepada publik melalui media mainstream, YouTube, dan aneka podcast. Mereka yang berani melawan arus, meskipun tahu bahwa melawan arus di Indonesia sangat melelahkan. Sangat menyakitkan. Sangat berdarah.

Buku ini juga berbeda karena ia tidak hanya membahas gagasan. Ia membahas konteks. Mengapa gagasan itu muncul? Siapa yang diuntungkan? Siapa yang dirugikan? Buku ini tidak netral. Ia berpihak. Ia berpihak pada rakyat kecil. Ia berpihak pada petani yang kehilangan tanahnya. Ia berpihak pada buruh yang upahnya tidak layak. Ia berpihak pada mahasiswa yang ditembak saat demonstrasi. Ia berpihak pada anak-anak Papua yang meninggal karena gizi buruk di negeri yang perut buminya menyimpan emas.

Buku ini juga berbeda karena ia tidak hanya membahas masa lalu. Ia membahas masa kini dan masa depan. Bagaimana pemikiran politik Indonesia menghadapi revolusi digital? Bagaimana ia menghadapi krisis iklim? Bagaimana ia menghadapi polarisasi politik? Bagaimana ia menghadapi kembalinya militer ke politik? Bagaimana ia menghadapi oligarki digital yang membeli opini publik dengan buzzer?

Buku ini tidak memberikan jawaban mudah. Ia memberikan pertanyaan. Pertanyaan yang menggantung. Pertanyaan yang mengganggu. Pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan "Pertama, kedua, ketiga."

Ada satu hal lagi yang membuat buku ini berbeda. Buku ini tidak memiliki struktur yang seragam. Setiap bab memiliki ritmenya sendiri. Ada bab yang dibuka dengan anekdot. Ada bab yang dibuka dengan data. Ada bab yang dibuka dengan pertanyaan. Tidak ada formula. Tidak ada template. Buku ini mengalir seperti air. Kadang tenang. Kadang deras. Kadang berhenti.

Buku ini juga tidak memiliki daftar pustaka yang rapi. Setiap referensi diberi komentar. Ada yang dipuji. Ada yang dikritik. Ada yang disebut: "Saya tidak setuju dengan penulis ini karena..." Buku ini berdebat dengan sumbernya. Ia tidak hanya mendaftar. Ia tidak hanya memamah-biak.

Dan yang paling penting: buku ini tidak berhenti pada kritik. Ia juga menawarkan solusi. Bukan solusi yang muluk-muluk. Solusi yang praktis. Solusi yang bisa dilakukan oleh mahasiswa, guru, aktivis, dan siapa saja yang mencintai republik ini. Solusi yang dimulai dari pertanyaan: "Apa yang bisa saya lakukan?"

Buku ini ditulis untuk Generasi Z. Untuk mereka yang lahir di era digital. Untuk mereka yang tidak mau dibodohi. Untuk mereka yang tidak mau dibungkam. Untuk mereka yang tidak mau dirampok. Untuk mereka yang berani bertanya. Untuk mereka yang berani melawan. Untuk mereka yang berani bermimpi.

Buku ini bukan buku teks. Ia bukan buku ajar. Ia adalah undangan. Undangan untuk berpikir. Undangan untuk bertanya. Undangan untuk melawan.

Selamat membaca. Selamat berpikir. Selamat melawan. 

DAFTAR ISI

Pemikiran Politik Indonesia i

CopyLeft ii

PRAKATA iii

GLOSARIUM vii

DAFTAR ISI xii

BAB 1 API YANG TIDAK PADAM 18

Mengapa Pemikiran Politik Tidak Pernah Mati 18

Mengapa Generasi Z? 22

Daftar Pustaka dengan Komentar 31

BAB 2 NASIONALISME YANG BERBUNGA, NASIONALISME YANG BERDARAH 35

Dari Ki Hadjar hingga Buzzer 35

Politik Etis, Budi Baik yang Berujung Bumerang 36

Ki Hadjar dan Satire yang Mematikan 37

Tjipto, Douwes Dekker, dan Hindia untuk Hindia 39

Tjokroaminoto dan Islam sebagai Ideologi Mobilisasi 42

Ketika Api Membakar 43

Nasionalisme yang Berbunga, Nasionalisme yang Berdarah 45

Api yang Tidak Padam 46

Daftar Pustaka dengan Komentar 47

BAB 3 DEMOKRASI YANG DIPERDEBATKAN, DEMOKRASI YANG DIKHIANATI 52

Dari BPUPKI hingga Oligarki Digital 52

Janji di Tengah Badai Perang 53

Soepomo dan Negara Integralistik 54

Mohammad Yamin dan Indonesia Raya 57

Soekarno dan Sintesis Pancasila 60

Negara yang Dibangun, Negara yang Dirampok 62

Api yang Tidak Padam 64

Daftar Pustaka dengan Komentar 65

BAB 4 DEMOKRASI YANG DIPERDEBATKAN, DEMOKRASI YANG DIKHIANATI 70

Dari Sjahrir hingga "Demokrasi Tanpa Oposisi" 70

Sjahrir dan Demokrasi Parlementer 71

Soekarno dan Demokrasi Kerakyatan 77

"Mari kita kubur partai-partai!" (Soekarno 440) 78

Tan Malaka dan Merdeka 100% 80

Hatta dan Demokrasi Sosial 84

Demokrasi Hari Ini, Koalisi Gemuk dan Matinya Oposisi 86

Suara yang Tidak Bisa Dibeli 88

Demokrasi yang Dikhianati 92

Daftar Pustaka dengan Komentar 94

BAB 5 EKONOMI UNTUK SIAPA? 104

Dari Koperasi Hatta hingga Oligarki Digital 104

Pasal 33: Janji yang Tidak Pernah Ditepati 105

Hatta dan Koperasi, Soko Guru yang Patah 107

Soemitro dan Akumulasi Modal: Jalan Lain yang Ditempuh 109

Oligarki, Ketika Ekonomi Dikuasai Segelintir Orang 111

Ketimpangan yang Melebar 112

MBG dan Kopdes: Janji Baru, Masalah Lama 113

Suara-suara yang Tidak Bisa Dibeli 115

Ekonomi untuk Siapa? 116

Daftar Pustaka dengan Komentar 117

BAB 6 ISLAM, NEGARA, DAN PEREBUTAN KUASA 120

Dari Natsir hingga Aksi 212 120

Natsir, Sang Ideolog yang Tidak Pernah Ragu (atau Mungkin Selalu Ragu) 121

Gus Dur, Pluralis yang Punya Sisi Gelap 124

Aksi 212, Ketika Massa Turun ke Jalan 125

Orang Islam yang Abu-Abu 127

Islam dan Kekuasaan 128

Daftar Pustaka dengan Komentar 129

BAB 7 MILITER YANG KEMBALI KE POLITIK 134

Dari Jalan Tengah Nasution hingga Revisi UU TNI 2025 134

Nasution, Jenderal yang Menulis Buku 135

Jalan Tengah, Konsep yang Dikhianati 137

Dari Jalan Tengah ke Dwifungsi, Ketika Kekuasaan Mengubah Segalanya 139

Revisi UU TNI 2025: Kembalinya Dwifungsi? 141

Militer yang Kembali ke Politik 144

Daftar Pustaka dengan Komentar 145

BAB 8 MEDIA YANG DIBELI, NARASI YANG DIJUAL 148

Dari Pena ke Algoritma 148

Pers Bumiputera, Sekolah Politik Rakyat 149

Ketika Pers Menjadi Peluru 151

Ketika Pers Dijinakkan, Orde Baru dan "Pers Pancasila" 152

Reformasi, Ledakan yang Tidak Selamanya Membebaskan 154

Buzzer, Tentara Siber yang Dibayar 156

Influencer, Seleb yang Menjadi Corong Politik 158

Ekonomi Clickbait, Ketika Berita Menjadi Komoditas 159

Yang Masih Berani Bersuara 160

Platform, Raksasa yang Tidak Bertanggung Jawab 162

Api yang Tidak Padam 163

Daftar Pustaka dengan Komentar 164

BAB 9 DIGITAL YANG MEMBEBASKAN, DIGITAL YANG MENINDAS 170

Buzzer, Influencer, dan Oligarki Digital 170

Oligarki Digital, Ketika Kekuasaan Berpindah ke Tangan Segelintir Orang 171

Data Colonialism, Ketika Data Kita Dijajah 174

Digital yang Membebaskan 175

Tapi Juga Menindas 176

Yang Masih Berani Bersuara di Era Digital 177

Digital yang Menindas di Negeri yang Katanya Merdeka 179

Daftar Pustaka dengan Komentar 180

BAB 10 YANG TERLUPAKAN 185

Perempuan, Daerah, dan Kiri yang Dihancurkan 185

Perempuan yang Tidak Pernah Dihitung 186

Pemikir dari Daerah, Yang Tidak Pernah Disebut 191

Kiri yang Dihancurkan 194

Yang Selamat: Hidup dalam Trauma 198

Yang Masih Berani Bersuara 199

Yang Terlupakan, yang Harus Diingat 201

Daftar Pustaka dengan Komentar 202

BAB 11 SUARA MUDA YANG TIDAK MAU DIBUNGKAM 208

Intelektual Baru di Era Podcast dan YouTube 208

Ketika Televisi Kehilangan Nyali 209

Yang Tidak Bisa Dibeli 210

Tiyo Ardianto, Pemuda dari Kudus yang Tidak Takut 213

Guru Gembul, Ketika Tidak Punya Gelar Justru Lebih Didengar 214

Prof. Gema, Ketika Ahli Pasar Modal Bicara Politik 215

Abigail Limuria: Suara Indonesia di Dunia Internasional 215

Rian Fahardhi, Memilih Turun ke Daerah daripada Flexing di Media Sosial 216

Chepry Chairuman Hutabarat, Intelektual Jalan Sunyi 217

Mengapa Mereka Didengar? 218

Risiko yang Mereka Hadapi 219

Api yang Tidak Padam 219

Daftar Pustaka dengan Komentar 221

BAB 12 Indonesia DI DUNIA 226

Bebas Aktif atau Bebas Tanpa Arah? 226

Bebas Akti, Janji yang Tidak Pernah Ditepati 227

Kedaulatan yang Dijual ke Pasar Global 229

TKI, Pahlawan Devisa yang Diperlakukan Seperti Sampah 231

Diplomasi Tanpa Gigi 233

Yang Masih Berani Bersuara 234

Kedaulatan yang Belum Selesai 236

Daftar Pustaka dengan Komentar 237

BAB 13 INDONESIA YANG BELUM SELESAI 242

Peta Jalan untuk Generasi yang Akan Mewarisi Republik 242

Dua Puluh Satu Tahun Setelah Reformasi 243

Empat Arus yang Masih Bertarung 244

Yang Belum Selesai 246

Yang Masih Berani Berbicara 247

Yang Harus Dilakukan 249

Api yang Tidak Padam 250

Daftar Pustaka dengan Komentar 251

BAB 14 DARAH YANG TIDAK PERNAH KERING 256

Surat Terbuka untuk Generasi yang Akan Menguburkan Saya 256

Tentang Darah yang Tidak Pernah Kering 256

Tentang Republik yang Dirampok 257

Tentang Generasi yang Akan Menggantikan Saya 259

Tentang Api yang Tidak Pernah Padam 260

Tentang Darah yang Harus Kalian Bawa 261

Tentang Indonesia yang Belum Selesai 262

Tentang Perpisahan 262

Daftar Pustaka dengan Komentar 263

EPILOG: SURAT UNTUK YANG MASIH RAGU 269

Tentang Mereka yang Bertanya "Apa Gunanya?" 272

Tentang Satu Orang yang Sadar 273

Tentang Perpisahan 274

Daftar Pustaka dengan Catatan 275

SINOPSIS 285

SINOPSIS

Buku ini tidak sopan. Tidak aman. Tidak bisa dihafal untuk ujian. Ia tidak menyajikan Soekarno sebagai pembuka, Hatta sebagai hidangan utama, dan Sjahrir sebagai pencuci mulut. Ia tidak mengutip Marx, Foucault, atau Gramsci hanya untuk dipajang. Ia tidak berpura-pura netral seolah-olah pendapat mereka yang merampok negara punya bobot yang sama dengan pendapat mereka yang dirampok. Buku ini menampar. Ia menggugat. Ia membuat pembaca tidak bisa tidur nyenyak.Ini adalah perjalanan melalui pemikiran politik Indonesia, bukan hanya pemikir yang sudah mati, tetapi juga yang masih hidup. Dari sidang BPUPKI 1945 hingga buzzer yang dibayar 70.000 akun. Dari koperasi Hatta hingga oligarki digital. Dari Jalan Tengah Nasution hingga revisi UU TNI 2025. Dari Tirto Adhi Soerjo hingga influencer yang menjual narasi. Dari Natsir dan Gus Dur hingga Aksi 212. Dari S.K. Trimurti yang terlupakan hingga Tiyo Ardianto yang mobilnya dipasangi alat pelacak. Buku ini membedah aturan main, siapa yang membuat, siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan siapa yang mati di antrean rumah sakit. Ia tidak berhenti pada kritik. Ia menawarkan solusi yang praktis: membaca, berpikir, bertanya, menulis, berdiskusi, mengorganisir, melawan, tidak diam. Ditulis untuk Generasi Z, generasi yang paling terdidik tetapi paling frustrasi. Generasi yang melihat korupsi di mana-mana, ketidakadilan di mana-mana, dan bertanya: "Apa yang bisa saya lakukan?" Buku ini adalah jawabannya. Bukan jawaban yang mudah. Bukan jawaban yang muluk-muluk. Tetapi jawaban yang dimulai dari satu hal: memahami. Karena tidak ada perubahan tanpa pemahaman. Tidak ada perlawanan tanpa pengetahuan. Tidak ada kemenangan tanpa strategi. Di akhir perjalanan, satu pertanyaan akan menggantung. Menghantui. Membuat Anda tidak bisa tidur nyenyak: Indonesia mana yang belum selesai? Selamat membaca. Selamat berpikir. Selamat melawan.

Lihat Detail

Tentang Produk

Loading...