Deskripsi
Zahra Ali adalah seorang sosiolog yang mampu membaca Irak melalui tubuh perempuan. Di antara puing-puing Baghdad yang hancur akibat invasi 2003, di tengah kebangkitan milisi sektarian dan janji-janji demokrasi yang gagal terwujud, suara perempuan Irak sering kali hanya menjadi catatan kaki dalam narasi besar tentang perang, minyak, dan geopolitik. Zahra Ali menolak pembacaan semacam itu. Baginya, tubuh perempuan Irak bukanlah sekadar korban; ia adalah arsip hidup dari kekerasan kolonial, nasionalisme otoriter, dan perlawanan yang tak pernah padam. Perempuan adalah pusat dari setiap babak sejarah Irak modern, bukan karena mereka pasif, tetapi justru karena mereka terus-menerus berjuang di persimpangan gender, kelas, dan sektarianisme.
Zahra Ali lahir di tengah diaspora Irak, besar di Prancis, dan menempuh pendidikan di École des Hautes Études en Sciences Sociales (EHESS) Paris, salah satu pusat pemikiran kritis Eropa. Di sinilah ia mengasah pisau analisis sosiologisnya di bawah bimbingan para pemikir poskolonial dan feminis. Namun, meskipun terdidik dalam tradisi akademik Prancis, Ali tidak pernah menjadi intelektual yang tercerabut dari akarnya. Riset doktoralnya, yang kemudian menjadi buku monumental Women and Gender in Iraq: Between Nation-Building and Fragmentation (Cambridge University Press, 2018), adalah hasil dari kerja lapangan bertahun-tahun di Irak, di mana ia mewawancarai aktivis perempuan, tokoh masyarakat, politisi, dan warga biasa. Ia berbicara dalam bahasa Arab, mendengarkan kisah-kisah yang jarang terdengar, dan membangun analisis yang menghubungkan teori sosial mutakhir dengan realitas yang berdarah-darah.
Saat ini, Zahra Ali adalah Assistant Professor of Sociology di Rutgers University, Amerika Serikat. Dari posisinya itu, ia terus menulis, mengajar, dan menjadi intelektual publik yang vokal dalam isu-isu keadilan gender, anti-imperialisme, dan solidaritas transnasional. Karya-karyanya telah diterbitkan di jurnal-jurnal terkemuka seperti Signs: Journal of Women in Culture and Society, Feminist Studies, Journal of Middle East Women's Studies, dan Comparative Studies of South Asia, Africa and the Middle East. Ia juga editor bersama dari buku The Oxford Handbook of Contemporary Middle Eastern and North African History (2020), yang menunjukkan keluasan wawasannya melampaui studi gender.
Buku Women and Gender in Iraq adalah magnum opus yang langsung menempatkan Ali sebagai salah satu pemikir terdepan dalam studi gender dan politik Timur Tengah. Buku ini bukan sekadar etnografi; ia adalah teori sosial yang menyapu bersih mitos-mitos tentang perempuan Muslim, tentang gerakan Islam, dan tentang apa yang disebut sebagai "keterbelakangan" masyarakat Arab. Ali menunjukkan bahwa untuk memahami Irak, kita harus memahami bagaimana gender diproduksi dan diperebutkan dalam setiap fase sejarah negara itu: dari era monarki dan republik, melalui kediktatoran Ba'ath, perang Iran-Irak, invasi Kuwait, sanksi ekonomi yang menghancurkan, invasi AS 2003, hingga kebangkitan ISIS dan protes Tishreen 2019. Dalam setiap fase ini, perempuan bukan sekadar penerima pasif kebijakan negara; mereka adalah aktor yang membentuk dan dibentuk oleh dinamika politik yang lebih besar.
Salah satu argumen kunci Ali adalah bahwa proyek nation-building di Irak selalu merupakan proyek gender. Negara Irak modern, sejak pendiriannya oleh kekuatan kolonial Inggris pada 1920-an, telah menggunakan tubuh perempuan sebagai medan untuk membangun legitimasi. Baik rezim Ba'ath sekuler maupun partai-partai Islam pasca-2003 sama-sama mengklaim mewakili "emansipasi perempuan" versi mereka masing-masing, sambil secara simultan membatasi otonomi perempuan melalui hukum keluarga patriarkal, kekerasan, dan kontrol sosial. Ali menyebut ini sebagai "paradoks gender negara Irak" , sebuah negara yang secara konstitusional menjanjikan kesetaraan, tetapi secara struktural mempertahankan subordinasi perempuan.
Ali juga memberikan perhatian yang sangat besar pada gerakan Islam dan perempuan, sebuah topik yang sering diabaikan atau disalahpahami oleh feminis arus utama. Ia menolak dikotomi sederhana antara "feminisme sekuler" yang baik dan "perempuan Islam" yang terbelakang. Melalui riset etnografisnya, Ali menemukan bahwa banyak aktivis perempuan di Irak justru menemukan ruang untuk agensi dan perlawanan dalam kerangka Islam. Gerakan-gerakan seperti Al-Amal dan berbagai organisasi perempuan Syiah menawarkan bentuk-bentuk mobilisasi yang tidak bisa direduksi menjadi "kesadaran palsu" atau "patriarki yang diinternalisasi." Sebaliknya, mereka menunjukkan bahwa Islam politik, dalam konteks tertentu, bisa menjadi sumber daya untuk kritik sosial dan pemberdayaan kolektif. Ini adalah temuan yang provokatif dan menantang banyak asumsi feminis Barat.
Yang juga sangat berharga adalah analisis Ali tentang politik pascakonflik. Ia tidak hanya mendokumentasikan kekerasan yang dialami perempuan Irak selama perang dan pendudukan, mulai dari pemerkosaan oleh pasukan AS hingga perbudakan seksual oleh ISIS, tetapi juga menganalisis bagaimana kekerasan ini digunakan oleh berbagai aktor politik untuk melegitimasi agenda mereka. Perempuan Yazidi yang diperkosa ISIS, misalnya, menjadi simbol yang dimobilisasi oleh pemerintah Kurdi, pemerintah pusat Irak, dan organisasi internasional untuk mengklaim legitimasi moral, sementara kebutuhan nyata para penyintas sering kali diabaikan. Ali menyebut ini sebagai "politik representasi" yang mengeksploitasi penderitaan perempuan tanpa benar-benar memberdayakan mereka.
Pengabdian Zahra Ali tidak hanya akademik. Ia adalah bagian dari gerakan solidaritas global untuk keadilan di Irak dan Palestina. Ia sering tampil di media, menulis esai untuk publik luas, dan terlibat dalam proyek-proyek dokumenter yang mengangkat suara perempuan Irak. Dalam setiap tulisannya, ada komitmen yang mendalam terhadap keadilan epistemik: keyakinan bahwa pengetahuan tentang Timur Tengah harus diproduksi dengan menghormati suara, pengalaman, dan analisis dari mereka yang hidup di sana, bukan sekadar diimpor dari kerangka teoretis Barat.
Bagi Gen Z dan mahasiswa yang baru memasuki diskusi tentang politik global, pemikiran Zahra Ali adalah semacam "upgrade" radikal atas cara kita memahami Timur Tengah. Ia menolak narasi simplistik tentang "benturan peradaban" dan "penindasan perempuan Muslim." Sebaliknya, ia menawarkan analisis yang kompleks, historis, dan berbasis bukti tentang bagaimana gender, kelas, dan imperialisme saling terkait. Membaca Ali berarti belajar bahwa solidaritas sejati bukanlah tentang "menyelamatkan perempuan Muslim," melainkan tentang mendengarkan mereka, belajar dari perjuangan mereka, dan berdiri bersama mereka melawan struktur penindasan global.
Esai ini akan menyelami pemikiran Zahra Ali dalam dua belas bagian. Kita akan melacak bagaimana ia membangun kerangka teoretisnya, menganalisis sejarah Irak melalui lensa gender, membongkar paradoks negara, mengeksplorasi gerakan Islam dan perempuan, dan akhirnya merenungkan pelajaran dari Irak untuk perjuangan keadilan gender di seluruh dunia. Selamat membaca. Semoga setelah ini, Anda tidak hanya lebih memahami Irak, tetapi juga lebih kritis terhadap cara media dan akademisi arus utama menceritakan kisah tentang perempuan Muslim.
