Pengantar Ilmu Hubungan Internasional Perspektif Barat, Rusia, Tiongkok, dan Iran

Lihat Detail

Deskripsi

PRAKATA

Pengantar, Sebuah Peta Baru untuk Dunia yang Berubah

Buku yang ada di tangan Anda ini bukanlah buku pengantar Hubungan Internasional (HI) biasa. Ia lahir dari kegelisahan intelektual yang panjang, dan dari sebuah keyakinan sederhana namun radikal: bahwa cara kita selama ini diajarkan memahami dunia tidak lagi memadai untuk memahami dunia yang sedang berubah dengan cepat.

Selama puluhan tahun, mahasiswa HI di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, belajar dari teks-teks klasik yang telah menjadi standar. Buku Introduction to International Relations karya Robert Jackson dan Georg Sørensen, misalnya, memberikan fondasi yang kuat tentang anarki, kedaulatan, dan interaksi antarnegara. Demikian pula, karya-karya seperti The Globalization of World Politics (John Baylis, Steve Smith, dan Patricia Owens) atau International Relations Theories: Discipline and Diversity (Tim Dunne, Milja Kurki, dan Steve Smith) telah menjadi rujukan wajib di banyak universitas. Di Indonesia, buku-buku seperti Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi karya Mohtar Mas'oed, atau Pengantar Studi Hubungan Internasional yang diterjemahkan dari karya Jackson & Sørensen, juga telah membentuk cara berpikir generasi sarjana HI.

Buku-buku ini memiliki satu kesamaan mendasar: mereka semua berangkat dari tradisi intelektual Barat. Sejarah sistem internasional yang mereka ceritakan hampir selalu dimulai dari Perdamaian Westphalia pada 1648, atau dari pemikiran Thucydides dan Machiavelli. Teori-teori utama yang mereka bahas, realisme, liberalisme, konstruktivisme, adalah produk dari pengalaman Eropa dan Amerika Utara. Dunia non-Barat, jika muncul sama sekali, seringkali hanya sebagai objek: sebagai negara yang "gagal", sebagai korban kolonialisme, atau sebagai studi kasus untuk menguji teori-teori yang lahir di tempat lain.

Buku yang sedang Anda baca ini mencoba melakukan sesuatu yang berbeda.

Jebakan Narasi Tunggal

Ada sebuah kalimat yang sering dikutip dari Robert Cox, seorang sarjana Kanada yang membawa perspektif Gramscian ke dalam studi HI: "Teori selalu untuk seseorang dan untuk suatu tujuan." Kalimat ini bukan sekadar aforisme akademik. Ia adalah pengingat bahwa setiap kerangka teoretis, bahkan yang paling "netral" sekalipun, membawa kepentingan, sejarah, dan pilihan.

Buku-buku pengantar HI arus utama, meskipun ditulis dengan niat baik dan seringkali dengan keahlian yang luar biasa, tidak pernah benar-benar netral. Mereka adalah produk dari suatu tempat, suatu waktu, dan suatu tradisi intelektual. Seperti yang dicatat oleh Amitav Acharya dan Barry Buzan dalam karya penting mereka, Non-Western International Relations Theory: Perspectives on and Beyond Asia(2010), disiplin HI masih sangat didominasi oleh pendekatan dan sikap Barat. Bahkan ketika penulisnya berasal dari Afrika, Asia, atau Timur Tengah, mereka cenderung telah dilatih di Barat dan menggunakan metode analitis Barat, bukan metode yang tumbuh dari akar budaya mereka sendiri.

Ini bukan konspirasi. Ini cuma cara kerja kekuasaan dalam produksi pengetahuan. Negara yang menang dalam Perang Dunia II dan Perang Dingin bukan hanya mengekspor barang dan senjata; mereka juga mengekspor cara berpikir.

Namun, ada harga yang harus dibayar ketika kita hanya belajar dari satu sudut pandang. Ketika teori realisme mengajarkan bahwa dunia adalah arena anarki di mana setiap negara mengejar kepentingannya sendiri, ia mengabaikan tradisi-tradisi pemikiran yang menekankan harmoni, relasionalitas, dan tanggung jawab kolektif. Ketika teori liberalisme mengajarkan bahwa demokrasi adalah jalan menuju perdamaian, ia mengabaikan pengalaman negara-negara yang telah mengalami demokrasi yang diimpor dari luar dan menemukan bahwa demokrasi tanpa kedaulatan ekonomi hanyalah kemerdekaan semu.

Acharya dan Buzan, dalam pengantar buku mereka, membangun argumen dari pernyataan Cox ini untuk menunjukkan bahwa "neorealisme dan neoliberalisme adalah untuk AS, dan tentang menjaga AS tetap nomor satu; English School adalah untuk Inggris dan tentang menggunakan institusi untuk memungkinkan kekuatan yang sedang menurun untuk memiliki pengaruh yang melampaui bobotnya; dan mazhab China akan menjadi untuk China dan tentang bagaimana memfasilitasi kebangkitannya yang damai". Formulasi ini mungkin terdengar sinis, tetapi ia mengandung kebenaran yang mendalam: tidak ada teori yang lahir di ruang hampa. Setiap teori adalah produk dari pengalaman historis tertentu, dan pengalaman itu membentuk pertanyaan yang diajukan, konsep yang digunakan, dan jawaban yang dianggap memadai.

Ilusi Universalisme

Salah satu klaim yang paling sering diajukan oleh buku-buku pengantar HI arus utama adalah bahwa teori-teori yang mereka sajikan bersifat universal. Realisme, kata mereka, berlaku di mana saja dan kapan saja. Liberalisme, kata mereka, adalah resep untuk perdamaian yang bisa diterapkan di seluruh dunia. Konstruktivisme, kata mereka, menjelaskan bagaimana norma-norma internasional terbentuk dan menyebar.

Tapi apakah ini benar?

Mari kita ambil satu contoh. Teori "perdamaian demokratis" menyatakan bahwa negara-negara demokrasi hampir tidak pernah saling berperang. Klaim ini didukung oleh bukti statistik yang kuat, dan telah menjadi salah satu proposisi paling berpengaruh dalam ilmu politik kontemporer. Tetapi ketika teori ini diterapkan pada realitas Asia Tenggara, kawasan yang telah menikmati perdamaian antarnegara yang luar biasa selama beberapa dekade, meskipun sebagian besar negaranya bukan demokrasi liberal, teori ini tidak lagi memadai. Kawasan ini telah menikmati apa yang oleh Timo Kivimäki disebut sebagai "Perdamaian Panjang ASEAN", dan perdamaian ini terjadi di antara negara-negara yang sebagian besar bukan demokrasi. Perdamaian antarnegara tidak selalu membutuhkan demokrasi liberal. "ASEAN Way", dengan penekanannya pada konsensus, non-intervensi, dan penyelesaian sengketa secara damai, adalah seperangkat norma alternatif yang telah menghasilkan hasil serupa dengan perdamaian demokratis, tetapi melalui mekanisme yang berbeda.

Ini adalah contoh bagaimana teori yang lahir dari pengalaman Barat tidak selalu mampu menjelaskan realitas non-Barat. Dan ini bukan kasus yang terisolasi.

Dari Westphalia ke Madinah

Salah satu kebohongan yang diajarkan di hampir semua kelas Pengantar HI adalah bahwa sistem internasional modern lahir pada 1648, di dua kota kecil di Jerman, ketika para penguasa Eropa yang kelelahan menandatangani Perjanjian Westphalia. Sejak saat itu, kata para dosen, dunia terdiri dari negara-negara berdaulat yang setara secara hukum.

Kebohongan itu tidak sepenuhnya salah. Westphalia memang penting. Tetapi ia bukan awal dari segalanya. Ia adalah satu bab dalam cerita yang jauh lebih panjang, yang dimulai jauh sebelum 1648, di tempat-tempat yang tidak pernah disebut dalam buku teks standar.

Para sejarawan revisionis dalam disiplin HI sendiri telah menunjukkan bahwa narasi standar tentang Westphalia sebagai "momen kelahiran kedaulatan" adalah mitos yang lebih merupakan konstruksi sarjana abad ke-20 daripada realitas historis abad ke-17. Thomas Peak, dalam Westphalia from Below, berargumen bahwa narasi ini lebih merupakan konstruksi para sarjana HI abad ke-20 daripada realitas historis abad ke-17. Benno Teschke, dalam The Myth of 1648 , berargumen bahwa sistem negara-bangsa modern tidak lahir pada 1648, melainkan pada abad ke-19, sebagai konsekuensi dari perkembangan kapitalisme.

Namun, bahkan kritik-kritik revisionis ini masih beroperasi dalam kerangka Eropa. Mereka mempertanyakan kapan Westphalia terjadi, tetapi tidak mempertanyakan mengapa kita harus memulai dari Westphalia sama sekali.

Artikel terbaru tentang "Madinan Realism" menawarkan alternatif yang menarik. Artikel ini berargumen bahwa begitu fondasi Westphalia dikesampingkan, disiplin HI masih kekurangan sumber-sumber non-Barat yang berbasis historis untuk memikirkan tentang pluralisme politik. Artikel ini kemudian beralih ke dua dokumen kenegaraan Islam awal, Piagam Madinah (622 M) dan Perjanjian Hudaybiyyah (628 M), sebagai sumber utama untuk model yang disebut "Madinan Realism". Artikel ini berargumen bahwa perjanjian-perjanjian berlapis ini memberikan analogi parsial dan terbatas secara historis terhadap pluralisme kovenan kontemporer, bukan antisipasi lengkap atau template hukum.

Apa artinya ini? Artinya, ada tradisi-tradisi pemikiran tentang tatanan dunia yang jauh lebih tua dari Westphalia, yang lahir dari pengalaman peradaban yang berbeda, dan yang menawarkan wawasan yang tidak ditemukan dalam teori-teori Barat. Piagam Madinah, misalnya, tidak menuntut homogenitas. Ia tidak mengatakan bahwa semua orang harus menjadi Muslim. Ia tidak mengatakan bahwa semua orang harus berbicara bahasa Arab. Ia mengatakan: kalian berbeda, itu fakta. Mari kita buat aturan supaya perbedaan ini tidak menjadi alasan untuk saling membunuh.

Ini bukan sekadar anekdot sejarah. Ini adalah bukti bahwa konsepsi tentang kedaulatan, diplomasi, dan hubungan antar-entitas politik tidak lahir di Eropa pada abad ke-17. Ia sudah ada jauh sebelumnya, di tempat-tempat yang tidak pernah disebut dalam buku-buku teks standar.

Dari Kesunyian ke Banyak Suara

Buku ini tidak hanya menambahkan suara-suara non-Barat sebagai pelengkap. Ia mengubah cara kita memahami HI itu sendiri.

Pertama, ia mengubah pertanyaan. Alih-alih hanya bertanya "bagaimana sistem internasional bekerja?", ia juga bertanya "siapa yang diuntungkan, dan siapa yang dirugikan?" Alih-alih hanya bertanya "bagaimana negara bisa bekerja sama dalam anarki?", ia juga bertanya "bagaimana caranya supaya diakui sebagai negara?" Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar variasi dari pertanyaan yang sama. Mereka adalah pertanyaan yang berbeda, yang lahir dari pengalaman yang berbeda, dan yang menghasilkan jawaban yang berbeda.

Kedua, ia mengubah konsep. Alih-alih hanya menggunakan konsep-konsep yang lahir dari pengalaman Eropa, anarki, kedaulatan, perimbangan kekuatan, ia juga memperkenalkan konsep-konsep yang lahir dari pengalaman non-Barat. Dari Rusia, ada konsepDerzhava , kekuatan besar, tetapi bukan dalam arti material semata, melainkan dalam arti martabat, kehormatan, dan pengakuan. Andrei P. Tsygankov, dalam Russian Realism: Defending 'Derzhava' in International Relations , berargumen bahwa realisme Rusia berbeda dari realisme Barat dalam penekanannya pada identitas dan nilai-nilai spiritual, bukan sekadar kekuasaan material semata. Dari China, ada konsep Tianxia , "segala sesuatu di bawah langit", sebuah visi tatanan dunia yang hierarkis, inklusif, dan berpusat pada tanggung jawab moral kekuatan pusat. Dari Iran, ada konsep keadilan yang berakar pada tradisi Syiah, yang menekankan perlawanan terhadap tirani dan pembelaan terhadap yang tertindas.

Ketiga, ia mengubah aktor. Alih-alih hanya berbicara tentang negara-bangsa sebagai aktor utama, ia juga berbicara tentang peradaban, tentangummah , tentang jaringan advokasi transnasional, tentang perusahaan multinasional, dan tentang individu. Ini bukan berarti bahwa negara-bangsa tidak penting. Ini berarti bahwa negara-bangsa bukanlah satu-satunya aktor yang penting, dan bahwa memahami politik global membutuhkan pemahaman tentang aktor-aktor lain yang seringkali diabaikan.

Mengapa Ini Penting bagi Mahasiswa Indonesia

Bagi mahasiswa HI di Indonesia, buku ini memiliki relevansi yang sangat langsung.

Pertama, karena Indonesia adalah negara yang memiliki tradisi intelektual sendiri. Mohtar Mas'oed, Juwono Sudarsono, dan banyak sarjana Indonesia lainnya telah mengembangkan perspektif yang khas Indonesia tentang HI, perspektif yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar adaptasi dari teori-teori Barat. Buku ini menghargai tradisi itu, dan mengajak Anda untuk menjadi bagian darinya.

Kedua, karena Indonesia adalah negara yang pernah mengalami kolonialisme. Pengalaman itu membentuk cara Indonesia memandang dunia, cara yang berbeda dari cara negara-negara Eropa memandangnya. Buku ini mengakui pengalaman itu, dan mengajak Anda untuk memikirkannya sebagai sumber pengetahuan, bukan sebagai beban sejarah.

Ketiga, karena Indonesia adalah negara yang berada di tengah pusaran persaingan kekuatan besar. Untuk menavigasi pusaran itu, Anda membutuhkan alat analisis yang lebih kaya daripada yang ditawarkan oleh teori-teori Barat arus utama. Anda membutuhkan pemahaman tentang bagaimana Rusia memandang dunia, bagaimana China memandang dunia, bagaimana Iran memandang dunia. Anda membutuhkan pemahaman tentang bagaimana negara-negara di Global South membangun solidaritas di antara mereka sendiri.

Buku ini dirancang untuk memberikan kontribusi keilmuan HI non-Barat yang sifatnya membebaskan, keluar dari belenggu kolonialisme dan imperialisme akademis. Melalui pendekatan non-Barat dengan alur pikir keindonesiaan (perspektif Indonesia), para kontributor mengajak para pelajar HI di Indonesia untuk tidak lagi menerima begitu saja logika berpikir kekuasaan Barat mengenai anarki, yang kuat mendominasi, yang lemah terpinggirkan.

Sebuah Peta yang Terus Bergerak

Satu hal yang perlu Anda ingat, buku ini bukanlah kebenaran akhir. Ia adalah sebuah peta. Dan seperti semua peta, ia tidak pernah sepenuhnya akurat. Dunia terus berubah, dan peta ini akan terus berkembang.

Acharya dan Buzan, dalam buku mereka, mencatat bahwa mungkin ada dorongan untuk memulihkan sejarah peradaban sebelum perjumpaan dengan Barat sebagai sumber alternatif terhadap model Eurosentris, tetapi juga mungkin ada dorongan untuk mengkonstruksi sejarah untuk melayani kepentingan kebijakan saat ini. Buku ini berusaha untuk melakukan yang pertama, memulihkan sejarah, tanpa jatuh ke dalam jebakan yang kedua.

Kami berharap Anda tidak hanya membaca buku ini, tetapi juga mempertanyakannya. Kami berharap Anda tidak hanya menerima apa yang kami tulis, tetapi juga mencari perspektif lain. Kami berharap Anda tidak hanya belajar tentang dunia, tetapi juga belajar tentang bagaimana dunia bisa diubah.

Pada akhirnya, buku ini adalah sebuah undangan. Undangan untuk melihat dunia dari banyak jendela, bukan hanya satu. Undangan untuk mendengarkan suara-suara yang selama ini diabaikan. Dan undangan untuk menjadi bagian dari percakapan besar tentang bagaimana kita bisa membangun tatanan dunia yang lebih adil, lebih damai, dan lebih manusiawi.

Selamat membaca. Selamat menjelajah.

DAFTAR ISI

Daftar Isi

CopyLeft ii

PRAKATA iii

Pengantar, Sebuah Peta Baru untuk Dunia yang Berubah iii

Jebakan Narasi Tunggal iv

Ilusi Universalisme vi

Dari Westphalia ke Madinah vii

Dari Kesunyian ke Banyak Suara ix

Mengapa Ini Penting bagi Mahasiswa Indonesia xi

Sebuah Peta yang Terus Bergerak xii

GLOSARIUM xiv

DAFTAR ISI xlv

Bab 1 Apa Itu Hubungan Internasional, dan Mengapa Kau Harus Peduli 1

Definisi yang Tidak Sepakat Sepakat 2

Melihat dari Jakarta, Moskow, Beijing, dan Tehran 3

Mengapa Ini Penting bagi Kita 5

Apa yang Akan Kau Temukan di Buku Ini 6

Daftar Pustaka Berkomentar 7

Bab 2 Sebelum Westphalia 13

Piagam Madinah, Surat-surat Nabi, dan Sejarah yang Tidak Pernah Diceritakan 13

Piagam Madinah, Konstitusi Pertama yang Jarang Disebut 14

Surat-surat Nabi, Diplomasi Antar-Peradaban 16

Westphalia, Apa yang Sebenarnya Terjadi? 17

Melihat dari Moskow, Kehormatan yang Ditolak 18

Melihat dari Beijing, Abad Penghinaan dan Tianxia 20

Melihat dari Tehran, Provinsialisasi HI 22

Melihat dari Dunia Pascakolonial, Luka yang Tidak Pernah Sembuh 23

Dekolonisasi, Ketika Mereka yang Diam Mulai Berbicara 24

Indonesia, Anak Kandung Dekolonisasi 25

Dari Madinah ke Westphalia ke Polycrisis 26

Daftar Pustaka Berkomentar 27

Bab 3 Negara, dan Ilusi Bahwa Ia Sendirian 33

Mengapa Negara Dianggap Aktor Utama? 34

Enam Topi yang Dipakai Negara 35

Antara Kemunduran dan Ketangguhan 38

Melihat dari Moskow, Derzhava dan Sentralitas Negara 39

Melihat dari Tehran, Negara sebagai Penjaga Revolusi 42

Melihat dari Beijing, Negara sebagai Penjaga Peradaban 43

Negara dalam Perspektif Pascakolonial 44

Indonesia, Negara yang Sedang Menjadi 45

Mengapa Negara Tidak Pernah Benar-Benar Sendirian 46

Daftar Pustaka Berkomentar 47

Bab 4 Aktor Lain di Panggung yang Sama 51

Perserikatan Bangsa-Bangsa, Raksasa yang Lumpuh 52

Perusahaan Multinasional, Raksasa yang Tidak Terpilih 55

Organisasi Non-Pemerintah, Suara yang Tidak Diundang 57

Melihat dari Moskow, NGO sebagai Kuda Troya 59

Melihat dari Beijing, Negara Harus Memegang Kendali 60

Melihat dari Tehran, Keadilan sebagai Mandat 61

Indonesia dan Aktor Non-Negara 62

Negara Tidak Pernah Sendirian, Tetapi Tetap yang Pertama 64

Daftar Pustaka Berkomentar 65

Bab 5 Realisme 67

Dunia Tanpa Polisi 67

Mengapa Realisme Begitu Kuat? 68

Akar Filosofis, Dari Melos ke Leviathan 69

Morgenthau, Enam Prinsip Realisme Politik 71

Waltz, Revolusi Neorealisme 74

Ofensif vs. Defensif, Perdebatan di Dalam Realisme 77

Melihat dari Moskow, Derzhava dan Pengejaran Kebesaran 78

Melihat dari Beijing, Realisme Moral dan Kekuatan Nasional Komprehensif 80

Melihat dari Tehran, Realisme Revolusioner 81

Melihat dari Dunia Pascakolonial, Realisme Orang yang Terjajah 82

Menguji Realisme, Kasus Ukraina 83

Kritik terhadap Realisme 84

Indonesia dan Realisme 86

Apakah Realisme Benar? 88

Daftar Pustaka Berkomentar 89

Bab 6 Liberalisme 93

Janji yang Belum Tuntas 93

Akar Filosofis, Locke, Smith, dan Kant 94

Tiga Tradisi Liberal 97

Teori Perdamaian Demokratis 98

Kritik terhadap Teori Perdamaian Demokratis 100

Neo-Liberalisme Institusional 101

Interdependensi Kompleks 102

Debat Neo-Neo 103

Interdependensi dan Perdamaian, Janji yang Belum Tuntas 105

Melihat dari Beijing, Liberalisme dengan Karakteristik Tiongkok 106

Melihat dari Tehran, Liberalisme sebagai Ancaman 107

Melihat dari Dunia Pascakolonial, Liberalisme sebagai Janji yang Dikhianati 108

Indonesia dan Liberalisme, Antara Prinsip dan Pragmatisme 109

Krisis Liberal International Order 110

Apakah Liberalisme Benar? 111

Daftar Pustaka Berkomentar 112

Bab 7 Teori Kritis 116

Pertanyaan yang Tidak Nyaman 116

Akar Marxis, Materialisme Historis dan Kritik Kapitalisme 117

Materialisme Historis, Sejarah dari Bawah 117

Kapitalisme sebagai Sistem Global 118

Kritik terhadap Kapitalisme sebagai Sistem Internasional 119

Lenin, Imperialisme sebagai Tahap Tertinggi Kapitalisme 120

Konteks, Perang Dunia I sebagai Perang Imperialis 120

Argumen Lenin, Kapitalisme Monopoli dan Ekspansi Imperialis 121

Kontribusi Lenin, Menghubungkan Ekonomi dan Konflik 121

Relevansi Kontemporer, Apakah Imperialisme Masih Ada? 122

Teori Dependensi, Pembangunan dari Keterbelakangan 123

Janji Modernisasi yang Tidak Terpenuhi 123

Andre Gunder Frank, "Pembangunan dari Keterbelakangan" 124

Mekanisme Ketergantungan Struktural 125

Kritik dan Keterbatasan Teori Dependensi 126

Wallerstein, Analisis Sistem Dunia 127

Sistem Dunia sebagai Unit Analisis 127

Hierarki Tiga Tingkat, Pusat, Semi-Pinggiran, Pinggiran 128

Mekanisme Redistribusi dari Pinggiran ke Pusat 129

Krisis Kontemporer Sistem Dunia 130

Neo-Gramscianisme, Hegemoni sebagai Konsensus dan Koersi 131

Teori Pemecahan Masalah vs. Teori Kritis 131

Hegemoni Menurut Gramsci dan Cox 132

Peran Kekuatan Sosial dan Blok Historis 133

Studi Keamanan Kritis, Dari Keamanan Negara ke Keamanan Manusia 134

Perluasan dan Pendalaman Agenda Keamanan 134

Emansipasi sebagai Inti Studi Keamanan Kritis 135

Sekuritisasi, Ketika Sesuatu Menjadi Masalah Keamanan 136

Melihat dari Beijing, Kritik terhadap Hegemoni Epistemik 137

Hegemoni Epistemik dan Kritik terhadap Eurosentrisme 137

Su Changhe dan Teori Simbiosis (Gongsheng) 138

Melihat dari Tehran, Keadilan sebagai Kritik 139

Melihat dari Dunia Pascakolonial, Luka yang Tidak Pernah Sembuh 140

Kolonialisasi Kesadaran 141

Neokolonialisme, Kemerdekaan Semu 141

Indonesia dan Teori Kritis, Antara Relevansi dan Ketidaknyamanan 142

Keamanan Pangan, Ketergantungan yang Tidak Perlu 142

Keamanan Energi dan Sumber Daya, Kutukan Sumber Daya 143

Utang Luar Negeri dan Ketergantungan Fiskal 144

Gerakan Sosial Transnasional, Perlawanan dari Bawah 145

Apakah Teori Kritis Benar? 146

Daftar Pustaka Berkomentar 147

Bab 8 Konstruktivisme dan English School 150

Ketika Ide Mengubah Segalanya 150

Anarki adalah Apa yang Negara-Negara Perbuat Darinya 151

Akar Intelektual Konstruktivisme 154

Norma, Identitas, dan Logika Kepatutan 155

Identitas sebagai Variabel Utama 157

Perubahan Identitas dan Struktur 158

English School, Masyarakat di Tengah Anarki 159

Tiga Tradisi Martin Wight 161

Debat Pluralis-Solidaris 162

Hubungan antara Konstruktivisme dan English School 163

Melihat dari Beijing, Relasionalitas dan Tianxia 164

Melihat dari Moskow, Peradabanisme dan Identitas 165

Melihat dari Tehran, Ummah dan Keadilan 166

Melihat dari Dunia Pascakolonial, Masyarakat yang Tidak Setara 167

Indonesia, Identitas "Bebas-Aktif" sebagai Konstruksi Sosial 167

ASEAN Way, Masyarakat Internasional dalam Skala Regional 168

Transformasi NATO, Mengapa Aliansi Bertahan Setelah Musuh Hilang 170

Tantangan Kontemporer, Norma yang Diperebutkan 171

Daftar Pustaka Berkomentar 174

Bab 9 Politik Luar Negeri dan Diplomasi 178

Seni Berbohong untuk Kebaikan yang Lebih Besar 178

Analisis Kebijakan Luar Negeri, Membuka Kotak Hitam 179

Tiga Model Allison, Melihat Krisis dari Tiga Lensa 179

Melihat dari Jakarta, Politik Birokratik dalam Konteks Indonesia 182

Diplomasi, Definisi dan Fungsi 183

Sejarah Diplomasi, Dari Utusan Kerajaan hingga Diplomat Profesional 184

Bentuk-Bentuk Diplomasi Kontemporer 185

Tahapan Proses Negosiasi 187

Strategi dalam Negosiasi Internasional 188

Melihat dari Jakarta, BATNA Indonesia di Laut China Selatan 190

Diplomasi Multi-Jalur, Melampaui Track One 190

Politik Luar Negeri Indonesia, Bebas-Aktif dari Hatta hingga Prabowo 192

Kelahiran Prinsip "Bebas-Aktif" 192

Implementasi Historis, Dari Sukarno hingga Yudhoyono 193

Dinamik Kontemporer, Jokowi dan Prabowo 194

Melihat dari Luar, Bagaimana Negara Lain Memandang "Bebas-Aktif" 196

Apakah Politik Luar Negeri dan Diplomasi Itu Penting? 197

Daftar Pustaka Berkomentar 198

Bab 10 Perang, Keamanan, dan Terorisme 201

Dunia yang Tidak Pernah Benar-Benar Damai 201

Dari Keamanan Negara ke Keamanan Manusia 202

Sekuritisasi, Ketika Sesuatu Menjadi Masalah Keamanan 203

Penyebab Perang, Tiga Citra Waltz 204

Dilema Keamanan, Ketika Mencari Keamanan Justru Menciptakan Ketidakamanan 206

Dua Jenis Dilema Keamanan 207

Faktor-Faktor yang Memperburuk atau Meredakan Dilema 208

Melihat dari Dunia Pascakolonial, Dilema Keamanan yang Tidak Simetris 209

Old War vs New War, Transformasi Konflik 210

Keamanan Non-Tradisional, Ancaman yang Melampaui Militer 212

Keamanan Kesehatan Global, Pandemi sebagai Ancaman Keamanan 212

Perubahan Iklim dan Keamanan, Ancaman Pengganda 213

Terorisme, Definisi, Evolusi, dan Gelombang Global 213

Teori Gelombang Rapoport 214

Melihat dari Tehran, Terorisme atau Perlawanan? 215

Terorisme di Indonesia, Dari Bom Bali hingga Sel-Sel Kontemporer 216

Transformasi Konflik, Dari Kekerasan ke Perdamaian 217

Studi Kasus, Transformasi Konflik di Aceh 218

Ancaman Keamanan di Laut Natuna 220

Kontraterorisme dan Deradikalisasi, Model Indonesia 220

Keamanan Maritim dan Ketahanan Energi 221

Perubahan Iklim, Ancaman Eksistensial bagi Negara Kepulauan 221

Apakah Keamanan Itu Penting? 222

Daftar Pustaka Berkomentar 223

Bab 11 Ekonomi Politik Internasional dan Globalisasi 227

Ketika Uang Berbicara Lebih Keras dari Tank 227

Apa Itu Ekonomi Politik Internasional? 228

Tiga Perspektif Utama dalam EPI 229

Sejarah Singkat EPI, Dari Merkantilisme ke Globalisasi 231

Teori Keunggulan Komparatif dan Kritiknya 232

Dari GATT ke WTO, Evolusi Rezim Perdagangan Global 233

Sistem Bretton Woods dan Lahirnya IMF dan Bank Dunia 235

IMF dan Program Penyesuaian Struktural 236

Globalisasi, Definisi, Gelombang, dan Sengketa Teoretis 237

Debat tentang Globalisasi, Hiper-Globalis, Skeptis, dan Transformasionalis 238

Kesenjangan Global, Antara Konvergensi dan Divergensi 239

Kesenjangan di Indonesia 240

Kedaulatan Ekonomi di Era Globalisasi 241

Melihat dari Beijing, Liberalisasi Strategis 241

Melihat dari Moskow, Kedaulatan Ekonomi sebagai Kedaulatan Politik 243

Melihat dari Tehran, Ekonomi Perlawanan 243

Melihat dari Dunia Pascakolonial, Kedaulatan yang Dirampas 244

Indonesia, Dilema Kedaulatan Ekonomi 245

Hilirisasi, Strategi Merebut Kembali Kedaulatan Ekonomi 246

Tren Kontemporer, Deglobalisasi dan Perang Dagang 247

Ekonomi Digital, Medan Pertempuran Baru 248

Krisis Keuangan, Bayang-Bayang 1998 249

Daftar Pustaka Berkomentar 250

Bab 12 Organisasi Internasional, Hukum, dan HAM 254

Janji yang Ditulis di Atas Kertas 254

Rezim Internasional, Ketika Aturan Bertemu Realitas 255

Mengapa Negara Membentuk dan Mematuhi Rezim? 256

Mengukur Efektivitas Rezim 257

Hukum Internasional, Fondasi yang Rapuh 258

Kelahiran Rezim HAM Internasional 259

Instrumen Hukum HAM Utama 260

Melihat dari Beijing dan Tehran, Universalitas vs. Relativitas 261

Mekanisme Penegakan HAM Global, Antara Harapan dan Realitas 262

Melihat dari Moskow dan Beijing, Kedaulatan sebagai Pelindung 264

Intervensi Kemanusiaan, Dari Kosovo ke R2P 264

Sistem HAM Regional, Pengadilan yang Lebih Efektif? 267

Melihat dari Dunia Pascakolonial, HAM sebagai Alat Kekuasaan? 267

Indonesia dan HAM Internasional, Antara Kemajuan dan Kemunduran 268

Dilema Indonesia, Kedaulatan vs. HAM dalam Praktik 269

Diplomasi HAM Indonesia, Antara Pragmatisme dan Prinsip 270

Apakah Organisasi Internasional, Hukum, dan HAM Itu Penting? 271

Daftar Pustaka Berkomentar 272

Bab 13 Krisis Iklim dan Pembangunan 275

Ketika Bumi Mengirim Tagihan 275

Mengapa Iklim Menjadi Urusan Hubungan Internasional 276

Empat Perspektif Teoretis tentang Iklim 278

Realisme, Pesimisme yang Tajam 278

Neoliberal Institusionalisme, Optimisme yang Hati-hati 279

Konstruktivisme, Kekuatan Ide dan Pengetahuan 281

Teori Hijau, Kritik yang Paling Radikal 283

Evolusi Rezim Iklim, Dari Stockholm ke Belém 284

Dari MDGs ke SDGs, Pembelajaran dan Transformasi 286

Melihat dari Beijing, Harmoni dan Pembangunan Bersama 287

Melihat dari Tehran, Keadilan Iklim dan Perlawanan 288

Melihat dari Dunia Pascakolonial, Ketidakadilan yang Terstruktur 289

Indonesia, Antara Kerentanan dan Tanggung Jawab 290

Komitmen Iklim Indonesia 291

Tantangan dan Kritik 292

Capaian dan Tantangan SDGs di Indonesia 293

Keadilan Iklim, Pertanyaan yang Tidak Bisa Dihindari 294

Apakah Krisis Iklim dan Pembangunan Itu Penting? 295

Daftar Pustaka Berkomentar 296

Bab 14 Indonesia di Tengah Pusaran Global 299

Negara yang Tidak Pernah Diminta Memilih 299

Melihat Indonesia dari Luar 300

Dari Washington, Mitra yang Penting tetapi Tidak Selalu Menyenangkan 300

Dari Beijing, Mitra Ekonomi yang Tidak Ingin Diatur 301

Dari Moskow, Mitra yang Menarik tetapi Tidak Selalu Sepakat 302

Dari Dunia Pascakolonial, Suara yang Diperhitungkan 303

Indonesia di Tengah Pusaran 303

Pusaran Pertama, Rivalitas AS-China 304

Pusaran Kedua, Laut China Selatan 305

Pusaran Ketiga, Ekonomi Global 305

Pusaran Keempat, Krisis Iklim 306

Pusaran Kelima, Demokrasi dan Otokrasi 307

Bebas-Aktif, Apakah Masih Relevan? 307

Melihat dari Beijing, Bebas-Aktif sebagai Model 308

Melihat dari Moskow, Bebas-Aktif sebagai Perlawanan 309

Melihat dari Tehran, Bebas-Aktif sebagai Keadilan 309

Melihat dari Dunia Pascakolonial, Bebas-Aktif sebagai Harapan 310

Tantangan Terbesar Indonesia 310

Apa yang Bisa Kita Lakukan? 314

Penutup, Yang Tidak Saya Tahu 315

Daftar Pustaka Berkomentar 316

SINOPSIS 319

SINOPSIS

Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, Sebuah Peta Baru untuk Dunia yang Berubah

Apa yang kau ketahui tentang dunia ini, dan dari mana kau tahu bahwa itu benar? Selama puluhan tahun, mahasiswa Hubungan Internasional di seluruh dunia belajar dari buku-buku yang sama. Mereka menghafal Perdamaian Westphalia 1648 sebagai titik nol sistem internasional. Mereka menelan teori realisme, liberalisme, dan konstruktivisme tanpa pernah bertanya: dari mana teori-teori ini berasal, dan mengapa kita tidak pernah mendengar suara dari tempat lain?

Buku ini menolak menerima begitu saja. Ia mengajak kau mempertanyakan apa yang selama ini dianggap sebagai kebenaran universal. Ia menunjukkan bahwa di balik setiap teori ada pengalaman historis tertentu—dan bahwa pengalaman itu tidak selalu sama dengan pengalamanmu.

Apa yang membuat buku ini berbeda?

Pertama, ia tidak memulai dari Westphalia. Ia memulai dari Madinah, dari Piagam Madinah yang ditulis pada 622 Masehi, dari surat-surat Nabi Muhammad kepada Khosrow dan Heraklius. Ia menunjukkan bahwa konsep tentang kedaulatan, diplomasi, dan tatanan dunia sudah ada jauh sebelum negara-bangsa modern lahir di Eropa.

Kedua, ia tidak hanya mendengarkan suara dari London dan New York. Ia mendengarkan suara dari Moskow, dari Beijing, dari Tehran, dan dari dunia pascakolonial. Ia memperkenalkan konsep-konsep seperti Derzhava (Rusia), Tianxia (China), gongsheng (simbiosis), dan keadilan Syiah (Iran)—konsep-konsep yang tidak akan kau temukan di buku teks standar, tetapi yang sangat penting untuk memahami dunia tempat kau tinggal.

Ketiga, ia tidak takut untuk bersikap kritis. Ia tidak hanya menjelaskan teori realisme; ia juga menunjukkan di mana realisme gagal. Ia tidak hanya memuji perdamaian demokratis; ia juga menunjukkan bahwa teori itu memiliki fondasi yang perlu dipertanyakan. Ia tidak hanya mendaftar buku-buku di daftar pustaka; ia mengomentari setiap buku—memuji yang layak dipuji, mengkritik yang layak dikritik.

Keempat, ia ditulis dengan bahasa yang manusiawi. Tidak ada jargon yang berlebihan, tidak ada kalimat yang berbelit-belit, tidak ada halaman yang membosankan. Buku ini ditulis untuk kau—mahasiswa semester awal yang ingin memahami dunia, bukan untuk profesor yang ingin menguji apakah kau sudah membaca.

Untuk siapa buku ini?

Untuk mahasiswa HI semester awal yang ingin memahami dasar-dasar disiplin ini tanpa harus tenggelam dalam lautan jargon. Untuk dosen yang ingin memberikan bacaan yang menantang tetapi tetap dapat diakses. Untuk siapa pun yang pernah membaca berita tentang perang, krisis iklim, atau persaingan AS-China, dan bertanya-tanya: apa sebenarnya yang sedang terjadi di dunia ini?

Apa yang akan kau temukan di dalamnya?

- Sejarah sistem internasional yang tidak dimulai dari Westphalia, tetapi dari Madinah

- Teori-teori besar—realisme, liberalisme, teori kritis, konstruktivisme—yang dijelaskan dengan jernih dan dikritik dengan tajam

- Perspektif non-Barat yang jarang ditemukan di buku teks standar

- Analisis tentang isu-isu kontemporer, perang di Ukraina, krisis iklim, terorisme, ekonomi politik global

- Bab khusus tentang Indonesia, bagaimana negara ini menavigasi pusaran global tanpa kehilangan jati dirinya

- Daftar pustaka yang dikomentari, bukan sekadar daftar, tetapi panduan tentang apa yang layak dibaca dan mengapa

- Glosarium lengkap untuk membantu kau memahami istilah-istilah yang mungkin masih asing

Mengapa kau harus memiliki buku ini?

Karena buku ini bukan sekadar buku teks. Ia adalah undangan untuk berpikir. Ia tidak akan memberimu jawaban yang mudah, tetapi ia akan memberimu pertanyaan yang lebih baik. Ia tidak akan membuatmu merasa nyaman, tetapi ia akan membuatmu lebih jujur.

Di dunia yang penuh dengan kebohongan dan setengah kebenaran, buku ini adalah peta yang bisa kau percaya. Bukan karena ia selalu benar, tetapi karena ia tidak pernah berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Selamat membaca. Selamat menjelajah. Selamat mempertanyakan.

  

Lihat Detail

Tentang Produk

Loading...