Rekonstruksi Togog atas Galaunya Njoto, Muhammad Haris Lukman, Sudisman, dan Sakirman tentang Duet Aidit-Sammy 1964-1965

Lihat Detail

Deskripsi

TOGOG: 

"Enam orang. Enam takdir. Enam kematian. Tapi yang paling menyedihkan bukanlah Aidit. Bukan Sammy. Mereka mati karena pilihan mereka sendiri. Yang paling menyedihkan adalah Njoto, Lukman, Sudisman, dan Sakirman. Mereka mati bukan karena pilihan mereka. Mereka mati karena ketidakmampuan mereka untuk memilih. Mereka adalah empat serangkai keraguan, empat pemimpin yang tahu bahwa ada masalah tapi tidak cukup berani untuk bertindak, empat revolusioner yang terjebak dalam limbo antara kesadaran dan aksi."

TOGOG [berdiri, mengumpulkan kitab-kitabnya]: 

"Apa yang bisa kita pelajari dari semua ini? Banyak. Tapi izinkan aku, Togog, badut profesional, menyimpulkannya dalam beberapa butir sederhana:

Pertama: Sentralisme demokratis tanpa demokrasi adalah fasisme dengan kedok Marxis. Jika pemimpinmu tidak mau dikritik, dia bukan pemimpin. Dia adalah diktator. Tidak peduli berapa banyak Marx, Engels, Lenin yang dia kutip.

Kedua: Kerahasiaan adalah bumbu, bukan menu utama. Sedikit kerahasiaan membuat revolusi lebih aman. Terlalu banyak kerahasiaan membuat revolusi lebih bodoh. Dan revolusi yang bodoh akan kalah oleh kontra-revolusi yang cerdas.

Ketiga: 'Aku tidak setuju' bukanlah tindakan. Itu adalah posisi moral. Posisi moral itu penting, tapi tidak cukup. Sejarah tidak digerakkan oleh posisi moral. Sejarah digerakkan oleh tindakan. Njoto, Lukman, Sudisman, Sakirman punya posisi moral yang benar. Tapi mereka tidak punya tindakan yang benar. Dan itu sebabnya mereka mati.

Keempat: Jika partaimu dijalankan oleh dua orang, partaimu sudah mati. Partai adalah organisasi kolektif. Ketika kolektivitas mati, partai mati. Sisanya hanya soal waktu.

Kelima, dan ini yang paling penting: Jangan pernah menulis surat yang tidak akan kau kirim. Entah itu surat untuk pemimpinmu, untuk kekasihmu, atau untuk sejarah. Kirim surat itu. Atau jangan tulis sama sekali. Karena surat yang tidak dikirim adalah monumen bagi ketidakberanian. Dan dunia sudah terlalu penuh dengan monumen semacam itu."

[Togog mengambil kopernya, siap pergi. Tapi dia berhenti sejenak, menatap ke arah pembaca.]

TOGOG: 

"Oh, satu lagi. Jika suatu hari kau menjadi pemimpin, dan kau punya rencana besar yang hanya kau dan satu orang lain yang tahu, berhentilah sejenak. Tanyakan pada dirimu sendiri: 'Apakah aku sedang menjadi Aidit? Apakah rencanaku ini brilian, atau hanya bodoh yang dibungkus kerahasiaan?' Jika kau tidak bisa menjawab, tanyakan pada kolektifmu. Jika kau takut bertanya pada kolektifmu, maka kau sudah tahu jawabannya."

[Togog berjalan ke arah pintu, lalu berhenti lagi.]

TOGOG: 

"Dan satu lagi. Jika kau adalah Njoto, dan kau tahu pemimpinmu sedang membawa partai menuju jurang, jangan menulis surat. Jangan mengadakan rapat. Jangan 'mencoba berbicara'. Lakukan apa pun yang diperlukan untuk menghentikannya. Bahkan jika itu berarti mengkhianati pemimpinmu. Karena mengkhianati pemimpin yang salah adalah bentuk kesetiaan tertinggi kepada rakyat. Tapi ya, itu hanya pendapatku. Aku cuma Togog. Siapa yang mendengarkan badut?"

[Togog menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan panggung kosong dan kitab-kitab filsafatnya yang berserakan.]

CATATAN PENULIS: MENGAPA TOGOG?

Togog adalah karakter dalam pewayangan Jawa. Ia adalah panakawan, punakawan, badut-bijaksana yang bertugas mengkritik sambil menghibur. Dalam tradisi pedalangan, Togog selalu berada di pihak yang "kalah", ia adalah abdi dari raksasa, musuh para kesatria. Tapi justru karena posisinya yang marginal inilah, Togog bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh para kesatria dan raja.

Saya memilih Togog sebagai narator rekonstruksi ini karena kisah Njoto, Lukman, Sudisman, dan Sakirman adalah kisah tentang orang-orang yang "kalah" dalam sejarah resmi Indonesia. Mereka adalah "raksasa" yang dibunuh oleh "kesatria." Tapi seperti Togog yang selalu mempertanyakan narasi resmi, saya ingin mempertanyakan: apakah mereka benar-benar kalah karena jahat? Atau mereka kalah karena... manusiawi?

Togog, dengan segala humor, satire, dan sinismenya, membantu saya untuk tidak terjebak dalam dua ekstrem: menghakimi mereka sebagai pengkhianat, atau mengagungkan mereka sebagai martir. Togog membantu saya melihat mereka sebagai manusia, dengan segala kontradiksi, ketakutan, dan kegagalannya.

Ini bukanlah karya sejarah akademis. Ini adalah rekonstruksi imajiner yang didasarkan pada sumber-sumber kredibel. Dialog-dialognya adalah fiksi, tapi kegelisahannya nyata. Notulensi-notulensinya adalah interpretasi, tapi pengabaian CC-PKI oleh Aidit adalah fakta. Surat Njoto adalah ciptaan, tapi keterasingan Njoto dari lingkaran inti Aidit adalah realitas.

Saya hanya mencoba melakukan apa yang dilakukan Togog dalam setiap pementasan wayang: duduk di pinggir, menonton tragedi, dan sesekali berbisik, "Itu bodoh sekali. Kenapa mereka melakukan itu?"

Dan mungkin, hanya mungkin, dengan memahami kebodohan masa lalu, kita bisa sedikit lebih bijak di masa depan.

Atau tidak. Togog mungkin akan bilang: "Sejarah tidak mengajarkan apa-apa. Sejarah hanya mengulang. Dan manusia selalu gagal dalam ujian yang sama. Itu sebabnya aku masih punya pekerjaan."

Lihat Detail

Tentang Produk

Loading...