Deskripsi
Prakata
Gue yakin lo semua pasti pernah denger istilah "santet". Bisa jadi dari obrolan warung kopi, sinetron mistis, atau bahkan dari cerita seram keluarga sendiri. Kata yang satu ini punya aura aneh: bikin bulu kuduk merinding, tapi sekaligus bikin penasaran setengah mati. Nah, buku yang sekarang lo pegang ini, Santet di Indonesia, lahir dari rasa penasaran itu. Bukan buat nakut-nakutin, apalagi bikin lo jadi parno, tapi justru buat ngupas tuntas fenomena yang udah jadi bagian dari kultur kita ini dengan kepala dingin dan mata terbuka.
Kenapa sih gue nulis buku ini? Karena gue ngerasa, di zaman yang katanya udah modern gini, santet masih jadi "hantu" yang terus menghantui, tapi jarang dibahas secara serius. Banyak yang takut setengah mati, banyak juga yang mengaku jadi korban, tapi ngomonginnya cuma lewat bisik-bisik. Sementara di sisi lain, ada yang manfaatin ketakutan itu buat cari duit, kuasa, atau malah bikin fitnah. Akhirnya, santet jadi kayak monster dalam gelap: makin gelap, makin serem. Nah, buku ini ibarat senter buat masuk ke ruangan gelap itu. Kita akan sama-sama ngeliat, sebenernya apa sih santet itu? Kok bisa ya, gagasan tentang "serangan gaib jarak jauh" ini bertahan dan terus dipercaya dari generasi ke generasi di Indonesia?
Kita bakal ngobrol santai, pakai bahasa yang nggak ruwet, kayak lagi ngobrol di pos ronda sambil nyeruput kopi, tentang asal-usul santet dalam sejarah Nusantara. Lo bakal diajak buat ngeliat bahwa santet bukan sekadar klenik recehan, tapi punya akar yang dalem dalam struktur sosial dan spiritual masyarakat kita. Ada bab yang ngebedah gimana sih mekanisme "serangan" ini dipercaya bekerja, jenis-jenisnya dari berbagai daerah, mulai dari teluh, sirep, tenung, sampe bacokan, lengkap dengan cerita-cerita yang berkembang di masyarakat. Kita nggak akan cuma jadi "tukang rekam" cerita serem, tapi juga akan ngeliat fenomena ini dari berbagai sudut pandang: antropologi, psikologi, sampe sosiologi.
Yang paling seru, gue ngajak lo buat mikir kritis: kalau santet itu emang "gaib", kenapa korbannya seringkali orang-orang yang emang punya konflik sosial, punya rasa bersalah, atau lagi dalam kondisi psikologis yang rapuh? Apakah santet itu murni serangan mistis, atau justru cerminan dari ketakutan dan ketegangan dalam hubungan antar manusia? Buku ini bakal ngebedah juga fenomena "sugesti" dan "nocebo effect", di mana keyakinan seseorang bisa bikin dirinya sakit beneran, bahkan sampe mati. Jadi, kita nggak cuma ngomongin dunia halus, tapi juga ngomongin otak dan hati manusia yang nggak kalah ruwetnya.
Tentu, gue juga nggak bakal munafik. Di negeri ini, praktisi supranatural, dukun, orang pinter, atau apapun sebutannya, emang masih eksis dan punya klien dari berbagai kalangan, mulai dari rakyat biasa sampe pejabat. Kita akan nengok gimana praktik ini bertahan di tengah modernitas, dan gimana hukum negara kita yang majemuk ini bergulat dengan kasus-kasus dugaan santet. Ada kisah-kisah nyata dari pengadilan, di mana orang diadili bukan karena membunuh pakai pisau, tapi karena dituduh membunuh pakai "ilmu". Di sinilah kita akan liat betapa absurd-nya, tapi juga betapa nyata-nya, dampak kepercayaan pada santet dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada akhirnya, buku ini ditulis bukan untuk meremehkan kepercayaan orang, apalagi mendiskreditkan dimensi spiritual yang emang jadi bagian dari hidup kebanyakan masyarakat Indonesia. Tujuan gue sederhana: mengajak lo semua buat berani mikir, berani nanya, dan berani memahami secara lebih jernih. Karena gue percaya, pemahaman adalah musuh utama dari ketakutan yang irasional. Setelah baca buku ini, gue berharap lo nggak gampang dicekoki isu "si A nyantet si B" tanpa bukti, dan bisa lebih bijak menyikapi cerita-cerita mistis yang bertebaran di sekitar kita.
Selamat membaca. Jangan takut, kita cuma ngulik, bukan ngamalin. Dan ingat, musuh paling bahaya itu bukan "kiriman" dari luar, tapi ketakutan dari dalam diri kita sendiri.
Penulis
City of Cileungsi
East Bogor
