Deskripsi
BIOGRAFI REKON SOEHARTO, DARI KEMUSUK HINGGA CENDANA, UNTUK GENERASI YANG TIDAK MENGENALNYA
Setibanya di pendopo Imogiri, Wardoyo terkejut melihat siapa saja yang sudah menunggu. Sukarno dengan setelan jas putih dan peci hitamnya. Soeharto dengan batik lurik dan kacamata tebalnya. Ali Moertopo yang memakai kacamata hitam bahkan di malam hari. Soedjono Hoemardhani yang dikelilingi asap dupa. Cindy Adams yang sibuk dengan iPad-nya (produk Apple, Inc.). Dan Togog yang langsung duduk bersila sambil memesan dawet pada Mbok Darmi.
Wardoyo:
(gugup) "Apakah ini ... pertemuan arwah?"
Sukarno:
(kata Sukarno dengan wibawa.)"Duduklah, Presiden Wardoyo." "Kita akan bicara banyak hal. Tapi sebelum itu, saya ingin Harto menceritakan siapa dirinya sebenarnya. Banyak anak muda sekarang yang tidak tahu. Mereka hanya mendengar 'Orde Baru', 'Soeharto', 'KKN'. Tapi siapa sebenarnya manusia yang satu ini? Ceritakan, Harto."
Soeharto :
(mengangguk pelan.) "Biarlah saya mulai dari awal. Karena tanpa memahami akar, kita tidak akan mengerti buah."
"Saya lahir di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, pada 8 Juni 1921. Nama kecilku adalah Kemusu, diambil dari nama dusun tempat Saya lahir. Ada yang menyebutku Soeharto Argomulyo. Bapakku bernama Kertosoediro, seorang petani dan pembantu lurah. Ibuku bernama Soekirah."
"Saya adalah anak dari keluarga sederhana. Bahkan bisa disebut miskin. Bapak dan ibuku bercerai ketika Saya masih sangat kecil. Ini pengalaman yang membekas. Ibuku kemudian menikah lagi dengan Atmopawiro, seorang mantri tani. Dari pernikahan itu, Saya punya adik tiri kalian mengenalnya sebaga Prabasutedja. You know, Bapakku juga menikah lagi."
"Sejak kecil saya hidup berpindah-pindah. Kadang ikut ibu, kadang ikut bapak, kadang dititipkan ke keluarga lain. Pengalaman ini membuat Saya belajar mandiri sejak dini. Tidak ada yang memanjakan. Kalau ingin makan, ya harus bekerja."
