Suara yang Terpendam: Menyingkap Pembantaian 1965–1966 melalui Arsip Rahasia dan Kesaksian yang Terlupakan

Lihat Detail

Deskripsi

Ada sesuatu yang aneh ketika kita berbicara tentang pembantaian 1965–1966. Kita tahu bahwa peristiwa itu terjadi. Kita tahu bahwa ratusan ribu orang tewas. Kita tahu bahwa militer terlibat. Kita tahu bahwa milisi sipil dan kelompok agama memainkan peran. Kita tahu bahwa Amerika Serikat dan sekutunya tidak hanya mengetahui, tetapi dalam banyak hal mendukung. Namun, selama lebih dari setengah abad, pengetahuan itu seperti kabut, ia ada di sana, tetapi tidak pernah sepenuhnya menyatu menjadi gambaran yang utuh. Setiap kali kita mencoba untuk meraihnya, ia menguap di antara jari-jari kita. Setiap kali kita mencoba untuk mengungkapkannya, ia menyusut menjadi fragmen-fragmen yang terpisah: sebuah angka di sini, sebuah kesaksian di sana, sebuah dokumen yang baru dibuka, sebuah film yang baru ditonton.

Buku ini lahir dari kegelisahan terhadap kondisi pengetahuan yang terpecah-pecah itu. Ia bukanlah buku pertama tentang pembantaian 1965–1966, dan tidak pula yang terakhir. Sebelumnya, telah ada karya-karya penting yang membuka jalan: The Indonesian Killings yang diedit oleh Robert Cribb (1990), yang untuk pertama kalinya memetakan pola-pola kekerasan di Jawa dan Bali; Dalih Pembunuhan Massal karya John Roosa (2006), yang membongkar bagaimana narasi resmi G30S dibangun di atas kontradiksi dan kebohongan; Palu Arit di Ladang Tebu karya Hermawan Sulistyo (2000), yang menelusuri akar-akar sosial pembantaian di Jombang dan Kediri; The Killing Season karya Geoffrey Robinson (2018), yang menyajikan sintesis paling komprehensif tentang pembantaian sebagai fenomena global; dan Berkas Genosida Indonesia karya Jess Melvin (2018), yang menggunakan arsip militer untuk membuktikan bahwa pembantaian adalah operasi nasional yang terpusat. Karya-karya ini, bersama dengan laporan Komnas HAM 2012, investigasi YPKP 65, dan film-film Joshua Oppenheimer, telah membentuk apa yang bisa kita sebut sebagai "kanon" studi 1965.

Buku ini tidak bermaksud menggantikan kanon itu. Ia tidak pula bermaksud mengklaim bahwa ia telah menemukan kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh semua orang. Yang ia coba lakukan adalah sesuatu yang lebih sederhana namun, saya kira, juga lebih mendesak: ia mencoba untuk menyatukan apa yang selama ini terpecah. Ia mencoba untuk membaca laporan dinas rahasia bersama kawat diplomatik, surat pribadi bersama wawancara anonim, dokumen investigasi bersama kesaksian korban. Ia mencoba untuk tidak berhenti pada satu jenis sumber, tetapi untuk terus bergerak di antara banyak jenis sumber, mencari pola-pola yang muncul ketika kita melihat peristiwa ini dari berbagai sudut secara bersamaan.

Apa yang Baru dari Buku Ini

Pertama, buku ini memberikan perhatian yang jauh lebih besar kepada sumber-sumber yang selama ini berada di pinggiran kanon: laporan dinas rahasia dan kawat diplomatik. Karya-karya seperti The Killing Season dan Berkas Genosida Indonesia memang menggunakan dokumen-dokumen ini, tetapi biasanya sebagai pelengkap, sebagai konfirmasi atas apa yang sudah diketahui dari sumber-sumber lain. Buku ini mencoba untuk mengambil dokumen-dokumen itu lebih serius, bukan sebagai kebenaran final, tetapi sebagai jendela ke dalam cara berpikir aktor-aktor internasional pada saat peristiwa berlangsung. Apa yang mereka ketahui, kapan mereka mengetahuinya, dan bagaimana mereka memutuskan untuk bertindak, atau tidak bertindak, adalah pertanyaan-pertanyaan yang, saya kira, belum sepenuhnya dijawab.

Kedua, buku ini mencoba untuk memasukkan pengalaman perempuan ke dalam pusat narasi, bukan sebagai catatan tambahan. Dalam banyak karya tentang 1965, perempuan muncul sebagai korban kekerasan seksual atau sebagai anggota Gerwani yang distigmatisasi, tetapi jarang sebagai aktor dengan agensi sendiri, sebagai penulis surat, sebagai penjaga ingatan, sebagai aktivis yang terus memperjuangkan kebenaran. Bab tentang Pudji Aswati, tentang para perempuan di Kamp Plantungan, tentang Dialita, dan tentang perempuan-perempuan Aceh yang suaminya hilang adalah upaya untuk mengisi kekosongan itu.

Ketiga, buku ini mencoba untuk menghubungkan pembantaian 1965–1966 dengan diskursus global tentang genosida dan keadilan transisional, tetapi dengan cara yang tidak mengurangi kekhususan peristiwa Indonesia. Perbandingan dengan Rwanda, Kamboja, Holocaust, dan Amerika Latin bukanlah untuk menyamaratakan, melainkan untuk melihat pola-pola yang muncul di berbagai konteks, dan untuk belajar dari pengalaman negara-negara yang telah berhasil, atau gagal, menghadapi masa lalu mereka.

Keempat, buku ini mencoba untuk membawa pembaca melampaui angka dan statistik, tanpa mengabaikan pentingnya angka dan statistik itu. Setiap angka korban adalah seorang manusia, seorang ayah, seorang ibu, seorang anak. Setiap kuburan massal adalah sebuah keluarga yang hancur. Setiap surat yang diselundupkan dari penjara adalah sebuah suara yang menolak untuk dibungkam. Buku ini mencoba untuk tidak pernah kehilangan kemanusiaan di balik data.

Apa yang Tidak Ada di Buku Ini

Saya perlu jujur tentang batas-batas buku ini. Ia tidak memiliki akses ke arsip-arsip militer Indonesia yang masih tertutup. Ia tidak dapat mewawancarai para pelaku yang masih hidup dan yang masih menolak untuk berbicara. Ia tidak dapat memberikan angka korban yang pasti, karena, seperti yang akan kita lihat, angka yang pasti mungkin tidak akan pernah ada. Ia tidak dapat memberikan keadilan kepada para korban. Yang dapat ia lakukan hanyalah mendokumentasikan, menganalisis, dan menyebarkan apa yang kita ketahui, dan dengan demikian, mungkin, memberikan dasar bagi upaya-upaya keadilan di masa depan.

Buku ini juga tidak berpihak pada narasi-narasi besar yang telah mendominasi diskursus tentang 1965: bukan narasi komunis yang meromantisasi PKI, bukan narasi kapitalis yang membenarkan intervensi asing, dan bukan narasi Orde Baru yang menggambarkan pembantaian sebagai "tindakan penyelamatan bangsa." Ia mencoba untuk membaca setiap sumber dengan kritis, untuk mengakui bias dan keterbatasannya, dan untuk tidak membiarkan satu pun dari sumber-sumber itu berbicara sendiri-sendiri. Kebenaran tentang peristiwa ini, jika ia ada, terletak di antara sumber-sumber itu, dalam ketegangan, dalam kontradiksi, dalam hal-hal yang tidak terkatakan.

Mengapa Buku Ini Ditulis

Buku ini ditulis karena saya percaya bahwa mengenang adalah tindakan politik. Dalam konteks Indonesia, di mana pembantaian 1965–1966 masih belum sepenuhnya diakui, di mana para korban masih hidup dengan stigma dan diskriminasi, di mana para pelaku masih hidup dengan impunitas, mengenang bukanlah sekadar latihan akademis. Ia adalah tindakan perlawanan, perlawanan terhadap upaya untuk menghapus ingatan, untuk menghilangkan kebenaran, untuk melupakan kekerasan.

Buku ini juga ditulis karena saya percaya bahwa pemahaman yang lebih baik tentang 1965–1966 adalah kunci untuk memahami Indonesia hari ini. Stigmatisasi terhadap "PKI" dan "orang kiri," diskriminasi terhadap keluarga korban, ketakutan untuk berbicara tentang masa lalu, semua ini adalah warisan dari peristiwa yang tidak pernah diselesaikan. Tanpa menghadapi masa lalu itu, Indonesia tidak akan pernah sepenuhnya menjadi bangsa yang bebas.

Akhirnya, buku ini ditulis untuk mereka yang tewas, mereka yang hilang, dan mereka yang selamat. Untuk Pudji Aswati, yang menulis dari balik tembok penjara. Untuk Pramoedya Ananta Toer, yang menulis di Pulau Buru. Untuk Poniyem, yang mencari suaminya dari koramil ke korem dan tidak pernah menemukannya. Untuk semua perempuan dan laki-laki yang, selama lebih dari setengah abad, telah menjaga ingatan tentang apa yang terjadi, bahkan ketika dunia di sekitar mereka berusaha untuk melupakan. Buku ini adalah milik mereka.

Lihat Detail

Tentang Produk

Loading...