SUKARNI dalam Revolusi, Pengkhianatan, dan Pemuda yang Dilupakan Republik

Lihat Detail

Deskripsi

Prakata

Pada dini hari 16 Agustus 1945, seorang pemuda berusia dua puluh sembilan tahun berdiri di hadapan Sukarno. Di luar, Jakarta masih gelap. Di dalam ruangan itu, udara terasa pengap oleh bau keringat dan ketakutan. Para pemuda yang berkumpul tahu bahwa mereka sedang menatap dua kemungkinan: kemerdekaan atau kematian. Pemuda itu, yang bernama Sukarni, memecah keheningan dengan suara yang tidak bergetar: "Bung, jika Bung tidak berani memproklamasikan kemerdekaan besok, kami tidak bisa bertanggung jawab atas keselamatan Bung."

Kata-kata itu, setengah permohonan, setengah ancaman, adalah pemicu yang meledakkan seluruh rangkaian peristiwa menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tanpa Sukarni, tanpa keberaniannya menatap mata Sukarno dan berbicara dengan kejujuran yang membakar, pagi 17 Agustus 1945 mungkin tidak akan pernah terjadi. Namun, hanya dua dekade setelah malam itu, republik yang ia bantu lahirkan akan memenjarakannya. Namanya akan dihapus dari buku-buku sejarah. Dan ketika ia meninggal pada tahun 1971, tidak ada upacara kenegaraan, tidak ada pengakuan resmi, tidak ada nisan yang pantas. Republik telah melupakan anaknya sendiri.

Buku ini adalah upaya untuk mengingat kembali.

Saya pertama kali mendengar nama Sukarni bukan dari guru sejarah, melainkan dari sebuah buku lusuh yang saya temukan di pasar loak. Buku itu berjudul Sukarni: Pejuang Revolusi, diterbitkan secara terbatas oleh keluarganya pada tahun 1980-an, ketika rezim Orde Baru masih berkuasa dan nama "Sukarni" masih dianggap berbahaya. Sampulnya sudah menguning, halaman-halamannya dimakan rayap, tetapi di sana, di antara kutipan surat-surat dari penjara dan pidato-pidato yang dibungkam, saya menemukan sebuah suara yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Suara seorang revolusioner yang tidak termasuk dalam narasi resmi, bukan "pahlawan nasional" yang disucikan, bukan pula "pengkhianat PKI" yang dikutuk. Ia adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih kompleks, sesuatu yang lebih berbahaya bagi rezim yang ingin membagi sejarah menjadi hitam dan putih.

Sejak saat itu, saya tahu bahwa saya harus menulis biografi ini. Tetapi saya tidak tahu betapa sulitnya pekerjaan itu.

Menulis tentang Sukarni berarti berhadapan dengan penghapusan sistematis. Orde Baru tidak hanya membunuh orang-orang yang dianggapnya musuh; mereka juga membunuh ingatan tentang mereka. Dokumen-dokumen partai Murba dibakar. Arsip-arsip pribadi Sukarni, surat-surat, catatan harian, naskah pidato, sebagian besar dimusnahkan oleh keluarga yang ketakutan. Nama "Sukarni" direduksi menjadi satu kalimat dalam buku teks sekolah: "Para pemuda, antara lain Sukarni, Chaerul Saleh, dan Wikana, mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan." Itu saja. Seolah-olah hidupnya, perjuangannya selama puluhan tahun, pemikirannya yang orisinal tentang "komunisme nasional," keberaniannya menentang PKI dan kemudian menentang Orde Baru, tidak pernah ada.

Riset buku ini, oleh karena itu, adalah kerja detektif yang sunyi. Saya harus menempuh perjalanan ke Nationaal Archief di Den Haag, menelusuri laporan-laporan intelijen kolonial (PID) yang sudah mengawasi Sukarni sejak ia berusia dua puluh tiga tahun sebagai "pemuda karismatik dan berbahaya." Saya duduk di ruang baca National Archives and Records Administration (NARA) di Maryland, membolak-balik memo CIA yang mendokumentasikan perannya sebagai pemimpin "kiri anti-komunis" yang menjadi sekutu taktis militer dalam melawan PKI. Saya menyusuri arsip-arsip di The National Archives, Kew, London, membaca laporan SEATIC tentang perannya dalam Pertempuran Surabaya. Setiap dokumen yang saya temukan adalah serpihan kecil dari cermin yang telah dipecahkan. Menyusunnya kembali, meskipun tahu bahwa beberapa bagian akan hilang selamanya, adalah tugas yang melelahkan dan mengharukan.

Namun, dokumen hanyalah tulang-belulang sejarah. Untuk memberi daging dan darah pada kerangka itu, saya harus menemui mereka yang masih mengingat. Keluarga Sukarni, yang selama puluhan tahun hidup di bawah bayang-bayang stigma, pada awalnya enggan berbicara. Pertemuan pertama saya dengan salah satu anaknya berlangsung dalam keheningan yang canggung, di sebuah rumah kecil di pinggiran Jakarta. "Untuk apa?" tanyanya, matanya menatap saya dengan campuran curiga dan lelah. "Ayah saya sudah mati. Perjuangannya sudah mati. Apa yang bisa Anda lakukan sekarang?" Butuh waktu berbulan-bulan, kunjungan demi kunjungan, percakapan demi percakapan, sebelum akhirnya ia membuka sebuah kotak kayu usang yang selama ini ia simpan di kolong tempat tidur. Di dalamnya, terbungkus kain usang, ada beberapa lembar surat yang ditulis Sukarni dari penjara, sebuah foto hitam-putih yang sudah hampir tidak terbaca, dan secarik kertas dengan puisi pendek yang ditulisnya menjelang kematian. "Ini yang tersisa," katanya, suaranya bergetar. "Sisanya sudah dibakar. Ibu membakarnya karena takut."

Ketika saya membaca surat-surat itu, surat seorang ayah kepada anak-anaknya, yang ditulis di sel yang sempit dan lembab, dengan tangan yang mungkin gemetar karena sakit, saya menangis. Bukan karena isinya yang menyedihkan, melainkan karena saya menyadari betapa besarnya kehilangan kita sebagai bangsa. Kita telah kehilangan Sukarni. Kita telah kehilangan ceritanya. Dan kita hampir kehilangan surat-surat ini, suaranya yang terakhir, karena ketakutan yang dipaksakan oleh sebuah rezim yang berkuasa selama tiga dekade.

Siapakah Sukarni? Ia adalah kontradiksi yang berjalan. Ia lahir di Blitar, kota kecil di pedalaman Jawa Timur, dari keluarga priyayi rendah yang terjebak dalam rutinitas kolonial. Ayahnya adalah pegawai pabrik gula, seorang pria pendiam yang menerima nasibnya dengan kepasrahan yang membakar jiwa Sukarni muda. "Saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya tidak akan menjalani hidup seperti itu," tulisnya kelak. Dari sinilah revolusinya bermula: bukan dari teori Marx yang dibacanya di kemudian hari, melainkan dari pemberontakan eksistensial melawan nasib ayahnya.

Ia adalah jurnalis muda yang tulisannya menggelegar di koran-koran pergerakan. Ia adalah pemimpin bawah tanah yang lolos dari pengawasan Kempeitai Jepang selama tiga setengah tahun pendudukan. Ia adalah arsitek "Penculikan Rengasdengklok", operasi berani yang memaksa Sukarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu hadiah dari Jepang. Dan setelah kemerdekaan, ia mendirikan Partai Murba bersama Tan Malaka, mengusung ideologi "komunisme nasional" yang merdeka dari Moskow maupun Peking, sebuah jalan ketiga yang terlalu kiri bagi kaum kanan, terlalu kanan bagi kaum kiri, dan terlalu berbahaya bagi semua pihak.

Ironi terbesar dalam hidup Sukarni adalah bahwa ia dihancurkan bukan oleh musuh-musuhnya, melainkan oleh republik yang ia bantu dirikan. Ketika Orde Baru naik ke tampuk kekuasaan, Sukarni, yang telah menghabiskan hidupnya melawan imperialisme dan kemudian melawan PKI, dijebloskan ke dalam sel penjara, dituduh "subversi," dan dibiarkan mati perlahan karena penyakit yang tidak diobati. "Aku tidak mengerti," tulisnya dalam surat dari penjara. "Aku telah berjuang seumur hidupku untuk republik ini. Dan sekarang aku dijebloskan ke dalam sel yang sama dengan orang-orang yang aku lawan." Kata-kata itu adalah jeritan dari kegelapan, jeritan yang tidak pernah dijawab.

Buku ini tidak ditulis untuk menghakimi. Saya tidak ingin menjadikan Sukarni sebagai pahlawan tanpa cela, itu akan mengkhianati kompleksitasnya. Ia keras kepala, kadang-kadang dogmatis, dan tidak selalu membuat keputusan yang bijaksana. Saya juga tidak ingin menghujatnya sebagai pengkhianat, itu akan mengulangi kebohongan rezim yang membunuhnya. Tujuan saya adalah untuk memahami: bagaimana seorang anak Blitar menjadi salah satu tokoh paling penting dalam Proklamasi? Mengapa ia memilih jalan "komunisme nasional" yang membuatnya dimusuhi oleh PKI dan dicurigai oleh militer? Dan bagaimana ia menjalani tahun-tahun terakhirnya, dipenjara, dihancurkan kesehatannya, dan akhirnya dilupakan, dengan keteguhan yang tidak pernah padam?

Ini bukan sekadar biografi seorang tokoh yang terlupakan. Ini adalah alegori tentang Indonesia modern. Kisah Sukarni adalah kisah tentang bagaimana republik ini memperlakukan anak-anaknya yang tidak nyaman: mereka yang tidak bisa dimasukkan ke dalam kotak "pahlawan" atau "pengkhianat," mereka yang ide-idenya terlalu rumit untuk dicerna oleh narasi resmi, mereka yang memilih untuk tetap berjalan di jalannya sendiri meskipun jalannya sepi dan penuh duri. Selama kita menolak untuk mengingat Sukarni, kita menolak untuk menghadapi bagian dari diri kita sendiri, bagian yang menolak untuk disederhanakan.

Reformasi telah membuka kembali pintu-pintu yang lama terkunci. Buku-buku tentang tragedi 1965 mulai ditulis. Diskusi-diskusi tentang "kiri alternatif" mulai muncul di ruang-ruang akademik dan media. Tetapi Sukarni, sejauh ini, masih berupa bayangan di pinggir diskusi itu. Buku ini adalah upaya untuk membawanya ke tengah, untuk meletakkan hidupnya di bawah cahaya, dan untuk berkata: Lihatlah. Inilah orangnya. Inilah yang ia lakukan. Inilah yang ia korbankan. Dan inilah yang kita lakukan padanya.

Di akhir buku ini, Anda akan menemukan bab metodologis yang menjelaskan bagaimana riset dilakukan, sumber-sumber apa yang digunakan, dan apa keterbatasannya. Saya menyertakan bab ini karena saya percaya bahwa transparansi adalah kejujuran tertinggi dalam penulisan sejarah. Pembaca berhak tahu dari mana saya mendapatkan informasi, apa yang masih belum jelas, dan di mana saya harus membuat interpretasi berdasarkan bukti yang tidak lengkap.

Tetapi sebelum Anda sampai ke sana, saya mengundang Anda untuk menyelami hidup Sukarni. Bayangkan ia sebagai pemuda berusia dua puluh tiga tahun, baru tiba di Batavia dengan mimpi-mimpi besar dan kemarahan yang belum menemukan bentuknya. Bayangkan ia sebagai pemimpin bawah tanah, bergerak di kegelapan, tahu bahwa satu kesalahan berarti kematian di tangan Kempeitai. Bayangkan ia berdiri di hadapan Sukarno pada dini hari 16 Agustus 1945, mempertaruhkan segalanya, nyawanya, reputasinya, masa depannya, untuk sebuah kata yang belum diucapkan: merdeka. Dan bayangkan ia, dua puluh tahun kemudian, terbaring di sel penjara yang lembab, tubuhnya digerogoti penyakit, jiwanya dihancurkan oleh pengkhianatan republik yang ia bantu lahirkan, tetapi tetap menulis dengan tangan gemetar: "Aku tidak menyesal. Aku telah hidup sesuai dengan apa yang aku yakini."

Itulah Sukarni. Itulah revolusinya. Itulah pengkhianatan yang ia terima. Dan itulah mengapa kita harus mengingatnya.

Selamat membaca. Selamat berziarah ke dalam ingatan yang nyaris punah. 

Daftar Isi

Imprint

CopyRight

Prakata

Daftar Isi

SUKARNI dalam Revolusi, Pengkhianatan, dan Pemuda yang Dilupakan Republik

Bagian Satu Fondasi (1920-an – 1942)

Bab 1 Bayangan di Blitar (1924–1934)

Kota Kelahiran Blitar di Persimpangan Zaman

Darah Priyayi Rendah Keluarga Kartodiwirjo

Sekolah Kolonial HIS dan MULO

Jejak di Arsip Intelijen Ketiadaan yang Berbicara

Bab 2 Dari Sekolah Kolonial ke Kancah Politik (1934–1940)

Merantau ke Batavia Jurnalis Muda di Kota Besar

Tulisan Pertama Mencari "Suara" Sukarni

Memasuki Dunia Pergerakan Jejak di Laporan PID

Jaringan dan Pengaruh Awal

Bab 3 Bawah Tanah di Tengah Pendudukan Jepang (1942–1945)

Awal Pendudukan Memilih Jalan Bawah Tanah

Asrama Indonesia Merdeka Basis Gerakan Pemuda

Membangun Jaringan Sel-Sel Bawah Tanah

Menjelang Proklamasi Mencium Peluang

Penutup Bagian Satu

Daftar Rujukan

Bagian Dua Puncak Revolusi (1945–1949)

Bab 4 Rengasdengklok Sebuah "Kudeta" Pemuda (Agustus 1945)

Prolog Ketegangan di Jalan Pegangsaan Timur

Rapat di Lembaga Bakteriologi Rencana Dibentuk

Dini Hari 16 Agustus Operasi Dijalankan

Di Rengasdengklok Negosiasi Alot

Kembali ke Jakarta Proklamasi yang Direbut

Analisis Sukarni sebagai Komandan Lapangan

Bab 5 Revolusi di Jalanan dan di Meja Perundingan (1945–1946)

Setelah Proklamasi Membangun Kekuatan

Pertempuran Surabaya Api yang Membakar Jawa

Pendirian Partai Rakyat Indonesia Cikal Bakal Murba

Bab 6 Partai Murba dan Revolusi Fisik (1947–1949)

Kelahiran Murba Bersatu dengan Tan Malaka

Perang Melawan Belanda Agresi Militer dan Perang Gerilya

Pemberontakan PKI di Madiun Murba di Persimpangan Jalan

Menjelang Pengakuan Kedaulatan (1949)

Penutup Bagian Dua

Daftar Rujukan

Bagian Tiga Kekuasaan, Konfrontasi, dan Kehancuran (1950–1971)

Bab 7 Di Tengah Demokrasi Liberal, Murba, PKI, dan Jalan yang Sempit (1950–1959)

Era Multipartai Ruang Baru, Pertarungan Lama

Polemik dengan Aidit Dua Komunisme, Dua Indonesia

Peran dalam PRRI/Permesta Sebuah Spekulasi yang Harus Dijawab

Menjelang Demokrasi Terpimpin Antara Sukarno dan Soeharto

Bab 8 Menantang Badai Demokrasi Terpimpin dan Konfrontasi (1960–1965)

Sukarni dan Sukarno Hubungan yang Kompleks

Konfrontasi Malaysia Nasionalisme Radikal

Aliansi dengan Militer Anti-PKI Jejak yang Mulai Terlihat

Menjelang G30S Firasat yang Kelam

Bab 9 Dipenjara oleh Republik, Ironi Seorang Revolusioner (1966–1971)

Setelah G30S Harapan yang Hancur

Di Dalam Penjara Surat-Surat yang Menyayat Hati

Bebas, Tapi Hancur (1969–1971)

Reaksi Intelijen Asing atas Kematiannya

Bab 10 Warisan yang Direbut dan yang Terlupakan

Penghapusan Memori oleh Orde Baru

Upaya Rehabilitasi Pasca-Reformasi

Makna Sukarni untuk Indonesia Kontemporer

Penutup Bagian Tiga

Daftar Rujukan

Bagian Empat Metodologi dan Lampiran

Bab 11 Menemukan Sukarni, Sebuah Catatan Metodologis

Pengantar Mengapa Metodologi Penting?

Hierarki Sumber Prinsip-Prinsip Dasar

Tantangan dan Keterbatasan

Penggunaan Dokumen Intelijen Asing Sebuah Pembenaran Metodologis

Keputusan-Keputusan Naratif

Agenda Penelitian Masa Depan

Penutup Metodologis Biografi sebagai Proses yang Belum Selesai

Lampiran A Kronologi Kehidupan Sukarni Kartodiwirjo

Lampiran B Katalog Dokumen-Dokumen Kunci

A. Dokumen dari Sukarni Sendiri (Sumber Primer Langsung)

B. Laporan Intelijen Asing (Sumber Primer dari Pihak Ketiga)

C. Memoar dan Kesaksian (Sumber Primer dari Pihak Ketiga)

D. Sumber Sekunder dengan Data Baru

E. Dokumen Kebijakan dan Referensi

Lampiran C Catatan tentang Sumber-Sumber Kunci

A. Tentang Sukarni Pejuang Revolusi

B. Tentang Laporan Intelijen CIA

C. Tentang Arsip NEFIS dan CMI

Penutup Keseluruhan Biografi

Sinopsis

Biografi ini menelusuri perjalanan hidup Sukarni (1916–1971), salah satu tokoh paling penting namun paling dilupakan dalam sejarah Indonesia modern. Lahir dari keluarga priyayi rendah di Blitar, Jawa Timur, Sukarni muda membenci kepasrahan ayahnya yang bekerja sebagai pegawai pabrik gula kolonial. Dari sinilah api revolusinya bermula.

Merantau ke Batavia pada usia belasan tahun, ia menjadi jurnalis dan aktivis pergerakan yang segera masuk dalam radar intelijen kolonial Belanda. Selama pendudukan Jepang, ia bergerak di bawah tanah, membangun jaringan yang kelak menjadi tulang punggung perlawanan pemuda. Puncaknya terjadi pada dini hari 16 Agustus 1945, ketika Sukarni memimpin operasi "penculikan" Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok, sebuah tindakan berani yang memaksa kedua pemimpin itu untuk memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu Jepang.

Setelah revolusi, Sukarni bersama Tan Malaka mendirikan Partai Murba, mengusung ideologi "komunisme nasional" yang independen dari Moskow maupun Peking. Posisinya ini membuatnya dimusuhi PKI sekaligus dicurigai militer. Ketika G30S meletus, ia memihak pada penumpasan PKI, tetapi harapannya untuk berperan dalam Orde Baru segera hancur. Pada 1966, ia ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan subversi, ironi pahit bagi seorang pejuang kemerdekaan. Ia meninggal pada 1971 dalam keadaan fisik hancur akibat penelantaran medis di penjara, dan namanya dihapus dari narasi resmi selama tiga dekade.

Buku ini adalah upaya mengembalikan Sukarni ke dalam sejarah bangsa yang ia bantu lahirkan. </sb>

Lihat Detail

Tentang Produk

Loading...