Deskripsi
Ada ratusan tulisan tentang Supersemar. Buku ini bukan salah satunya, atau setidaknya, bukan salah satu dari yang biasa. Selama puluhan tahun, literatur tentang Supersemar di Indonesia telah terjebak dalam dua kutub yang saling berhadapan tanpa pernah benar-benar bertemu. Di satu sisi, ada narasi resmi Orde Baru yang menempatkan Surat Perintah 11 Maret 1966 sebagai instrumen konstitusional untuk menyelamatkan bangsa dari ancaman komunisme. Di sisi lain, ada narasi tandingan yang melihatnya sebagai instrumen kudeta terselubung. Kedua narasi ini, meskipun berlawanan dalam kesimpulan, memiliki kesamaan yang mendasar: keduanya berpusat pada pertanyaan yang sama, apakah naskah Supersemar itu asli?, dan keduanya sama-sama berhenti pada jawaban yang tidak memuaskan.
Buku ini meninggalkan pertanyaan itu. Bukan karena pertanyaan tentang keaslian naskah tidak penting, melainkan karena pertanyaan itu telah menjadi semacam jebakan intelektual. Selama kita terus bertanya “mana naskah aslinya?”, kita akan terus berputar dalam ketidakpastian yang sama. Dan sementara kita berputar, ada dimensi-dimensi lain dari peristiwa 11 Maret 1966 yang justru belum tersentuh: bagaimana keputusan itu diambil dalam hitungan jam, apa yang dilaporkan oleh para diplomat asing kepada pemerintah mereka, bagaimana surat kabar membentuk pemahaman publik, dan mengapa naskah asli itu, jika memang pernah ada, menghilang tanpa jejak.
Perbedaan pertama buku ini terletak pada sumber-sumber yang digunakan. Sebagian besar tulisan tentang Supersemar, baik yang pro-Orde Baru maupun yang kritis, mengandalkan sumber-sumber yang sama: otobiografi Soeharto, wawancara dengan para jenderal, dan buku-buku sejarah yang saling mengutip. Buku ini tidak mengabaikan sumber-sumber itu, tetapi ia juga membuka lemari-lemari arsip yang selama ini tertutup. Ia membaca kawat-kawat diplomatik Kedutaan Besar Amerika Serikat yang baru dideklasifikasi, laporan-laporan CIA yang dirilis pada Desember 2016, memorandum R.W. Komer kepada Presiden Lyndon B. Johnson, serta arsip-arsip Australia dan Inggris yang menyimpan catatan tentang bagaimana dunia luar membaca peristiwa 11 Maret 1966. Sumber-sumber ini tidak menggantikan sumber-sumber Indonesia; mereka melengkapinya dengan perspektif yang tidak dimiliki oleh sumber-sumber domestik.
Perbedaan kedua terletak pada pertanyaan yang diajukan. Buku ini tidak bertanya “apa isi Supersemar?” atau “apakah naskahnya asli?” Buku ini bertanya: apa yang dilakukan orang-orang dengan surat itu? Bagaimana surat itu digunakan, ditafsirkan, dan disalahgunakan? Dan mengapa, dalam logika kekuasaan yang beroperasi pada masa transisi 1966, kehilangan naskah asli bukanlah sebuah kecelakaan, melainkan sebuah konsekuensi yang tak terhindarkan? Dengan menggeser fokus dari teks ke tindakan, dari naskah ke jaringan aktor, buku ini berusaha membuka cakrawala baru dalam memahami salah satu momen paling menentukan dalam sejarah Indonesia.
Perbedaan ketiga terletak pada posisi penulis. Buku ini tidak berpihak pada Soekarno atau Soeharto, tidak membela Orde Lama atau Orde Baru, dan tidak berpretensi untuk menemukan kebenaran mutlak. Ia adalah sebuah upaya untuk memahami kompleksitas peristiwa, dengan segala nuansa, kontradiksi, dan ambiguitasnya. Dalam sejarah, penghakiman sering kali datang terlalu cepat dan terlalu mudah. Yang lebih sulit, dan lebih berharga, adalah memahami mengapa orang-orang bertindak seperti yang mereka lakukan, dalam keadaan yang tidak pernah sepenuhnya mereka pilih.
Buku ini adalah undangan untuk melihat Supersemar dengan mata yang baru. Undangan untuk berhenti sejenak dari perdebatan yang melelahkan tentang keaslian naskah, dan mulai menjelajahi wilayah yang lebih luas dan lebih menantang. Undangan untuk membaca dokumen-dokumen yang selama ini tersimpan di lemari arsip, untuk mendengarkan suara-suara yang selama ini terpinggirkan, dan untuk merenungkan kembali apa yang kita ketahui tentang salah satu momen paling penting dalam sejarah Indonesia. Saya tidak menjanjikan bahwa kita akan menemukan jawaban yang pasti. Sejarah, pada akhirnya, bukanlah tentang kepastian, melainkan tentang pemahaman yang terus berkembang. Tetapi saya berjanji bahwa perjalanan ini akan menarik, mencerahkan, dan mungkin, pada akhirnya, mengubah cara kita melihat masa lalu.
