Teori Fraud Triangle: Tekanan, Peluang, dan Rasionalisasi sebagai Akar Penyalahgunaan Kekuasaan

Lihat Detail

Deskripsi

Esai ini lahir dari sebuah pertanyaan sederhana yang sering kali hilang di tengah riuhnya pemberitaan korupsi: apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri seseorang ketika ia memutuskan untuk menyeleweng? Selama ini, diskusi publik tentang korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) hampir selalu didominasi oleh bahasa hukum dan moral. Kita berbicara tentang pasal yang dilanggar, kerugian negara, dan hukuman yang seharusnya dijatuhkan. Tetapi kita jarang berbicara tentang proses yang membawa seorang pejabat yang dipercaya, seorang profesional yang dihormati, atau seorang pemimpin yang dipilih rakyat, berubah menjadi pelaku kecurangan. 

Donald R. Cressey, seorang kriminolog yang mewawancarai ratusan penggelap uang di penjara, memberikan kita kerangka untuk menjawabnya. Ia menemukan bahwa orang yang dipercaya menjadi pelanggar kepercayaan ketika tiga hal terjadi: ia merasa menghadapi masalah yang tidak dapat dibagikan, ia melihat peluang untuk menyelesaikannya secara rahasia, dan ia menciptakan pembenaran yang membuat tindakan itu terasa wajar. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Fraud Triangle: tekanan, peluang, dan rasionalisasi. 

Namun, esai ini tidak berhenti pada penjelasan psikologis. Justru di sinilah penulis merasa perlu bersikap kritis. Fraud Triangle sangat berguna untuk memahami kecurangan pada tingkat individu, tetapi ia tidak cukup untuk menjelaskan mengapa KKN di Indonesia menjadi begitu sistemik, berulang, dan sulit diberantas. Tekanan tidak selalu berasal dari masalah pribadi; ia sering kali diproduksi oleh biaya politik yang mahal dan budaya birokrasi yang menuntut. Peluang tidak selalu muncul karena kelalaian; ia sering kali diukir oleh aturan main yang sengaja dibuat longgar. Rasionalisasi tidak selalu lahir dari pergulatan batin individu; ia sering kali menjadi narasi kolektif yang diwariskan dari satu generasi birokrat ke generasi berikutnya. 

Oleh karena itu, esai ini berusaha membaca Fraud Triangle secara lebih luas: menempatkannya di dalam struktur kelembagaan, jaringan kekuasaan, dan budaya sosial Indonesia. Penulis banyak berutang pada karya-karya para pemikir yang telah membuka jalan, baik di dalam tradisi Fraud Triangle maupun di luarnya. Kutipan langsung dari
sumber primer sengaja dipertahankan agar pembaca dapat menelusuri gagasan-gagasan itu pada teks aslinya.  

Harapannya, esai ini tidak hanya memperkaya pemahaman tentang Fraud Triangle, tetapi juga mendorong kita untuk tidak puas dengan penjelasan yang berhenti pada individu. Sebab, melawan KKN bukan hanya soal menghukum pelaku, melainkan soal mengubah kondisi yang membuat kecurangan menjadi mungkin dan bahkan terasa wajar.   

Lihat Detail

Tentang Produk

Loading...