Deskripsi
Mengapa saya, Togog tega menulis ini, dan mengapa Anda, yang kalah, harus membacanya? Saya menulis kalimat pertama ini dengan tangan gemetar, bukan karena demam panggung, melainkan karena saya baru saja kalah lagi. Kalah dalam hal apa?
Ah, pertanyaan yang begitu duniawi. Kalah dalam debat pagi tadi dengan istri saya tentang siapa yang seharusnya membuang sampah. Kalah dalam negosiasi dengan tukang sayur yang berhasil menjual tomat busuk kepada saya dengan harga premium sambil tersenyum penuh kemenangan. Kalah dalam upaya saya untuk tidak membuka media sosial selama satu jam pertama setelah bangun tidur. Dan yang paling menyakitkan: kalah dalam pertempuran melawan gravitasi saat saya mencoba berdiri terlalu cepat dari kloset dan hampir mencium lantai kamar mandi sendiri.
Kekalahan, saudara-saudaraku yang terkasih dan terhina, adalah udara yang kita hirup. Ia ada di mana-mana, seperti polusi Jakarta, dan sama tak terhindarkannya. Namun anehnya, tidak ada filsafat yang secara khusus didedikasikan untuk kita, kaum pecundang, kaum yang selalu pulang membawa tangan hampa, kaum yang namanya tidak pernah tercatat dalam buku sejarah kecuali sebagai catatan kaki yang salah ketik.
Tentu saja para filsuf besar dunia telah menulis tentang kegagalan, penderitaan, dan tragedi. Namun, dan ini yang penting, hampir semua dari mereka menulis tentang hal-hal itu sebagai batu loncatan menuju sesuatu yang lebih tinggi. Socrates berbicara tentang ketidaktahuan sebagai awal kebijaksanaan, tetapi tujuannya tetaplah kebijaksanaan. Aristoteles menulis tentang tragedi sebagai katarsis, sebuah pembersihan jiwa yang pada akhirnya memuliakan penonton. Bahkan Nietzsche, sang filsuf yang paling akrab dengan penderitaan, menulis tentang amor fati, cinta pada takdir, bukan sebagai penerimaan kekalahan yang pasif, melainkan sebagai penegasan hidup yang heroik. "Apa yang tidak membunuhku membuatku lebih kuat," katanya. Sebuah kalimat yang, jika Anda renungkan, tetap merupakan deklarasi kemenangan: lihatlah, aku selamat, aku lebih kuat.
Para filsuf ini, dengan segala hormat kepada jasad mereka yang telah menjadi debu, tetaplah para pemenang yang menyamar sebagai pemikir tentang penderitaan. Mereka kalah, lalu bangkit, lalu menulis buku tentang bagaimana bangkit. Di mana letak filsafat bagi kami yang kalah, lalu tetap kalah, lalu kalah lagi, dan tidak pernah bangkit dalam cara yang bisa dijual sebagai self-help?
Mari kita periksa lebih dekat. Plato, dalam Republik-nya, membayangkan sebuah negara ideal yang dipimpin oleh para filsuf-raja, para pemenang dalam kontes kebijaksanaan. Jiwa manusia, katanya, terbagi menjadi tiga: akal, semangat, dan nafsu. Akal harus memerintah, dan jika ia kalah oleh nafsu, itu adalah kekacauan. Kekalahan akal oleh nafsu adalah masalah yang harus diperbaiki. Tidak ada ruang dalam skema Plato bagi seseorang yang akalnya kalah dan berkata, "Ya sudahlah, biarkan nafsuku yang memerintah, aku lelah berpikir." Orang semacam itu bukanlah filsuf; ia adalah budak, penghuni gua yang bahkan tidak ingin keluar melihat matahari.
Aristoteles, murid Plato yang lebih membumi, menulis tentang eudaimonia, kebahagiaan sejati yang dicapai melalui kebajikan. Ia mengakui bahwa keberuntungan memainkan peran, bahwa Anda bisa kehilangan segalanya seperti Priamus, raja Troya yang jatuh. Tetapi bahkan dalam kemalangan, kata Aristoteles, orang bajik akan menanggungnya dengan keindahan. Kekalahan ditanggung dengan keindahan. Itu sendiri adalah sebuah kemenangan estetis. Bayangkan saya, Togog, mencoba "menanggung kekalahan dengan keindahan" ketika saya terpeleset kulit pisang di depan umum. Kaki saya mengangkasa, tubuh saya membentur tanah, dan alih-alih keindahan, yang muncul hanyalah suara tawa anak-anak kecil. Di mana eudaimonia dalam adegan itu, Aristoteles? Di mana?
Kemudian datanglah para Stoa: Epictetus, yang terlahir sebagai budak dan lumpuh, menulis bahwa kita harus membedakan antara apa yang dalam kendali kita dan apa yang tidak. Penderitaan muncul ketika kita mencoba mengendalikan yang tak terkendali. Ini terdengar bijak, sangat bijak, sampai Anda menyadari bahwa Epictetus pada dasarnya mengatakan: "Kamu tidak benar-benar kalah jika kamu mendefinisikan ulang kekalahan sebagai kemenangan." Ini adalah trik sulap konseptual. "Aku tidak dipecat; aku hanya kehilangan pekerjaan yang memang tidak dalam kendaliku." "Aku tidak ditolak cintanya; aku hanya tidak bisa mengendalikan perasaan orang lain." Para Stoa adalah ahli dalam mengubah kekalahan menjadi kemenangan melalui definisi ulang. Mereka adalah akrobat mental. Tetapi bagi kami yang tidak cukup lentur secara intelektual, yang merasakan sakit penolakan sebagai sakit yang nyata, Stoikisme sering kali terasa seperti penghiburan murahan.
Lalu apa? Haruskah kita beralih ke Schopenhauer, sang filsuf pesimisme yang agung? Ia menulis bahwa hidup adalah penderitaan, bahwa kehendak buta mendorong kita dari satu hasrat ke hasrat lain tanpa kepuasan akhir. Ini lebih jujur, saya akui. Schopenhauer tidak menjanjikan kemenangan. Ia mengatakan bahwa jalan keluar terbaik adalah seni dan asketisme, menolak kehendak itu sendiri. Namun bahkan di sini, ada aroma kemenangan yang halus. Dengan memahami kebenaran tentang penderitaan, Anda naik ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Anda menang melawan ilusi. Sang filsuf yang memahami kebenaran pahit adalah pemenang atas orang awam yang masih terperangkap dalam ilusi kebahagiaan. Schopenhauer sendiri, ironisnya, sangat sensitif terhadap kritik dan sangat menikmati reputasi dan makanan enak, sebuah kontradiksi yang menunjukkan bahwa bahkan sang nabi pesimisme pun tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari keinginan untuk menang.
Heidegger berbicara tentang Geworfenheit, keterlemparan, kondisi manusia yang terlempar ke dalam dunia tanpa diminta, tanpa tujuan yang jelas, menuju kematian. Ini dekat dengan pengalaman kami, para pecundang. Kami merasa terlempar ke dalam antrean yang salah, ke dalam kehidupan yang salah, ke dalam tubuh yang salah. Tetapi Heidegger juga berbicara tentang Eigentlichkeit, keautentikan, hidup dengan kesadaran akan kematian dan mengambil alih eksistensi Anda sendiri. Itu adalah panggilan untuk bertindak. Itu adalah proyek. Para pecundang sejati tidak memiliki energi untuk proyek.
Sartre bahkan lebih tegas: kita dikutuk untuk bebas. Kita harus memilih, dan dalam pilihan itu kita menciptakan diri kita sendiri. Betapa melelahkannya. Betapa menyiksanya bagi mereka yang setiap pilihannya berujung pada malapetaka. Sartre akan mengatakan bahwa bahkan tidak memilih adalah sebuah pilihan, sehingga kita tetap bertanggung jawab. Terima kasih, Jean-Paul. Itu sangat membantu.
Camus, dengan mitos Sisifus-nya, mungkin yang paling dekat dengan kita. Sisifus dihukum untuk mendorong batu ke atas bukit selamanya, hanya untuk melihatnya menggelinding turun lagi. "Kita harus membayangkan Sisifus bahagia," kata Camus. Ini adalah undangan untuk menerima absurditas tanpa pelarian. Tidak ada penghiburan transenden, tidak ada makna yang lebih tinggi. Hanya batu, bukit, dan kesadaran akan ketidakbermaknaan itu. Tetapi Camus tetap menyelipkan kata "bahagia". Mengapa Sisifus harus bahagia? Apakah itu perlu? Tidakkah cukup bahwa ia terus mendorong? Mungkin Sisifus yang asli, jika ia ada, tidak bahagia maupun tidak bahagia. Ia hanya... mendorong. Itu saja.
Di sinilah saya, Togog, hadir. Nama saya sendiri adalah lelucon dalam kosmologi wayang. Saya adalah punakawan yang paling tidak jelas statusnya: bukan siapa-siapa, mengabdi kepada siapa saja yang kalah, dan ironisnya, sering kali mengabdi kepada pihak antagonis yang pada akhirnya juga kalah. Saya adalah pelayan kekalahan itu sendiri. Jika Semar adalah bapak kebijaksanaan bagi para ksatria, maka saya adalah paman gila yang tinggal di gudang belakang rumah, yang dipanggil hanya ketika segala sesuatu sudah berantakan dan tidak ada lagi yang bisa disalahkan. Dan dalam posisi itulah, selama berabad-abad, saya mengamati, mencatat, dan merenungkan hakikat kekalahan.
Buku ini adalah hasil renungan panjang saya, sebuah upaya untuk merumuskan filsafat yang jujur, yang tidak menjanjikan transformasi ajaib dari pecundang menjadi pemenang, yang tidak menawarkan lima langkah mudah menuju kebahagiaan, yang tidak mencoba menghibur Anda dengan kebohongan-kebohongan manis. Filsafat ini adalah untuk Anda yang tahu bahwa Anda kalah, yang menerima bahwa Anda mungkin akan tetap kalah, dan yang ingin belajar bagaimana menjalani kehidupan yang kalah dengan, dan ini penting, humor, ironi, dan mungkin secercah makna yang tidak muluk-muluk.
Saya harus memperingatkan Anda sejak awal: buku ini mungkin tidak akan membuat Anda merasa lebih baik. Justru sebaliknya, buku ini mungkin akan membuat Anda merasa lebih buruk, karena ia akan mengkonfrontasi Anda dengan realitas kekalahan Anda tanpa bantalan penghiburan. Tetapi dalam prosesnya, saya berharap Anda akan menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar rasa nyaman: Anda akan menemukan kebenaran, atau setidaknya versi kebenaran yang bisa ditertawakan. Dan tertawa, terutama menertawakan diri sendiri, adalah salah satu dari sedikit kemewahan yang masih bisa dinikmati oleh orang-orang yang kalah.
Saya akan mengajak Anda berjalan-jalan melalui taman filsafat, tetapi bukan untuk memetik bunga-bunga kebijaksanaan dan merangkainya menjadi karangan kemenangan. Sebaliknya, kita akan duduk di bangku taman yang catnya mengelupas, memperhatikan para filsuf besar berlalu-lalang dengan toga dan jubah mereka, dan saling berbisik, "Lihat, yang itu bilang hidup punya makna. Yang itu bilang kita bisa bangkit. Lucu sekali, bukan?"
Jadi, jika Anda adalah seorang pemenang yang tidak sengaja membeli buku ini, segera tutup dan berikan kepada teman Anda yang lebih membutuhkan. Buku ini bukan untuk Anda. Anda tidak akan mengerti bahasanya, seperti Anda tidak akan mengerti rasanya berdiri di halte bus saat hujan deras, menunggu bus yang tidak kunjung datang, sementara mobil-mobil mewah melintas dan menyipratkan air ke celana Anda. Tetapi jika Anda adalah seseorang yang akrab dengan rasa kalah, entah dalam cinta, karier, pertemanan, hobi, diet, atau bahkan dalam upaya spiritual untuk mencapai pencerahan, maka selamat datang. Duduklah. Ambil segelas kopi yang mungkin sudah dingin. Mari kita berbicara dari satu pecundang ke pecundang lainnya.
Bab 1: Anatomi Kekalahan
