Deskripsi
Rapat Pemilihan Cawapres di Isana Negeri Liliput
Latar:
Sebuah ruangan megah di Istana Calon Presiden. Dindingnya dilapisi kain beludru merah. Ada lukisan besar Owobarp Otnaibus tersenyum dengan satu tangan menunjuk ke atas, entah menunjuk Tuhan, entah menunjuk langit-langit. Meja bundar besar dari kayu jati dikelilingi oleh delapan kursi mewah. Di setiap kursi sudah duduk satu pimpinan partai. Owobarp duduk di ujung meja, tersenyum misterius. Di sudut ruangan, Togog duduk di kursi plastik, satu-satunya kursi plastik di ruangan itu, mengupas kacang rebus dengan tenang.
Owobarp Otnaibus (mengetuk meja dengan gagang pulpen emasnya):
"Saudara-saudara, para pemimpin partai yang saya hormati, yang saya banggakan, yang saya... eh... cintai. Hari ini kita berkumpul di sini untuk membicarakan masa depan Negeri Liliput. Saya, Owobarp Otnaibus, calon presiden Anda, eh, maksud saya, calon presiden kita, membutuhkan seorang pendamping. Seorang wakil. Seorang yang bisa melengkapi saya. Saya butuh seseorang yang... bagaimana ya... yang bisa menutupi kekurangan saya. Meskipun sejujurnya, saya tidak punya kekurangan. Tapi untuk menjaga kerendahan hati, mari kita anggap saya punya."
(Togog tersedak kacang. Batuk kecil. Semua orang menoleh.)
Togog:
"Maaf, maaf. Kacangnya pedas. Silakan lanjutkan, Paduka. Retorika Paduka sungguh... menyegarkan."
Owobarp:
"Baiklah. Saya akan memberikan kesempatan kepada masing-masing pimpinan partai untuk menyampaikan mengapa mereka, atau partai mereka, layak menjadi pendamping saya. Partai Apel Merah, silakan pertama."
(Pimpinan Partai Apel Merah berdiri. Ia mengenakan jas merah menyala, dasi merah, dan sepatu merah. Bahkan keringatnya, entah kenapa, terlihat agak kemerahan.)
