Deskripsi
Prakata
Pada dini hari 16 Agustus 1945, di sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, seorang pemuda berusia tiga puluh tahun berdiri berhadapan dengan Sukarno. Di luar, kota masih diselimuti gelap. Di dalam ruangan itu, udara terasa pengap oleh bau keringat dan ketakutan. Jepang baru saja menyerah. Ratusan ribu tentaranya masih bersenjata lengkap di seluruh Jawa. Dan pemuda itu, dengan suara yang bergetar oleh amarah dan keyakinan, mengucapkan kalimat yang akan mengubah sejarah: "Bung Karno! Jika Bung tidak berani memproklamasikan kemerdekaan hari ini, biarkan rakyat yang melakukannya! Kami akan berperang! Darah akan mengalir, tetapi itu lebih baik daripada menjadi budak!"
Pemuda itu bernama Wikana. Kata-katanya adalah ledakan yang memaksa Sukarno, sang orator ulung, sang pemimpin besar revolusi, untuk akhirnya tunduk pada desakan sejarah. Tanpa Wikana, tanpa keberaniannya menatap mata Sukarno dan berbicara dengan kejujuran yang membakar, pagi 17 Agustus 1945 mungkin tidak akan pernah terjadi. Namun, hanya dua dekade setelah malam itu, republik yang ia bantu lahirkan akan memburunya seperti binatang. Ia akan dieksekusi tanpa pengadilan, dikubur di liang tak bertanda, dan namanya dihapus dari buku-buku sejarah. Ironi yang begitu kejam: sang proklamator, karena Wikana adalah proklamator dalam arti yang paling sesungguhnya, ia yang memaksa proklamasi terjadi, justru diproklamasikan sebagai pengkhianat oleh negara yang ia dirikan.
Buku ini adalah upaya untuk mengembalikan Wikana ke dalam ingatan bangsa yang telah melupakannya.
Saya mulai menulis biografi ini dengan sebuah pertanyaan yang sederhana namun mengganggu: mengapa kita tidak mengenal Wikana? Mengapa nama Chairul Saleh, Sukarni, dan Wikana, tiga serangkai yang bahu-membahu di Asrama Menteng 31, yang bersama-sama merancang "penculikan" Rengasdengklok, hanya muncul sebagai catatan kaki dalam narasi resmi? Mengapa hanya Sukarno dan Hatta yang kita puja sebagai "proklamator," sementara mereka yang memaksa proklamasi terjadi, yang mempertaruhkan nyawa, yang bersedia menodongkan pistol sejarah ke pelipis para pemimpin yang ragu-ragu, dihapuskan begitu saja?
Jawabannya, tentu saja, adalah politik. Wikana memilih jalan yang salah dalam lanskap politik Indonesia pasca-1965. Ia memilih PKI. Ia memilih Marxisme. Ia memilih internasionalisme proletar di atas nasionalisme sempit. Dan ketika rezim Orde Baru naik ke tampuk kekuasaan dengan mandat membasmi segala yang berbau "kiri," Wikana tidak hanya dibunuh secara fisik, ia juga dibunuh secara naratif. Rezim Soeharto memahami bahwa mengendalikan masa lalu adalah kunci untuk mengendalikan masa depan. Maka, mereka menulis ulang sejarah. Mereka menghapus Wikana. Mereka menjadikannya hantu yang tak boleh disebut namanya.
Menulis biografi ini, oleh karena itu, adalah pekerjaan yang hampir mustahil. Saya harus menjadi arkeolog ingatan, menggali serpihan-serpihan yang tersisa setelah tiga dekade penghapusan sistematis. Surat-surat pribadi Wikana telah dibakar oleh keluarganya yang ketakutan. Pidato-pidatonya yang menggelegar direduksi menjadi satu kalimat hambar dalam buku teks: "Para pemuda seperti Sukarni, Wikana, dan Chaerul Saleh mendesak Sukarno-Hatta." Arsip partainya disita. Foto-fotonya disobek. Bahkan kuburannya pun tidak diketahui. Saya harus menempuh perjalanan ke Den Haag, London, Maryland, dan Tokyo, menyusuri laporan intelijen kolonial, kawat diplomatik yang telah dideklasifikasi, memo CIA yang menguning, dan transkrip wawancara yang terlupakan, hanya untuk menemukan kembali sosok yang telah dihapus dengan begitu rapi.
Namun, di antara semua dokumen itu, yang paling menghantui saya adalah sebuah kotak kayu usang yang disimpan oleh putri Wikana di bawah tempat tidurnya. Di dalamnya, terbungkus kain lusuh, ada beberapa lembar surat yang ditulis dari persembunyian, sebuah foto hitam-putih yang sudah hampir tidak terbaca, dan secarik kertas dengan puisi pendek yang ditulisnya menjelang kematian. Ketika saya membaca surat-surat itu, surat seorang ayah kepada anak-anaknya, yang ditulis dengan tangan gemetar di persembunyian yang terus berpindah, saya menangis. Bukan karena isinya yang menyedihkan, melainkan karena saya menyadari betapa besarnya kehilangan kita sebagai bangsa. Kita telah kehilangan Wikana. Kita telah kehilangan ceritanya. Dan kita hampir kehilangan suaranya yang terakhir.
Siapakah Wikana? Ia adalah kontradiksi yang berjalan. Ia lahir dari keluarga bangsawan Sunda, seorang wedana, pejabat kolonial yang dihormati, tetapi memilih untuk menghancurkan feodalisme yang melahirkannya. Ia belajar di Moskow, di International Lenin School, tetapi menolak untuk disebut boneka Soviet. Ia adalah Marxis ortodoks yang bisa mengutip Das Kapital bab per bab, tetapi juga seorang orator yang mampu membakar semangat buruh pelabuhan dengan bahasa yang sederhana. Ia adalah pemimpin Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) yang mempersenjatai ribuan pemuda untuk bertempur melawan Belanda, tetapi di rumah, ia hanyalah seorang ayah yang mencium dahi anak-anaknya sebelum subuh, sebelum menghilang lagi ke dalam pusaran revolusi.
Kontradiksi ini bukanlah kelemahan. Justru di sinilah letak kemanusiaan Wikana. Ia bukanlah patung pahlawan yang beku dan tanpa cela. Ia adalah manusia yang berdarah, yang meragukan dirinya sendiri, yang menulis surat kepada istrinya dengan nada bersalah: "Maafkan aku, istriku. Aku tahu hidup bersamaku bukanlah hidup yang mudah." Ia adalah manusia yang memilih untuk tetap tinggal di Indonesia ketika ia bisa saja melarikan diri ke luar negeri setelah G30S, karena ia percaya bahwa seorang revolusioner tidak boleh meninggalkan medan perjuangannya, bahkan ketika medan itu telah berubah menjadi kuburan.
Buku ini tidak ditulis untuk mengkanonisasi Wikana. Saya tidak ingin menggantikan satu mitos dengan mitos lainnya. Saya juga tidak ingin menghakimi pilihan-pilihannya, apakah ia benar bergabung dengan PKI? Apakah ia terlalu percaya pada Aidit? Apakah ia tahu tentang rencana kudeta 1965? Pertanyaan-pertanyaan ini, yang akan saya bahas dengan jujur di bab-bab selanjutnya, tidak memiliki jawaban yang sederhana. Tugas sejarawan bukanlah menjadi hakim yang menjatuhkan vonis, melainkan menjadi saksi yang mencatat dengan teliti dan jujur.
Tujuan saya lebih rendah hati: Saya ingin mengembalikan Wikana ke dalam percakapan kita tentang masa lalu. Saya ingin kita berhenti membagi tokoh-tokoh Indonesia menjadi "pahlawan" dan "pengkhianat", sebuah dikotomi yang diciptakan oleh rezim Orde Baru dan, ironisnya, masih kita pelihara hingga hari ini. Sejarah tidaklah hitam-putih. Sejarah adalah spektrum abu-abu yang luas, di mana seorang Marxis bisa menjadi proklamator, di mana seorang komunis bisa mencintai negerinya dengan segenap jiwa, di mana seorang "pemberontak" bisa menjadi korban dari republik yang ia bantu dirikan.
Jika, setelah membaca buku ini, Anda merasa terusik, jika Anda mulai mempertanyakan narasi-narasi yang selama ini Anda terima begitu saja, jika Anda merasa marah atau sedih atau bingung, maka buku ini telah berhasil. Karena sejarah bukanlah monumen yang beku. Sejarah adalah medan pertempuran yang terus bergolak, dan Wikana adalah salah satu prajuritnya yang paling gagah berani, yang gugur bukan karena peluru musuh, melainkan karena tikaman dari belakang oleh negara yang ia bela.
Di akhir hayatnya, dalam pelarian dari satu desa ke desa lain, Wikana menulis dalam sebuah surat yang tidak pernah sampai: "Aku tidak tahu bagaimana sejarah akan menilaiku. Mungkin sebagai pahlawan. Mungkin sebagai pengkhianat. Itu tidak penting bagiku sekarang. Yang penting adalah aku telah melakukan apa yang aku yakini benar." Tugas kita sekarang, sebagai pembaca, sebagai warga negara, sebagai manusia, adalah memastikan bahwa ia tidak mati dua kali: sekali secara fisik, dan sekali lagi dalam ingatan. Buku ini adalah upaya kecil untuk mencegah kematian yang kedua. Selamat membaca. Selamat berziarah ke dalam ingatan yang nyaris punah.
Daftar Isi
Imprint
CopyRight
Prakata
Daftar Isi
Bagian Satu Akar dan Api (1914–1942)
Bab 1 Darah Sumedang, Mimpi yang Jauh (1914–1932)
Kota Sumedang di Awal Abad ke-20
Keluarga Soemantapradja Priyayi di Persimpangan
Pendidikan Dari HIS ke MULO
Jejak Awal di Laporan Intelijen Kolonial
Memasuki Dunia Pergerakan Indonesia Muda dan Kontak-Kontak Awal
Dari Bandung ke Batavia Menuju Pusat Kekuasaan
Kontak dengan Jaringan Komunis Bawah Tanah
Menjelang Perang Firasat dan Persiapan
Penutup Bab 1
Daftar Rujukan
Bab 2 Asrama Menteng 31 Laboratorium Revolusi di Bawah Bayang-Bayang Matahari Terbit (1942–1945)
Batavia di Awal Pendudukan Strategi Serigala Berbulu Domba
Asrama Menteng 31 Sebuah Eksperimen Politik
Jaringan Bawah Tanah Kontak dengan PKI Ilegal dan Tan Malaka
Propaganda dan Agitasi Menulis di Bawah Sensor
Ketegangan dengan Sukarni Dua Strategi, Satu Tujuan
Menjelang Proklamasi Mencium Angin Perubahan
Menilai Kembali Warisan Asrama Menteng 31
Penutup Bab 2
Daftar Rujukan
Bab 3 Rengasdengklok dan Proklamasi Orator di Pusat Badai (Agustus 1945)
Malam 15 Agustus Gelombang Radio yang Mengubah Segalanya
Rapat di Lembaga Bakteriologi Drama di Balik Pintu Tertutup
Dini Hari 16 Agustus "Penculikan" yang Penuh Hormat
Di Rengasdengklok Negosiasi di Ujung
Kembali ke Jakarta Proklamasi yang Direbut
Analisis Wikana dan Seni Oratori Revolusioner
Setelah Proklamasi Jalan yang Bercabang
Penutup Bab 3
Daftar Rujukan
Bab 4 Revolusi Fisik dan Jalan Kiri yang Bercabang (1945–1949)
Setelah Proklamasi Membangun Kekuatan Pemuda
Pesindo Tentara Pemuda Revolusioner
Keluarga Batik Sisi Manusiawi Sang Revolusioner
Pertempuran Surabaya dan Medan-Medan Lain
Jalan Bercabang Antara Tan Malaka, PKI, dan Murba
Madiun 1948 Titik Balik Berdarah
Menjelang Pengakuan Kedaulatan Kemenangan yang Pahit60
Penutup Bab 4
Daftar Rujukan
Bagian Tiga Kader Internasional di Panggung Nasional (1950–1965)
Bab 5 Murid Moskow, Pendidikan, Jaringan, dan Kepulangan yang Mengubah Segalanya (1950–1955)
Keberangkatan yang Rahasia
Soekarsi dan Anak-Anak Keluarga yang Ditinggalkan
Moskow Universitas Revolusi
Kehidupan di Moskow Antara Kekaguman dan Kerinduan
Jaringan Internasional Kontak dengan Kader-Kader Asia
Kepulangan Indonesia yang Berubah
Reuni dengan Keluarga Asing di Rumah Sendiri
Penutup Bab 5
Daftar Rujukan
Bab 6 Di Jantung PKI, Editor, Ideolog, dan Polemis (1955–1963)
Harian Rakjat Panggung bagi Sang Orator Pena
Membedah Tulisan-Tulisan Wikana di Harian Rakjat
Polemik dengan Murba Dua Kiri yang Bertabrakan
Di Lingkaran Dalam Wikana dan Aidit
Kehidupan Keluarga di Tengah Badai Politik
Konfrontasi Malaysia dan Retorika yang Memanas
Penutup Bab 6
Daftar Rujukan
Bagian Empat Kematian dan Keabadian (1965–Sekarang)
Bab 7 Di Pusat Badai Wikana dan Gerakan 30 September 1965
Menjelang Badai Tahun yang Penuh Tanda Tanya
Misteri Biro Khusus Apakah Wikana Tahu?
Malam 30 September Di Mana Wikana?
Hari-Hari Setelah Kudeta Diam yang Mematikan
Pelarian Dari Rumah ke Rumah, dari Kota ke Kota
Penangkapan dan Eksekusi Akhir Sebuah Perjalanan
Keluarga yang Tertinggal Duka dalam Senyap
Penutup Bab 7
Daftar Rujukan
Bab 8 Hantu yang Tak Pernah Pergi Warisan, Penghapusan, dan Memori (1966–Sekarang)
Penghapusan Sistematis Orde Baru dan Rekayasa Ingatan
Anak-Anak Revolusi yang Terlantar Kehidupan di Bawah Stigma
Upaya Rehabilitasi Pasca-Reformasi dan Perjuangan untuk Keadilan
Memori dalam Sastra dan Seni Mengenang yang Tak Terucapkan
Pelajaran dari Seorang Revolusioner yang Terlupakan
Penutup Mengembalikan Nama, Memulihkan Ingatan
Daftar Rujukan
Sinopsis
Siapa yang memaksa Sukarno memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945? Buku teks hanya menyebut "para pemuda." Salah satunya adalah Wikana, seorang Marxis militan, orator ulung, dan anggota Comite Central PKI, yang pada dini hari 16 Agustus berdiri di hadapan Sukarno dan mengancam: jika Bung Karno tidak bertindak, rakyat akan mengambil alih. Kata-katanya menjadi pemicu yang meledakkan seluruh rangkaian peristiwa menuju Proklamasi.
Lahir dari keluarga bangsawan Sunda di Sumedang, Wikana menolak hak istimewanya dan memilih jalan revolusi. Ia bergerak di bawah tanah melawan Jepang, memimpin Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dalam pertempuran Surabaya, dan menempuh pendidikan di International Lenin School, Moskow. Sekembalinya, ia menjadi editor Harian Rakjat dan terlibat polemik sengit melawan mantan kawannya sendiri, Sukarni. Namun, pilihan politiknya membawanya ke pusat badai G30S 1965. Ia diburu, ditangkap, dieksekusi tanpa pengadilan, dan dihapus dari sejarah oleh rezim Orde Baru.
Biografi ini mengembalikan suara Wikana yang telah lama dibungkam. Ditulis berdasarkan riset arsip di Den Haag, London, Maryland, dan Tokyo, serta wawancara dengan keluarga yang selama puluhan tahun hidup dalam stigma, buku ini mengisahkan perjalanan seorang Marxis yang membakar dirinya untuk menerangi republik, seorang proklamator yang justru diproklamasikan sebagai pengkhianat, dan seorang manusia yang menolak menyerah pada keyakinannya, bahkan di hadapan maut. Sebuah kisah yang akan mengubah cara Anda memandang sejarah Indonesia. </sb>
