Adagium Perang yang Sederhana


Deskripsi

Perang tidak lain sebagai kelanjutan politik dalam bentuk lain. Inilah adagium Clausewitz yang menjadi inti dari esai ilmiah ini. Analisis atas adagium dilakukan terhadap situasi geopolitik konflik Irak, Ukraina, dan Iran. Carl von Clausewitz, praktisi dan teoretisi perang asal Prusia. Ia meninggalkan warisan intelektual yang hingga kini tetap relevan untuk memahami dinamika konflik global. Dalam karya monumentalnya On War, Clausewitz menyatakan bahwa "the result of a war is never absolute" (Clausewitz 630). 

Pernyataan tersebut adalah proposisi yang mengandung implikasi mendalam bahwa perang bukanlah instrumen yang menghasilkan kemenangan total, melainkan alat kebijakan politik yang berlanjut dengan cara lain (Clausewitz 87). Pernyataan terkenal Clausewitz, "War is a mere continuation of politics by other means" (Clausewitz 87), telah menjadi aksioma dalam studi hubungan internasional dan strategi militer modern.

Namun, dalam konteks geopolitik abad ke-21, teori Clausewitz menghadapi tantangan baru. Perang tidak lagi hanya melibatkan dua negara-bangsa yang saling berhadapan, melainkan jaringan kompleks aktor negara, aktor non-negara, kepentingan ekonomi, dan ideologi yang saling bertautan. Artikel ini menganalisis tiga studi kasus — Perang Irak I (1990-1991), Konflik Rusia-Ukraina (2022-2026), dan Serangan AS-Israel terhadap Iran (2026) — untuk mendemonstrasikan bagaimana teori Clausewitzian tetap relevan, namun memerlukan reinterpretasi dalam konteks imperialisme ekonomi, dominasi hegemoni, dan kepentingan ideologis yang tersembunyi.


Konten

Adagium Perang yang Sederhana

Harga

Rp 3.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Adagium Perang yang Sederhana


Deskripsi

Perang tidak lain sebagai kelanjutan politik dalam bentuk lain. Inilah adagium Clausewitz yang menjadi inti dari esai ilmiah ini. Analisis atas adagium dilakukan terhadap situasi geopolitik konflik Irak, Ukraina, dan Iran. Carl von Clausewitz, praktisi dan teoretisi perang asal Prusia. Ia meninggalkan warisan intelektual yang hingga kini tetap relevan untuk memahami dinamika konflik global. Dalam karya monumentalnya On War, Clausewitz menyatakan bahwa "the result of a war is never absolute" (Clausewitz 630). 

Pernyataan tersebut adalah proposisi yang mengandung implikasi mendalam bahwa perang bukanlah instrumen yang menghasilkan kemenangan total, melainkan alat kebijakan politik yang berlanjut dengan cara lain (Clausewitz 87). Pernyataan terkenal Clausewitz, "War is a mere continuation of politics by other means" (Clausewitz 87), telah menjadi aksioma dalam studi hubungan internasional dan strategi militer modern.

Namun, dalam konteks geopolitik abad ke-21, teori Clausewitz menghadapi tantangan baru. Perang tidak lagi hanya melibatkan dua negara-bangsa yang saling berhadapan, melainkan jaringan kompleks aktor negara, aktor non-negara, kepentingan ekonomi, dan ideologi yang saling bertautan. Artikel ini menganalisis tiga studi kasus — Perang Irak I (1990-1991), Konflik Rusia-Ukraina (2022-2026), dan Serangan AS-Israel terhadap Iran (2026) — untuk mendemonstrasikan bagaimana teori Clausewitzian tetap relevan, namun memerlukan reinterpretasi dalam konteks imperialisme ekonomi, dominasi hegemoni, dan kepentingan ideologis yang tersembunyi.


Konten

Adagium Perang yang Sederhana