Akbar the Great dan Dunia yang Lelah Berkonflik


Deskripsi

Pernahkah kita membayangkan seorang raja absolut, pewaris Genghis Khan dan Timur Lenk, yang memerintah ratusan juta jiwa dari berbagai suku, bahasa, dan agama, namun justru memilih untuk tidak memaksakan keyakinannya? Seorang Muslim taat yang menghapuskan pajak diskriminatif terhadap non-Muslim, menikahi putri-putri Hindu, dan membangun sebuah “Rumah Ibadah” di istananya sendiri untuk mendengarkan debat para teolog dari semua agama? Dialah Kaisar Akbar Agung (1542–1605), penguasa Mughal terbesar yang oleh para sejarawan disebut sebagai “the greatest of the Mughal emperors of India” (Britannica, 1998, hlm. 5-7).

Mengapa sosok dari abad ke-16 ini penting untuk dipelajari oleh mahasiswa Indonesia di abad ke-21? Jawabannya sangat mendasar: Akbar bukan sekadar seorang penakluk. Ia adalah seorang arsitek politik yang merancang sebuah sistem kenegaraan yang mampu menyatukan keragaman yang luar biasa di anak benua India. Dalam konteks Indonesia, negara dengan lebih dari 17.000 pulau, 1.300 suku bangsa, dan enam agama resmi, pemikiran politik Akbar menawarkan pelajaran yang tak ternilai tentang bagaimana mengelola kemajemukan tanpa harus mengorbankan identitas dan kedaulatan.

Majalah Hindustan Times (2020) bertanya, “Mengapa Akbar Agung tetap begitu relevan?” dan menjawabnya sendiri: “For our time the most striking quality is Akbar’s ecumenism. He believed ‘all religions are either equally true or equally illusory’” (Hindustan Times, 2020, hlm. 23-25). Bagi masa kita, sifat Akbar yang paling menonjol adalah ekumenismenya. Ia meyakini bahwa “semua agama entah sama-sama benar, atau sama-sama bersifat ilusif.” Ini adalah pernyataan yang radikal bahkan untuk zaman kita, apalagi untuk abad ke-16. Akbar meyakini bahwa tidak ada satu pun kelompok agama yang berhak memonopoli kebenaran dan memperlakukan kelompok lain secara zalim. Bagi Akbar, perbedaan agama adalah sebuah keniscayaan Ilahi yang harus dikelola dengan kebijaksanaan, bukan dengan pedang (Garuda Kemdiktisaintek, 2025, hlm. 8-11).

Biografi Singkat

Untuk memahami pemikiran politik Akbar, Kita harus terlebih dahulu memahami panggung hidupnya. Jalaluddin Muhammad Akbar lahir pada 15 Oktober 1542 di Umarkot, Sindh (kini Pakistan), dalam pelarian. Ayahnya, Kaisar Humayun, adalah seorang raja yang terusir dari tahtanya sendiri. Sang cucu dari penakluk besar Babur ini lahir di sebuah tenda di padang pasir, jauh dari kemegahan istana.


Konten

Akbar the Great dan Dunia yang Lelah Berkonflik

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Akbar the Great dan Dunia yang Lelah Berkonflik


Deskripsi

Pernahkah kita membayangkan seorang raja absolut, pewaris Genghis Khan dan Timur Lenk, yang memerintah ratusan juta jiwa dari berbagai suku, bahasa, dan agama, namun justru memilih untuk tidak memaksakan keyakinannya? Seorang Muslim taat yang menghapuskan pajak diskriminatif terhadap non-Muslim, menikahi putri-putri Hindu, dan membangun sebuah “Rumah Ibadah” di istananya sendiri untuk mendengarkan debat para teolog dari semua agama? Dialah Kaisar Akbar Agung (1542–1605), penguasa Mughal terbesar yang oleh para sejarawan disebut sebagai “the greatest of the Mughal emperors of India” (Britannica, 1998, hlm. 5-7).

Mengapa sosok dari abad ke-16 ini penting untuk dipelajari oleh mahasiswa Indonesia di abad ke-21? Jawabannya sangat mendasar: Akbar bukan sekadar seorang penakluk. Ia adalah seorang arsitek politik yang merancang sebuah sistem kenegaraan yang mampu menyatukan keragaman yang luar biasa di anak benua India. Dalam konteks Indonesia, negara dengan lebih dari 17.000 pulau, 1.300 suku bangsa, dan enam agama resmi, pemikiran politik Akbar menawarkan pelajaran yang tak ternilai tentang bagaimana mengelola kemajemukan tanpa harus mengorbankan identitas dan kedaulatan.

Majalah Hindustan Times (2020) bertanya, “Mengapa Akbar Agung tetap begitu relevan?” dan menjawabnya sendiri: “For our time the most striking quality is Akbar’s ecumenism. He believed ‘all religions are either equally true or equally illusory’” (Hindustan Times, 2020, hlm. 23-25). Bagi masa kita, sifat Akbar yang paling menonjol adalah ekumenismenya. Ia meyakini bahwa “semua agama entah sama-sama benar, atau sama-sama bersifat ilusif.” Ini adalah pernyataan yang radikal bahkan untuk zaman kita, apalagi untuk abad ke-16. Akbar meyakini bahwa tidak ada satu pun kelompok agama yang berhak memonopoli kebenaran dan memperlakukan kelompok lain secara zalim. Bagi Akbar, perbedaan agama adalah sebuah keniscayaan Ilahi yang harus dikelola dengan kebijaksanaan, bukan dengan pedang (Garuda Kemdiktisaintek, 2025, hlm. 8-11).

Biografi Singkat

Untuk memahami pemikiran politik Akbar, Kita harus terlebih dahulu memahami panggung hidupnya. Jalaluddin Muhammad Akbar lahir pada 15 Oktober 1542 di Umarkot, Sindh (kini Pakistan), dalam pelarian. Ayahnya, Kaisar Humayun, adalah seorang raja yang terusir dari tahtanya sendiri. Sang cucu dari penakluk besar Babur ini lahir di sebuah tenda di padang pasir, jauh dari kemegahan istana.


Konten

Akbar the Great dan Dunia yang Lelah Berkonflik