Artikel ini menyelidiki skala dan mekanisme pendanaan kampanye yang berasal dari komite aksi politik (PAC, Political Action Committee) pro-Israel dan afiliasinya dalam memengaruhi komposisi dan orientasi kebijakan Kongres Amerika Serikat. Dengan menggunakan data yang bersumber dari Federal Election Commission (FEC) yang dikompilasi oleh OpenSecrets, Washington Report on Middle East Affairs (WRMEA), dan lembaga jurnalisme investigatif seperti The Intercept, analisis ini mendokumentasikan lonjakan historis dalam pengeluaran politik pro-Israel pada siklus pemilu 2023–2024.
Temuan menunjukkan bahwa AIPAC dan super PAC afiliasinya, United Democracy Project (UDP), membelanjakan lebih dari $95 juta (setara Rp.1.628.338.000.000), dengan lebih dari $45 juta (setara Rp.771.318.000.000) mengalir langsung kepada kandidat Kongres yang menang. Distribusi dana bersifat bipartisan namun asimetris: UDP secara eksklusif membelanjakan $20,2 juta (setara Rp. 346.236.080.000) untuk menentang kandidat Demokrat progresif yang kritis terhadap Israel, sementara tidak membelanjakan dana untuk mendukung kandidat Republik.
Dua kasus primer, yaitu kekalahan Jamaal Bowman (NY-16) dan Cori Bush (MO-01), mengilustrasikan efektivitas strategi "penghapusan politik" (political elimination) melalui kekuatan finansial. Analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa politisi yang lebih suportif terhadap Israel menerima rata-rata $125.000 (setara Rp.2.142.550.000) dari donor pro-Israel, dibandingkan hanya $18.000 (setara Rp. 308.527.200) bagi mereka yang lebih suportif terhadap Palestina.
Artikel ini menyelidiki skala dan mekanisme pendanaan kampanye yang berasal dari komite aksi politik (PAC, Political Action Committee) pro-Israel dan afiliasinya dalam memengaruhi komposisi dan orientasi kebijakan Kongres Amerika Serikat. Dengan menggunakan data yang bersumber dari Federal Election Commission (FEC) yang dikompilasi oleh OpenSecrets, Washington Report on Middle East Affairs (WRMEA), dan lembaga jurnalisme investigatif seperti The Intercept, analisis ini mendokumentasikan lonjakan historis dalam pengeluaran politik pro-Israel pada siklus pemilu 2023–2024.
Temuan menunjukkan bahwa AIPAC dan super PAC afiliasinya, United Democracy Project (UDP), membelanjakan lebih dari $95 juta (setara Rp.1.628.338.000.000), dengan lebih dari $45 juta (setara Rp.771.318.000.000) mengalir langsung kepada kandidat Kongres yang menang. Distribusi dana bersifat bipartisan namun asimetris: UDP secara eksklusif membelanjakan $20,2 juta (setara Rp. 346.236.080.000) untuk menentang kandidat Demokrat progresif yang kritis terhadap Israel, sementara tidak membelanjakan dana untuk mendukung kandidat Republik.
Dua kasus primer, yaitu kekalahan Jamaal Bowman (NY-16) dan Cori Bush (MO-01), mengilustrasikan efektivitas strategi "penghapusan politik" (political elimination) melalui kekuatan finansial. Analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa politisi yang lebih suportif terhadap Israel menerima rata-rata $125.000 (setara Rp.2.142.550.000) dari donor pro-Israel, dibandingkan hanya $18.000 (setara Rp. 308.527.200) bagi mereka yang lebih suportif terhadap Palestina.