Anatomi Sang Jago Teori Local Strongmen dan Lanskap Politik Indonesia


Deskripsi

Kita harus memulai dengan pengakuan yang jujur, bahkan jika pengakuan itu pahit. Pengakuan bahwa manusia adalah binatang politik, dalam arti yang jauh lebih literal daripada yang pernah dibayangkan oleh Aristoteles. Jauh sebelum filsafat lahir, jauh sebelum republik dan konstitusi ditulis, nenek moyang kita telah hidup dalam hierarki. Mereka berjuang untuk status, membangun aliansi, mengkhianati saingan, dan memonopoli akses ke makanan dan pasangan. Perilaku ini bukanlah "dosa" atau "penyimpangan"; ia adalah strategi bertahan hidup yang telah terpatri dalam gen kita melalui jutaan tahun seleksi alam. 

Seperti yang dirangkum oleh Frans de Waal dalam studi monumentalnya tentang politik pada primata, "Akar politik jauh lebih tua daripada umat manusia. Strategi-strategi yang kita lihat di parlemen dan Dewan Keamanan PBB, pembentukan koalisi, taktik divide et impera, dan negosiasi, semuanya dapat ditemukan pada simpanse dan bonobo" (de Waal 7). Bedanya, simpanse tidak perlu pura-pura berdasi dan membaca pidato tentang kesejahteraan rakyat. Mereka jujur pada kodrat mereka. Kita, sebaliknya, telah membangun peradaban yang memaksa kita untuk menjadi hipokrit yang anggun.

Dalam kerangka ini, fenomena Local Strongman yang telah kita bedah selama ribuan halaman bukanlah sebuah anomali, melainkan ekspresi dari kodrat yang paling murni. Di tingkat pusat, di mana sorotan media dan tekanan internasional begitu kuat, pertarungan kekuasaan mungkin tampak lebih halus. Ia dibungkus dalam bahasa teknokratis, aturan administrasi, dan senyum diplomatik. Korteks Prefrontal, pusat perencanaan dan pengendalian diri, bekerja keras untuk menyamarkan agenda limbik. Namun, semakin kita bergerak ke bawah, ke tingkat lokal, ke desa-desa dan tambang-tambang liar, semakin tipis lapisan penyamaran itu. Di sana, di bawah terik matahari dan di tengah hutan yang dibabat, Alpha Male menampakkan diri dalam wujudnya yang paling telanjang: Jagoan Fisik yang mengandalkan otot dan nyali, Cukong yang mengandalkan uang, dan Patron Politik yang mengandalkan koneksi. Kekayaan, kenekatan, dan kapasitas untuk melakukan kekerasan adalah mata uang yang sesungguhnya, sementara undang-undang hanyalah kertas yang bisa disobek atau, jika perlu, dibakar.

Konsep Trade-Off yang diangkat oleh adalah kunci untuk memahami seluruh dinamika ini. Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang malas secara kognitif. Korteks Prefrontal adalah organ yang sangat boros energi; ia mengonsumsi sekitar 20% dari total kalori tubuh kita, jauh lebih banyak daripada bagian otak lainnya. Dari sudut pandang evolusi, menghemat energi adalah keharusan. Oleh karena itu, otak kita dirancang untuk mencari jalan pintas (shortcuts). Dalam psikologi kognitif, ini dikenal sebagai heuristics, aturan-aturan sederhana yang memungkinkan kita membuat keputusan dengan cepat tanpa harus berpikir terlalu dalam. 

Dalam politik, jalan pintas itu adalah korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mengapa harus mengikuti prosedur tender yang rumit, transparan, dan memakan waktu berbulan-bulan, jika Anda bisa menelepon keponakan Anda dan memberinya proyek dalam waktu lima menit? Mengapa harus membangun basis dukungan melalui program yang mahal dan memakan waktu bertahun-tahun, jika Anda bisa membagikan amplop dalam "serangan fajar" dan menang dalam hitungan jam? Korupsi, dalam pengertian ini, bukanlah sekadar "penyakit" yang bisa disembuhkan dengan obat reformasi birokrasi. Ia adalah strategi kognitif yang efisien, sebuah adaptasi evolusioner terhadap kompleksitas dunia yang berlebihan.

Lalu, apa yang dilakukan oleh peradaban? Peradaban, melalui Korteks dan Neo-Korteks kolektifnya, menciptakan hukum, undang-undang, dan lembaga. Semua ini adalah alat pengekangan diri (self-binding devices). Kita tahu bahwa kita memiliki naluri untuk mencuri, jadi kita membuat undang-undang anti-pencurian dan polisi. Kita tahu bahwa kita memiliki naluri untuk berzina, jadi kita menciptakan institusi perkawinan dan norma kesetiaan. Kita tahu bahwa para Alpha Male akan selalu berusaha memonopoli sumber daya, jadi kita menciptakan lembaga antikorupsi, aturan tender, dan pengadilan. Negara, dalam perspektif ini, adalah super-ego kolektif, sebuah konstruksi kortikal yang mencoba menundukkan Id limbik.

Namun, masalahnya adalah bahwa super-ego ini tidak pernah sepenuhnya menang. Seperti yang ditunjukkan oleh Sigmund Freud dalam Civilization and Its Discontents, peradaban selalu berada dalam ketegangan yang tidak pernah selesai dengan naluri primitif manusia. "Peradaban," tulis Freud, "dibangun di atas penindasan naluri. Tetapi naluri yang ditindas tidak pernah benar-benar hilang; ia menunggu di bawah permukaan, siap untuk meledak ketika kesempatan muncul" (Freud 87). Inilah yang dimaksud dengan "laten": korupsi, kolusi, dan nepotisme tidak akan pernah hilang. Mereka hanya menunggu, seperti virus dalam tubuh inang, untuk menemukan celah dalam sistem kekebalan hukum dan keluar dalam wabah yang baru.

Jika semua ini benar, jika kuasa predatoris adalah kodrat, jika Alpha Male akan selalu muncul, dan jika korupsi adalah strategi kognitif yang efisien yang hanya bisa ditekan tetapi tidak pernah dihilangkan, maka kita dihadapkan pada sebuah dilema aksiologis yang akut. Haruskah kita terus menegakkan hukum, memberantas korupsi, dan berusaha membangun negara yang adil? Ataukah semua itu hanyalah Don Quixote yang menyerang kincir angin, sebuah kebodohan heroik yang pada akhirnya tidak akan mengubah apa pun? Haruskah kita menerima bahwa "memang beginilah dunia," dan bahwa yang bisa kita lakukan hanyalah mengelola keburukan, bukannya menghilangkannya?

Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan abstrak. Ia memiliki konsekuensi yang sangat nyata bagi aktivis, penegak hukum, dan warga biasa. Jika kita percaya bahwa melawan korupsi adalah sia-sia, maka kita akan berhenti melaporkan, berhenti mengawasi, dan berhenti berharap. Keputusasaan akan merayap, dan sinisme akan menjadi filsafat hidup. Inilah yang oleh Paulo Freire disebut sebagai "fatalisme" , keyakinan bahwa realitas sudah ditentukan dan tidak bisa diubah, yang merupakan senjata paling ampuh bagi para penindas (Freire 45). Jika semua orang percaya bahwa politik itu kotor dan tidak bisa diubah, maka para Strongman bisa memangsa dengan tenang, tanpa takut akan perlawanan.


Konten

Anatomi Sang Jago Teori Local Strongmen dan Lanskap Politik Indonesia

Harga

Rp 9.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Anatomi Sang Jago Teori Local Strongmen dan Lanskap Politik Indonesia


Deskripsi

Kita harus memulai dengan pengakuan yang jujur, bahkan jika pengakuan itu pahit. Pengakuan bahwa manusia adalah binatang politik, dalam arti yang jauh lebih literal daripada yang pernah dibayangkan oleh Aristoteles. Jauh sebelum filsafat lahir, jauh sebelum republik dan konstitusi ditulis, nenek moyang kita telah hidup dalam hierarki. Mereka berjuang untuk status, membangun aliansi, mengkhianati saingan, dan memonopoli akses ke makanan dan pasangan. Perilaku ini bukanlah "dosa" atau "penyimpangan"; ia adalah strategi bertahan hidup yang telah terpatri dalam gen kita melalui jutaan tahun seleksi alam. 

Seperti yang dirangkum oleh Frans de Waal dalam studi monumentalnya tentang politik pada primata, "Akar politik jauh lebih tua daripada umat manusia. Strategi-strategi yang kita lihat di parlemen dan Dewan Keamanan PBB, pembentukan koalisi, taktik divide et impera, dan negosiasi, semuanya dapat ditemukan pada simpanse dan bonobo" (de Waal 7). Bedanya, simpanse tidak perlu pura-pura berdasi dan membaca pidato tentang kesejahteraan rakyat. Mereka jujur pada kodrat mereka. Kita, sebaliknya, telah membangun peradaban yang memaksa kita untuk menjadi hipokrit yang anggun.

Dalam kerangka ini, fenomena Local Strongman yang telah kita bedah selama ribuan halaman bukanlah sebuah anomali, melainkan ekspresi dari kodrat yang paling murni. Di tingkat pusat, di mana sorotan media dan tekanan internasional begitu kuat, pertarungan kekuasaan mungkin tampak lebih halus. Ia dibungkus dalam bahasa teknokratis, aturan administrasi, dan senyum diplomatik. Korteks Prefrontal, pusat perencanaan dan pengendalian diri, bekerja keras untuk menyamarkan agenda limbik. Namun, semakin kita bergerak ke bawah, ke tingkat lokal, ke desa-desa dan tambang-tambang liar, semakin tipis lapisan penyamaran itu. Di sana, di bawah terik matahari dan di tengah hutan yang dibabat, Alpha Male menampakkan diri dalam wujudnya yang paling telanjang: Jagoan Fisik yang mengandalkan otot dan nyali, Cukong yang mengandalkan uang, dan Patron Politik yang mengandalkan koneksi. Kekayaan, kenekatan, dan kapasitas untuk melakukan kekerasan adalah mata uang yang sesungguhnya, sementara undang-undang hanyalah kertas yang bisa disobek atau, jika perlu, dibakar.

Konsep Trade-Off yang diangkat oleh adalah kunci untuk memahami seluruh dinamika ini. Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang malas secara kognitif. Korteks Prefrontal adalah organ yang sangat boros energi; ia mengonsumsi sekitar 20% dari total kalori tubuh kita, jauh lebih banyak daripada bagian otak lainnya. Dari sudut pandang evolusi, menghemat energi adalah keharusan. Oleh karena itu, otak kita dirancang untuk mencari jalan pintas (shortcuts). Dalam psikologi kognitif, ini dikenal sebagai heuristics, aturan-aturan sederhana yang memungkinkan kita membuat keputusan dengan cepat tanpa harus berpikir terlalu dalam. 

Dalam politik, jalan pintas itu adalah korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mengapa harus mengikuti prosedur tender yang rumit, transparan, dan memakan waktu berbulan-bulan, jika Anda bisa menelepon keponakan Anda dan memberinya proyek dalam waktu lima menit? Mengapa harus membangun basis dukungan melalui program yang mahal dan memakan waktu bertahun-tahun, jika Anda bisa membagikan amplop dalam "serangan fajar" dan menang dalam hitungan jam? Korupsi, dalam pengertian ini, bukanlah sekadar "penyakit" yang bisa disembuhkan dengan obat reformasi birokrasi. Ia adalah strategi kognitif yang efisien, sebuah adaptasi evolusioner terhadap kompleksitas dunia yang berlebihan.

Lalu, apa yang dilakukan oleh peradaban? Peradaban, melalui Korteks dan Neo-Korteks kolektifnya, menciptakan hukum, undang-undang, dan lembaga. Semua ini adalah alat pengekangan diri (self-binding devices). Kita tahu bahwa kita memiliki naluri untuk mencuri, jadi kita membuat undang-undang anti-pencurian dan polisi. Kita tahu bahwa kita memiliki naluri untuk berzina, jadi kita menciptakan institusi perkawinan dan norma kesetiaan. Kita tahu bahwa para Alpha Male akan selalu berusaha memonopoli sumber daya, jadi kita menciptakan lembaga antikorupsi, aturan tender, dan pengadilan. Negara, dalam perspektif ini, adalah super-ego kolektif, sebuah konstruksi kortikal yang mencoba menundukkan Id limbik.

Namun, masalahnya adalah bahwa super-ego ini tidak pernah sepenuhnya menang. Seperti yang ditunjukkan oleh Sigmund Freud dalam Civilization and Its Discontents, peradaban selalu berada dalam ketegangan yang tidak pernah selesai dengan naluri primitif manusia. "Peradaban," tulis Freud, "dibangun di atas penindasan naluri. Tetapi naluri yang ditindas tidak pernah benar-benar hilang; ia menunggu di bawah permukaan, siap untuk meledak ketika kesempatan muncul" (Freud 87). Inilah yang dimaksud dengan "laten": korupsi, kolusi, dan nepotisme tidak akan pernah hilang. Mereka hanya menunggu, seperti virus dalam tubuh inang, untuk menemukan celah dalam sistem kekebalan hukum dan keluar dalam wabah yang baru.

Jika semua ini benar, jika kuasa predatoris adalah kodrat, jika Alpha Male akan selalu muncul, dan jika korupsi adalah strategi kognitif yang efisien yang hanya bisa ditekan tetapi tidak pernah dihilangkan, maka kita dihadapkan pada sebuah dilema aksiologis yang akut. Haruskah kita terus menegakkan hukum, memberantas korupsi, dan berusaha membangun negara yang adil? Ataukah semua itu hanyalah Don Quixote yang menyerang kincir angin, sebuah kebodohan heroik yang pada akhirnya tidak akan mengubah apa pun? Haruskah kita menerima bahwa "memang beginilah dunia," dan bahwa yang bisa kita lakukan hanyalah mengelola keburukan, bukannya menghilangkannya?

Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan abstrak. Ia memiliki konsekuensi yang sangat nyata bagi aktivis, penegak hukum, dan warga biasa. Jika kita percaya bahwa melawan korupsi adalah sia-sia, maka kita akan berhenti melaporkan, berhenti mengawasi, dan berhenti berharap. Keputusasaan akan merayap, dan sinisme akan menjadi filsafat hidup. Inilah yang oleh Paulo Freire disebut sebagai "fatalisme" , keyakinan bahwa realitas sudah ditentukan dan tidak bisa diubah, yang merupakan senjata paling ampuh bagi para penindas (Freire 45). Jika semua orang percaya bahwa politik itu kotor dan tidak bisa diubah, maka para Strongman bisa memangsa dengan tenang, tanpa takut akan perlawanan.


Konten

Anatomi Sang Jago Teori Local Strongmen dan Lanskap Politik Indonesia