Diktat Teori Perilaku Pemilih untuk Mahasiswa dan Umum


Deskripsi

Bayangkan sebuah adegan sederhana. Di sebuah TPS di pinggiran kota, seorang ibu rumah tangga menatap lima pasangan calon di kertas suara. Tangannya berhenti sejenak. Lalu, "coblos." Apakah ia memilih karena pasangan itu seiman dengannya? Apakah karena kalkulasi "subsidi pupuk akan naik" jika calon itu menang? Atau, jangan-jangan ia hanya sekadar mengikuti pilihan suaminya yang seorang kader partai?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar bahan obrolan di warung kopi. Selama hampir delapan dekade, para ilmuwan politik telah berdebat sengit mengenai satu pertanyaan mendasar: Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala seorang pemilih ketika ia menjatuhkan pilihan?

Jika politik adalah permainan kekuasaan, maka perilaku memilih (voting behavior) adalah "pertandingan finalnya." Tanpa memahami mengapa warga negara memilih si A dan bukan si B, kita tidak akan pernah benar-benar mengerti mengapa suatu rezim demokrasi dapat bertahan atau runtuh. Sebagaimana ditegaskan oleh Dalton dan Klingemann (2013, hlm. 3), studi tentang perilaku memilih merupakan "mahkota" (crown jewel) dari ilmu politik modern karena ia menyediakan jembatan empiris antara arena mikro (psikologi individu) dan arena makro (kestabilan atau perubahan sistem politik).

Dalam perjalanan sejarahnya, diskusi tentang voting behavior pernah didominasi oleh determinisme struktural yang melihat pemilih bagaikan robot yang dikendalikan oleh kelas sosial, agama, atau warisan orang tua. Namun, arus zaman mengubah segalanya. Hari ini, pendekatan baru yang lebih segar bermunculan, salah satu yang paling menggoda untuk didiskusikan adalah Voters Engineering. Pendekatan ini melihat pemilih bukan lagi sebagai "objek pasif" yang mudah disetir oleh atribut sosialnya, melainkan sebagai aktor aktif, bahkan sebagai medan tempur rekayasa psikologis, teknologi, dan neurologis.


Konten

Diktat Teori Perilaku Pemilih untuk Mahasiswa dan Umum

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Diktat Teori Perilaku Pemilih untuk Mahasiswa dan Umum


Deskripsi

Bayangkan sebuah adegan sederhana. Di sebuah TPS di pinggiran kota, seorang ibu rumah tangga menatap lima pasangan calon di kertas suara. Tangannya berhenti sejenak. Lalu, "coblos." Apakah ia memilih karena pasangan itu seiman dengannya? Apakah karena kalkulasi "subsidi pupuk akan naik" jika calon itu menang? Atau, jangan-jangan ia hanya sekadar mengikuti pilihan suaminya yang seorang kader partai?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar bahan obrolan di warung kopi. Selama hampir delapan dekade, para ilmuwan politik telah berdebat sengit mengenai satu pertanyaan mendasar: Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala seorang pemilih ketika ia menjatuhkan pilihan?

Jika politik adalah permainan kekuasaan, maka perilaku memilih (voting behavior) adalah "pertandingan finalnya." Tanpa memahami mengapa warga negara memilih si A dan bukan si B, kita tidak akan pernah benar-benar mengerti mengapa suatu rezim demokrasi dapat bertahan atau runtuh. Sebagaimana ditegaskan oleh Dalton dan Klingemann (2013, hlm. 3), studi tentang perilaku memilih merupakan "mahkota" (crown jewel) dari ilmu politik modern karena ia menyediakan jembatan empiris antara arena mikro (psikologi individu) dan arena makro (kestabilan atau perubahan sistem politik).

Dalam perjalanan sejarahnya, diskusi tentang voting behavior pernah didominasi oleh determinisme struktural yang melihat pemilih bagaikan robot yang dikendalikan oleh kelas sosial, agama, atau warisan orang tua. Namun, arus zaman mengubah segalanya. Hari ini, pendekatan baru yang lebih segar bermunculan, salah satu yang paling menggoda untuk didiskusikan adalah Voters Engineering. Pendekatan ini melihat pemilih bukan lagi sebagai "objek pasif" yang mudah disetir oleh atribut sosialnya, melainkan sebagai aktor aktif, bahkan sebagai medan tempur rekayasa psikologis, teknologi, dan neurologis.


Konten

Diktat Teori Perilaku Pemilih untuk Mahasiswa dan Umum