Fatemeh Shams adalah suara yang menolak dibungkam. Di sebuah negeri di mana puisi bisa mengirim seseorang ke penjara, dan sebaris syair dapat mengguncang fondasi kekuasaan, Fatemeh Shams berdiri sebagai saksi sekaligus analis paling tajam atas fenomena yang hampir tidak masuk akal ini. Lahir di Iran pasca-Revolusi Islam 1979, Shams tumbuh dalam atmosfer paradoksal: negara yang didirikan oleh kaum ulama justru mewarisi tradisi sastra Persia yang gemilang, tradisi yang selama berabad-abad menjadi ruang bagi kritik sosial, mistisisme, dan pembangkangan halus terhadap otoritas.
Shams menempuh pendidikan sarjana di Universitas Tehran, mendalami sastra Persia di bawah bimbingan para sarjana yang hidup dalam ketegangan konstan antara menjaga warisan klasik dan bertahan di bawah sensor negara. Gelar magister dan doktoralnya ia raih di University of Oxford, di mana ia mulai mengembangkan kerangka teoretis yang kelak akan menjadi kontribusi terbesarnya bagi studi sastra, politik, dan ruang publik. Disertasinya, yang kemudian menjadi buku monumental A Revolution in Rhyme: The Politics of Poetry in Modern Iran (Oxford University Press, 2020), adalah hasil dari riset bertahun-tahun yang menggabungkan analisis sastra, teori politik, dan etnografi.
Saat ini, Shams adalah Associate Professor of Persian Literature di University of Pennsylvania, posisi yang memberinya kebebasan intelektual untuk menulis dan mengajar tanpa ancaman langsung dari sensor negara Iran, meskipun ia tetap harus berhati-hati terhadap jangkauan panjang rezim yang terus mengawasi diaspora. Karya-karyanya telah muncul di jurnal-jurnal terkemuka seperti Iranian Studies, Middle Eastern Literatures, dan Comparative Literature Studies. Ia juga aktif menulis esai untuk publik yang lebih luas, menjembatani dunia akademik dan perbincangan publik tentang Iran, Islam, dan kebebasan berekspresi.
Apa yang membuat pemikiran Shams begitu orisinal adalah penolakannya terhadap dua narasi dominan tentang Iran. Di satu sisi, ia menolak pandangan orientalis yang melihat Iran hanya sebagai "negara teokrasi yang membungkam semua suara." Di sisi lain, ia juga menolak romantisasi berlebihan dari para eksil yang mengklaim bahwa "sastra Iran selalu memberontak." Sebaliknya, Shams menawarkan analisis yang jauh lebih bernuansa tentang bagaimana kekuasaan dan sastra saling membentuk, saling menegosiasikan batas, dan kadang-kadang saling mencaplok. Konsep kuncinya, "Persian Literary Humanism" atau Humanisme Sastra Persia, adalah upaya untuk menunjukkan bahwa tradisi sastra di Iran memiliki logika dan sejarahnya sendiri yang tidak bisa direduksi ke dalam kategori Barat seperti "seni untuk seni" atau "sastra perlawanan."
Dalam A Revolution in Rhyme, Shams melacak bagaimana negara Iran pasca-1979 mencoba membangun apa yang ia sebut sebagai "jaringan patronasi baru" (new patronage network) untuk sastra. Jika sebelumnya Shah menggunakan kementerian kebudayaan untuk mempromosikan sastra yang mendukung modernisasi ala Barat, rezim Islam membangun infrastruktur paralel: penerbitan-penerbitan negara, festival puisi keagamaan, dan sistem beasiswa yang secara halus, dan kadang tidak halus, mengarahkan para penyair untuk memproduksi karya yang mendukung legitimasi teokratis. Namun, dan inilah poin krusial Shams, upaya ini tidak pernah sepenuhnya berhasil. Mengapa? Karena tradisi sastra Persia, dengan sejarah ribuan tahunnya, memiliki otonomi kultural yang tidak mudah ditundukkan.
Di sinilah Shams memperkenalkan argumen paling provokatifnya: bahwa puisi di Iran berfungsi sebagai "ruang publik" dalam pengertian yang dimodifikasi dari Habermas. Jürgen Habermas, filsuf Jerman itu, mendefinisikan ruang publik sebagai arena di mana warga negara berkumpul untuk mendiskusikan masalah-masalah bersama, bebas dari intervensi negara. Iran, tentu saja, tidak memiliki ruang publik dalam pengertian liberal-demokratis ini. Tetapi Shams berpendapat bahwa puisi, terutama puisi yang dibacakan di pertemuan-pertemuan informal, disebarkan melalui samizdat, dan kini beredar di media sosial, menciptakan ruang publik alternatif di mana kritik terhadap kekuasaan bisa diartikulasikan secara alegoris, metaforis, dan aman secara politis, setidaknya sampai batas tertentu.
Fatemeh Shams adalah suara yang menolak dibungkam. Di sebuah negeri di mana puisi bisa mengirim seseorang ke penjara, dan sebaris syair dapat mengguncang fondasi kekuasaan, Fatemeh Shams berdiri sebagai saksi sekaligus analis paling tajam atas fenomena yang hampir tidak masuk akal ini. Lahir di Iran pasca-Revolusi Islam 1979, Shams tumbuh dalam atmosfer paradoksal: negara yang didirikan oleh kaum ulama justru mewarisi tradisi sastra Persia yang gemilang, tradisi yang selama berabad-abad menjadi ruang bagi kritik sosial, mistisisme, dan pembangkangan halus terhadap otoritas.
Shams menempuh pendidikan sarjana di Universitas Tehran, mendalami sastra Persia di bawah bimbingan para sarjana yang hidup dalam ketegangan konstan antara menjaga warisan klasik dan bertahan di bawah sensor negara. Gelar magister dan doktoralnya ia raih di University of Oxford, di mana ia mulai mengembangkan kerangka teoretis yang kelak akan menjadi kontribusi terbesarnya bagi studi sastra, politik, dan ruang publik. Disertasinya, yang kemudian menjadi buku monumental A Revolution in Rhyme: The Politics of Poetry in Modern Iran (Oxford University Press, 2020), adalah hasil dari riset bertahun-tahun yang menggabungkan analisis sastra, teori politik, dan etnografi.
Saat ini, Shams adalah Associate Professor of Persian Literature di University of Pennsylvania, posisi yang memberinya kebebasan intelektual untuk menulis dan mengajar tanpa ancaman langsung dari sensor negara Iran, meskipun ia tetap harus berhati-hati terhadap jangkauan panjang rezim yang terus mengawasi diaspora. Karya-karyanya telah muncul di jurnal-jurnal terkemuka seperti Iranian Studies, Middle Eastern Literatures, dan Comparative Literature Studies. Ia juga aktif menulis esai untuk publik yang lebih luas, menjembatani dunia akademik dan perbincangan publik tentang Iran, Islam, dan kebebasan berekspresi.
Apa yang membuat pemikiran Shams begitu orisinal adalah penolakannya terhadap dua narasi dominan tentang Iran. Di satu sisi, ia menolak pandangan orientalis yang melihat Iran hanya sebagai "negara teokrasi yang membungkam semua suara." Di sisi lain, ia juga menolak romantisasi berlebihan dari para eksil yang mengklaim bahwa "sastra Iran selalu memberontak." Sebaliknya, Shams menawarkan analisis yang jauh lebih bernuansa tentang bagaimana kekuasaan dan sastra saling membentuk, saling menegosiasikan batas, dan kadang-kadang saling mencaplok. Konsep kuncinya, "Persian Literary Humanism" atau Humanisme Sastra Persia, adalah upaya untuk menunjukkan bahwa tradisi sastra di Iran memiliki logika dan sejarahnya sendiri yang tidak bisa direduksi ke dalam kategori Barat seperti "seni untuk seni" atau "sastra perlawanan."
Dalam A Revolution in Rhyme, Shams melacak bagaimana negara Iran pasca-1979 mencoba membangun apa yang ia sebut sebagai "jaringan patronasi baru" (new patronage network) untuk sastra. Jika sebelumnya Shah menggunakan kementerian kebudayaan untuk mempromosikan sastra yang mendukung modernisasi ala Barat, rezim Islam membangun infrastruktur paralel: penerbitan-penerbitan negara, festival puisi keagamaan, dan sistem beasiswa yang secara halus, dan kadang tidak halus, mengarahkan para penyair untuk memproduksi karya yang mendukung legitimasi teokratis. Namun, dan inilah poin krusial Shams, upaya ini tidak pernah sepenuhnya berhasil. Mengapa? Karena tradisi sastra Persia, dengan sejarah ribuan tahunnya, memiliki otonomi kultural yang tidak mudah ditundukkan.
Di sinilah Shams memperkenalkan argumen paling provokatifnya: bahwa puisi di Iran berfungsi sebagai "ruang publik" dalam pengertian yang dimodifikasi dari Habermas. Jürgen Habermas, filsuf Jerman itu, mendefinisikan ruang publik sebagai arena di mana warga negara berkumpul untuk mendiskusikan masalah-masalah bersama, bebas dari intervensi negara. Iran, tentu saja, tidak memiliki ruang publik dalam pengertian liberal-demokratis ini. Tetapi Shams berpendapat bahwa puisi, terutama puisi yang dibacakan di pertemuan-pertemuan informal, disebarkan melalui samizdat, dan kini beredar di media sosial, menciptakan ruang publik alternatif di mana kritik terhadap kekuasaan bisa diartikulasikan secara alegoris, metaforis, dan aman secara politis, setidaknya sampai batas tertentu.