Gerakan Sosial Digital dalam Ekonomi Visibilitas Algoritmik


Deskripsi

Artikel ini menelaah gerakan sosial digital yang lahir dan berkembang melalui tagar di platform seperti Twitter/X dan Instagram, dengan fokus pada #MeToo, #BlackLivesMatter, serta tiga kasus Indonesia: #PercumaLaporPolisi, #SahkanRUUPKS, dan #IndonesiaGelap. Alih-alih mengulang narasi umum tentang “kekuatan media sosial,” artikel ini menawarkan perspektif baru dengan memperkenalkan konsep “ekonomi visibilitas algoritmik” dan “tagar sebagai arsip afektif”. 

Argumen utama yang diajukan adalah bahwa tagar tidak sekadar alat mobilisasi, melainkan arena pertarungan untuk menentukan apa yang layak terlihat, siapa yang boleh berbicara, dan bagaimana kemarahan publik dikelola, sering kali oleh aktor yang sama sekali tidak terafiliasi dengan gerakan. 

Dengan membandingkan lintasan global dan lokal, artikel ini menunjukkan bahwa efektivitas gerakan tagar sangat bergantung pada kemampuannya menerjemahkan visibilitas sesaat menjadi perubahan struktural, bukan pada jumlah cuitan atau tren yang dihasilkan. 

Data dan analisis dalam artikel ini diharapkan memberikan kebaruan dengan mengungkap pola-pola yang jarang dibahas: umur paruh tagar, kooptasi korporasi, pembungkaman algoritmik, serta peran “arsip afektif” dalam menjaga memori gerakan ketika sorotan publik telah berpindah. Artikel ini juga memasukkan studi kasus tambahan dari Afrika (#EndSARS, #FeesMustFall) sebagai pembanding Global South, memperkaya analisis dengan perspektif komparatif lintas konteks.


Konten

Gerakan Sosial Digital dalam Ekonomi Visibilitas Algoritmik

Harga

Rp 3.100

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Gerakan Sosial Digital dalam Ekonomi Visibilitas Algoritmik


Deskripsi

Artikel ini menelaah gerakan sosial digital yang lahir dan berkembang melalui tagar di platform seperti Twitter/X dan Instagram, dengan fokus pada #MeToo, #BlackLivesMatter, serta tiga kasus Indonesia: #PercumaLaporPolisi, #SahkanRUUPKS, dan #IndonesiaGelap. Alih-alih mengulang narasi umum tentang “kekuatan media sosial,” artikel ini menawarkan perspektif baru dengan memperkenalkan konsep “ekonomi visibilitas algoritmik” dan “tagar sebagai arsip afektif”. 

Argumen utama yang diajukan adalah bahwa tagar tidak sekadar alat mobilisasi, melainkan arena pertarungan untuk menentukan apa yang layak terlihat, siapa yang boleh berbicara, dan bagaimana kemarahan publik dikelola, sering kali oleh aktor yang sama sekali tidak terafiliasi dengan gerakan. 

Dengan membandingkan lintasan global dan lokal, artikel ini menunjukkan bahwa efektivitas gerakan tagar sangat bergantung pada kemampuannya menerjemahkan visibilitas sesaat menjadi perubahan struktural, bukan pada jumlah cuitan atau tren yang dihasilkan. 

Data dan analisis dalam artikel ini diharapkan memberikan kebaruan dengan mengungkap pola-pola yang jarang dibahas: umur paruh tagar, kooptasi korporasi, pembungkaman algoritmik, serta peran “arsip afektif” dalam menjaga memori gerakan ketika sorotan publik telah berpindah. Artikel ini juga memasukkan studi kasus tambahan dari Afrika (#EndSARS, #FeesMustFall) sebagai pembanding Global South, memperkaya analisis dengan perspektif komparatif lintas konteks.


Konten

Gerakan Sosial Digital dalam Ekonomi Visibilitas Algoritmik