Teori yang akan kita bahas kali ini adalah Groupthink Theory, atau yang dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai Teori Pemikiran Kelompok. Ini adalah teori yang menjelaskan sebuah paradoks yang sangat menyakitkan: bagaimana sekelompok orang yang cerdas, berpengalaman, dan memiliki niat baik, justru bisa menghasilkan keputusan yang sangat bodoh, fatal, dan merugikan banyak orang.
Bukan karena mereka tidak pintar, tetapi justru karena mereka terlalu kompak, terlalu ingin menjaga harmoni, dan terlalu yakin bahwa mereka tidak mungkin salah.
Ketika “The Best and the Brightest” Membuat Bencana
Untuk memahami mengapa Irving Janis menulis tentang Groupthink, kita harus kembali ke salah satu kegagalan kebijakan luar negeri paling memalukan dalam sejarah Amerika Serikat: invasi Teluk Babi (Bay of Pigs Invasion) pada tahun 1961.
1 Teluk Babi (Bay of Pigs)
Bayangkan sebuah ruangan di Gedung Putih pada awal tahun 1961. Di dalamnya, berkumpul orang-orang paling brilian di Amerika Serikat. Presiden John F. Kennedy, yang baru berusia 43 tahun, dikelilingi oleh tim penasihat yang dijuluki “Camelot”. Ada Robert McNamara, Menteri Pertahanan, mantan presiden Ford Motor Company yang terkenal dengan otak analitisnya. Ada Dean Rusk, Menteri Luar Negeri, seorang diplomat kawakan. Ada McGeorge Bundy, Penasihat Keamanan Nasional, mantan dekan termuda Universitas Harvard. Ada Arthur Schlesinger Jr., sejarawan pemenang Pulitzer. Dan ada Allen Dulles, kepala CIA yang legendaris. Singkatnya, ini adalah “dream team”, tim impian. Pers menyebut mereka “the best and the brightest”, yang terbaik dan yang paling cemerlang.
.....
Teori yang akan kita bahas kali ini adalah Groupthink Theory, atau yang dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai Teori Pemikiran Kelompok. Ini adalah teori yang menjelaskan sebuah paradoks yang sangat menyakitkan: bagaimana sekelompok orang yang cerdas, berpengalaman, dan memiliki niat baik, justru bisa menghasilkan keputusan yang sangat bodoh, fatal, dan merugikan banyak orang.
Bukan karena mereka tidak pintar, tetapi justru karena mereka terlalu kompak, terlalu ingin menjaga harmoni, dan terlalu yakin bahwa mereka tidak mungkin salah.
Ketika “The Best and the Brightest” Membuat Bencana
Untuk memahami mengapa Irving Janis menulis tentang Groupthink, kita harus kembali ke salah satu kegagalan kebijakan luar negeri paling memalukan dalam sejarah Amerika Serikat: invasi Teluk Babi (Bay of Pigs Invasion) pada tahun 1961.
1 Teluk Babi (Bay of Pigs)
Bayangkan sebuah ruangan di Gedung Putih pada awal tahun 1961. Di dalamnya, berkumpul orang-orang paling brilian di Amerika Serikat. Presiden John F. Kennedy, yang baru berusia 43 tahun, dikelilingi oleh tim penasihat yang dijuluki “Camelot”. Ada Robert McNamara, Menteri Pertahanan, mantan presiden Ford Motor Company yang terkenal dengan otak analitisnya. Ada Dean Rusk, Menteri Luar Negeri, seorang diplomat kawakan. Ada McGeorge Bundy, Penasihat Keamanan Nasional, mantan dekan termuda Universitas Harvard. Ada Arthur Schlesinger Jr., sejarawan pemenang Pulitzer. Dan ada Allen Dulles, kepala CIA yang legendaris. Singkatnya, ini adalah “dream team”, tim impian. Pers menyebut mereka “the best and the brightest”, yang terbaik dan yang paling cemerlang.
.....