Ibnu Taimiyah dan Keanekaragaman: Membaca Ulang Warisan Kosmopolitanisme untuk Nusantara


Deskripsi

Menulis tentang Ibnu Taimiyah bukan perkara sederhana. Namanya telah lama menjadi medan pertarungan tafsir: dipuja, dikutuk, dikutip, dan kerap dibaca secara sepihak. Artikel ini tidak bermaksud menutup perdebatan itu. Sebaliknya, ia ingin membuka satu ruang baca yang jarang disinggahi: bagaimana seorang ulama abad ke-13 yang hidup di tengah masyarakat heterogen merumuskan gagasan tentang keadilan, toleransi, dan keanekaragaman.

Pembaca akan diajak menelusuri sumber-sumber primer dan sekunder, bukan untuk membela atau menjatuhkan, melainkan untuk memahami Ibnu Taimiyah secara kontekstual. Fokusnya bukan pada aspek-aspek polemis yang telah banyak dibahas, melainkan pada prinsip-prinsip politik dan sosialnya: keadilan universal, penolakan fanatisme suku, hak-hak non-Muslim, Fatwa Mardin, dan konsep wasathiyyah. Dari sana, artikel ini mencoba berdialog dengan realitas Nusantara Indonesia yang majemuk.

Tentu tulisan ini tidak luput dari keterbatasan. Ia tidak membahas seluruh warisan Ibnu Taimiyah, dan tidak pula menyelesaikan semua kontroversi seputar dirinya. Namun, jika artikel ini dapat mendorong pembaca untuk membaca ulang, dengan lebih jernih, kritis, dan kontekstual, salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah Islam, maka tulisan ini telah mencapai maksudnya.


Konten

Ibnu Taimiyah dan Keanekaragaman: Membaca Ulang Warisan Kosmopolitanisme untuk Nusantara

Harga

Rp 3.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Ibnu Taimiyah dan Keanekaragaman: Membaca Ulang Warisan Kosmopolitanisme untuk Nusantara


Deskripsi

Menulis tentang Ibnu Taimiyah bukan perkara sederhana. Namanya telah lama menjadi medan pertarungan tafsir: dipuja, dikutuk, dikutip, dan kerap dibaca secara sepihak. Artikel ini tidak bermaksud menutup perdebatan itu. Sebaliknya, ia ingin membuka satu ruang baca yang jarang disinggahi: bagaimana seorang ulama abad ke-13 yang hidup di tengah masyarakat heterogen merumuskan gagasan tentang keadilan, toleransi, dan keanekaragaman.

Pembaca akan diajak menelusuri sumber-sumber primer dan sekunder, bukan untuk membela atau menjatuhkan, melainkan untuk memahami Ibnu Taimiyah secara kontekstual. Fokusnya bukan pada aspek-aspek polemis yang telah banyak dibahas, melainkan pada prinsip-prinsip politik dan sosialnya: keadilan universal, penolakan fanatisme suku, hak-hak non-Muslim, Fatwa Mardin, dan konsep wasathiyyah. Dari sana, artikel ini mencoba berdialog dengan realitas Nusantara Indonesia yang majemuk.

Tentu tulisan ini tidak luput dari keterbatasan. Ia tidak membahas seluruh warisan Ibnu Taimiyah, dan tidak pula menyelesaikan semua kontroversi seputar dirinya. Namun, jika artikel ini dapat mendorong pembaca untuk membaca ulang, dengan lebih jernih, kritis, dan kontekstual, salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah Islam, maka tulisan ini telah mencapai maksudnya.


Konten

Ibnu Taimiyah dan Keanekaragaman: Membaca Ulang Warisan Kosmopolitanisme untuk Nusantara