Benjamin Netanyahu adalah tokoh politik paling dominan sekaligus paling kontroversial dalam sejarah Israel modern. Masa jabatannya yang panjang dan kebijakan garis kerasnya, yang berakar pada ideologi Zionisme Revisionis, secara fundamental telah mengubah lanskap politik Israel dan memupuskan harapan bagi perdamaian dengan Palestina khususnya, dan kawasan Timur Tengah umumnya.
Benjamin Netanyahu lahir di Tel Aviv pada 21 Oktober 1949 dari keluarga Yahudi Ashkenazi yang taat dan berhaluan Zionis Revisionis (Liputan6, 2023; Tribunnews, 2024). Masa remajanya dihabiskan di Philadelphia, Amerika Serikat, tempat ayahnya, Benzion Netanyahu, seorang sejarawan Yahudi terkemuka, bekerja sebagai profesor. Setelah menyelesaikan dinas militernya di unit elit Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Sayeret Matkal, ia kembali ke AS untuk meraih gelar di bidang arsitektur dan administrasi bisnis dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) (Beritasatu, 2021).
Kematian kakaknya, Yonatan, dalam Operasi Entebbe yang terkenal pada 1976 menjadi titik balik yang mendorongnya terjun secara mendalam ke dunia politik dan kontraterorisme internasional. Karier politiknya melejit setelah terpilih sebagai anggota Knesset (parlemen Israel) pada 1988 mewakili partai sayap kanan Likud. Puncaknya, ia terpilih sebagai Perdana Menteri termuda Israel pada usia 46 tahun (1996), dan kemudian kembali berkuasa untuk periode 2009–2021, mencatatkan namanya sebagai pemimpin terlama dalam sejarah negara itu (Liputan6, 2023).
Ideologi dan Kebijakan
Akar politik dan ideologi Netanyahu sangat penting untuk memahami kebijakannya. Ia adalah penganut setia Zionisme Revisionis, sebuah ideologi yang diwarisi dari ayahnya dan tokoh Ze'ev Jabotinsky. Aliran Zionisme ini secara fundamental meyakini bahwa bangsa Arab tidak akan pernah menerima keberadaan permukiman Yahudi di tanah Palestina, sehingga menolak segala bentuk kompromi teritorial (Tempo, 2024). Sebagai pemimpin Partai Likud, Netanyahu secara terbuka dan konsisten menyatakan penentangannya terhadap pembentukan negara Palestina yang merdeka. Platform partainya mengklaim hak abadi dan tak terbantahkan bagi orang Yahudi atas seluruh tanah Palestina historis (Republika, 2024).
Benjamin Netanyahu adalah tokoh politik paling dominan sekaligus paling kontroversial dalam sejarah Israel modern. Masa jabatannya yang panjang dan kebijakan garis kerasnya, yang berakar pada ideologi Zionisme Revisionis, secara fundamental telah mengubah lanskap politik Israel dan memupuskan harapan bagi perdamaian dengan Palestina khususnya, dan kawasan Timur Tengah umumnya.
Benjamin Netanyahu lahir di Tel Aviv pada 21 Oktober 1949 dari keluarga Yahudi Ashkenazi yang taat dan berhaluan Zionis Revisionis (Liputan6, 2023; Tribunnews, 2024). Masa remajanya dihabiskan di Philadelphia, Amerika Serikat, tempat ayahnya, Benzion Netanyahu, seorang sejarawan Yahudi terkemuka, bekerja sebagai profesor. Setelah menyelesaikan dinas militernya di unit elit Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Sayeret Matkal, ia kembali ke AS untuk meraih gelar di bidang arsitektur dan administrasi bisnis dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) (Beritasatu, 2021).
Kematian kakaknya, Yonatan, dalam Operasi Entebbe yang terkenal pada 1976 menjadi titik balik yang mendorongnya terjun secara mendalam ke dunia politik dan kontraterorisme internasional. Karier politiknya melejit setelah terpilih sebagai anggota Knesset (parlemen Israel) pada 1988 mewakili partai sayap kanan Likud. Puncaknya, ia terpilih sebagai Perdana Menteri termuda Israel pada usia 46 tahun (1996), dan kemudian kembali berkuasa untuk periode 2009–2021, mencatatkan namanya sebagai pemimpin terlama dalam sejarah negara itu (Liputan6, 2023).
Ideologi dan Kebijakan
Akar politik dan ideologi Netanyahu sangat penting untuk memahami kebijakannya. Ia adalah penganut setia Zionisme Revisionis, sebuah ideologi yang diwarisi dari ayahnya dan tokoh Ze'ev Jabotinsky. Aliran Zionisme ini secara fundamental meyakini bahwa bangsa Arab tidak akan pernah menerima keberadaan permukiman Yahudi di tanah Palestina, sehingga menolak segala bentuk kompromi teritorial (Tempo, 2024). Sebagai pemimpin Partai Likud, Netanyahu secara terbuka dan konsisten menyatakan penentangannya terhadap pembentukan negara Palestina yang merdeka. Platform partainya mengklaim hak abadi dan tak terbantahkan bagi orang Yahudi atas seluruh tanah Palestina historis (Republika, 2024).