Joe Kent, Hati Nurani, dan Mesin Fax yang Terlalu Banyak Tahu


Deskripsi

Bagian Pertama: Pagi yang Dimulai dengan Keju yang Mencurigakan

Kiamat bagi Joe Kent tidak dimulai dengan ledakan, jeritan, atau sirine serangan udara yang memekakkan telinga. Tidak, kiamat Joe Kent dimulai dengan sepotong keju cheddar Vermont yang sangat tajam, yang diam-diam berkomplot dengan bagel gandum utuhnya pada pukul 04.47 pagi, di dapur rumahnya yang minimalis di McLean, Virginia. Saat itu hari Selasa. Dan sel, sebagaimana kita semua tahu, adalah hari paling berbahaya dalam seminggu untuk produk susu.

Kent, seorang pria dengan perawakan yang seolah dibangun khusus untuk mengisi kursi ergonomis pemerintahan, memiliki rahang yang selalu mengatup dengan keteguhan moral dan alis yang mampu menyampaikan ketidaksetujuan terhadap anggaran pertahanan yang boros hanya dengan sekali kedut. Pagi itu, ia sedang menatap layar ponselnya dengan intensitas yang biasanya hanya ditemukan pada elang yang mencoba membaca rambu-rambu lalu lintas. Di layar itu, terpampang sebuah unggahan dari akun X resmi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Unggahannya, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh algoritma yang mungkin memiliki dendam pribadi terhadap sintaksis, berbunyi:

“Kedaulatan kami tidak bisa ditawar. Tindakan segera adalah kebutuhan eksistensial. Iran harus merasakan konsekuensi dari fajar yang tidak mereka perhitungkan. Dan AS, sebagai teman sejati, berdiri bersama kami, bahu-membahu, dompet-ke-dompet. 🇮🇱🤝🇺🇸 #SolidaritasTakTergoyahkan #OperasiBungaDelimaBerkarat”

Kalimat "dompet-ke-dompet" itu mengganjal di otaknya seperti tulang ayam di tenggorokan seekor singa birokratis. Kent mengunyah bagelnya. Kriuk. Keju cheddar tajam itu terasa seperti sebuah metafora. Pedas, tajam, 


Konten

Joe Kent, Hati Nurani, dan Mesin Fax yang Terlalu Banyak Tahu

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Humor

Loading...

Joe Kent, Hati Nurani, dan Mesin Fax yang Terlalu Banyak Tahu


Deskripsi

Bagian Pertama: Pagi yang Dimulai dengan Keju yang Mencurigakan

Kiamat bagi Joe Kent tidak dimulai dengan ledakan, jeritan, atau sirine serangan udara yang memekakkan telinga. Tidak, kiamat Joe Kent dimulai dengan sepotong keju cheddar Vermont yang sangat tajam, yang diam-diam berkomplot dengan bagel gandum utuhnya pada pukul 04.47 pagi, di dapur rumahnya yang minimalis di McLean, Virginia. Saat itu hari Selasa. Dan sel, sebagaimana kita semua tahu, adalah hari paling berbahaya dalam seminggu untuk produk susu.

Kent, seorang pria dengan perawakan yang seolah dibangun khusus untuk mengisi kursi ergonomis pemerintahan, memiliki rahang yang selalu mengatup dengan keteguhan moral dan alis yang mampu menyampaikan ketidaksetujuan terhadap anggaran pertahanan yang boros hanya dengan sekali kedut. Pagi itu, ia sedang menatap layar ponselnya dengan intensitas yang biasanya hanya ditemukan pada elang yang mencoba membaca rambu-rambu lalu lintas. Di layar itu, terpampang sebuah unggahan dari akun X resmi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Unggahannya, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh algoritma yang mungkin memiliki dendam pribadi terhadap sintaksis, berbunyi:

“Kedaulatan kami tidak bisa ditawar. Tindakan segera adalah kebutuhan eksistensial. Iran harus merasakan konsekuensi dari fajar yang tidak mereka perhitungkan. Dan AS, sebagai teman sejati, berdiri bersama kami, bahu-membahu, dompet-ke-dompet. 🇮🇱🤝🇺🇸 #SolidaritasTakTergoyahkan #OperasiBungaDelimaBerkarat”

Kalimat "dompet-ke-dompet" itu mengganjal di otaknya seperti tulang ayam di tenggorokan seekor singa birokratis. Kent mengunyah bagelnya. Kriuk. Keju cheddar tajam itu terasa seperti sebuah metafora. Pedas, tajam, 


Konten

Joe Kent, Hati Nurani, dan Mesin Fax yang Terlalu Banyak Tahu