Jokowi dan Kuasa Jawa dalam Kacamata Ben Anderson


Deskripsi

Joko Widodo atau Jokowi adalah satu-satunya presiden paling fenomenal di Indonesia. Hal ini jika dilihat dari latar belakangnya yang berbeda dengan seluruh presiden Indonesia sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa Jokowi merupakan contoh satu-satunya presiden Indonesia yang sesuai dengan pernyataan "Wong Cilik" yang mencapai "puncak" kekuasaan.

  Pada Oktober 2014, Indonesia menyaksikan sebuah peristiwa yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai mukjizat politik. Seorang mantan pengusaha mebel dari kota kecil Surakarta, yang tak pernah mengenyam pendidikan militer elite maupun berlatar belakang keluarga penguasa ataupun ningrat, dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia. Jokowi tiba di panggung politik "puncak" nasional dengan membawa narasi yang begitu menggugah: Ia adalah wong cilik, rakyat jelata yang berhasil menembus langit-langit kaca oligarki yang selama puluhan tahun menjadi ciri khas politik pasca-Suharto. Time Magazine menyebutnya sebagai "Harapan Baru" bagi demokrasi Asia Tenggara (Bland, 2020, p. 12). Fareed Zakaria, komentator politik kenamaan Amerika Serikat, pada Agustus 2014 menulis bahwa "pemilihan Joko Widodo menandai konsolidasi demokrasi Indonesia".

Sepuluh tahun kemudian, ketika Jokowi meninggalkan Istana Negara pada Oktober 2024, lukisan tentang dirinya telah berubah drastis. Di satu sisi, ia meninggalkan warisan infrastruktur yang monumental dan tingkat kepuasan publik yang tetap tinggi sepanjang pemerintahannya. Di sisi lain, kubu aktivis pro-demokrasi mencercanya habis-habisan. "Widodo telah melakukan banyak kerusakan terhadap demokratisasi dalam beberapa tahun terakhir," kata analis politik Kevin O'Rourke. "Sulit membayangkan bagaimana pemulihan atas itu bisa terjadi" (Reuters, 2024). Bahkan para pendukung awalnya merasa dikhianati. Seperti halnya Ludwig van Beethoven yang merobek halaman pertama simfoni Eroica-nya ketika Napoleon mengkhianati cita-cita revolusi, para aktivis Indonesia merasa bahwa Prometheus dari Solo itu telah memahkotai dirinya sendiri sebagai kaisar (Kusman, 2025).


Konten

Jokowi dan Kuasa Jawa dalam Kacamata Ben Anderson

Harga

Rp 4.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Jokowi dan Kuasa Jawa dalam Kacamata Ben Anderson


Deskripsi

Joko Widodo atau Jokowi adalah satu-satunya presiden paling fenomenal di Indonesia. Hal ini jika dilihat dari latar belakangnya yang berbeda dengan seluruh presiden Indonesia sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa Jokowi merupakan contoh satu-satunya presiden Indonesia yang sesuai dengan pernyataan "Wong Cilik" yang mencapai "puncak" kekuasaan.

  Pada Oktober 2014, Indonesia menyaksikan sebuah peristiwa yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai mukjizat politik. Seorang mantan pengusaha mebel dari kota kecil Surakarta, yang tak pernah mengenyam pendidikan militer elite maupun berlatar belakang keluarga penguasa ataupun ningrat, dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia. Jokowi tiba di panggung politik "puncak" nasional dengan membawa narasi yang begitu menggugah: Ia adalah wong cilik, rakyat jelata yang berhasil menembus langit-langit kaca oligarki yang selama puluhan tahun menjadi ciri khas politik pasca-Suharto. Time Magazine menyebutnya sebagai "Harapan Baru" bagi demokrasi Asia Tenggara (Bland, 2020, p. 12). Fareed Zakaria, komentator politik kenamaan Amerika Serikat, pada Agustus 2014 menulis bahwa "pemilihan Joko Widodo menandai konsolidasi demokrasi Indonesia".

Sepuluh tahun kemudian, ketika Jokowi meninggalkan Istana Negara pada Oktober 2024, lukisan tentang dirinya telah berubah drastis. Di satu sisi, ia meninggalkan warisan infrastruktur yang monumental dan tingkat kepuasan publik yang tetap tinggi sepanjang pemerintahannya. Di sisi lain, kubu aktivis pro-demokrasi mencercanya habis-habisan. "Widodo telah melakukan banyak kerusakan terhadap demokratisasi dalam beberapa tahun terakhir," kata analis politik Kevin O'Rourke. "Sulit membayangkan bagaimana pemulihan atas itu bisa terjadi" (Reuters, 2024). Bahkan para pendukung awalnya merasa dikhianati. Seperti halnya Ludwig van Beethoven yang merobek halaman pertama simfoni Eroica-nya ketika Napoleon mengkhianati cita-cita revolusi, para aktivis Indonesia merasa bahwa Prometheus dari Solo itu telah memahkotai dirinya sendiri sebagai kaisar (Kusman, 2025).


Konten

Jokowi dan Kuasa Jawa dalam Kacamata Ben Anderson