Kitab Tertawa, Kronik 60 Hari Saat Naga Persia Saksikan Sirkus Datang ke Kota


Deskripsi

Di sebuah warung teh tua di sudut Bazar Tehran, di mana uap samovar berbaur dengan aroma tembakau buah dan debu buku-buku kuno, duduklah seorang lelaki tua berjanggut putih. Namanya Haji Abbas, seorang penjual karpet yang lebih banyak menghabiskan waktunya membaca syair Hafez daripada menghitung stok dagangannya. Di hadapannya, secangkir teh hitam pekat dan tiga butir gula batu yang belum ia sentuh. Matanya yang redup menatap layar ponsel pintar, hadiah dari cucunya, yang menampilkan berita terbaru.

"Innalillahi," bisiknya. Lalu, setelah jeda panjang, di mana ia menyesap tehnya yang sudah dingin, ia melanjutkan, "Tapi juga... Alhamdulillah. Ternyata Tuhan masih sayang pada kita. Dia kirim dua musuh bebuyutan yang ternyata... idiot."

Seisi warung yang semula tegang karena berita serangan udara ke Iran, menoleh. Beberapa mengernyit. Tapi Haji Abbas melanjutkan, suaranya berubah menjadi nada seorang dalang yang akan memulai pertunjukan. "Aku sudah 47 tahun hidup di bawah sanksi. Aku sudah melihat segala jenis ancaman. Tapi ini pertama kalinya aku melihat ancaman yang begitu... menghibur. Duduklah, anak-anak muda. Biarkan aku cerita, bagaimana Iran yang perkasa ini, selama 60 hari, menjadi penonton sirkus terbesar dalam sejarah. Sirkus yang bintang utamanya adalah seekor singa berambut pirang dan seekor rubah parnoia."

Dan begitulah, di warung teh itu, dimulailah penuturan yang kemudian dikenal sebagai "Kitab Tertawa" , sebuah kronik satir tentang bagaimana Iran, di bawah bayang-bayang syahidnya Sang Pemimpin, justru menemukan kekuatan baru: kemampuan untuk menertawakan musuh-musuhnya.

Malam Bintang Jatuh dan Surat yang Tidak Pernah Sampai

Tanggal 28 Februari 2026. Malam itu, langit Tehran berwarna jingga. 


Konten

Kitab Tertawa, Kronik 60 Hari Saat Naga Persia Saksikan Sirkus Datang ke Kota

Harga

Rp 3.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Humor

Loading...

Kitab Tertawa, Kronik 60 Hari Saat Naga Persia Saksikan Sirkus Datang ke Kota


Deskripsi

Di sebuah warung teh tua di sudut Bazar Tehran, di mana uap samovar berbaur dengan aroma tembakau buah dan debu buku-buku kuno, duduklah seorang lelaki tua berjanggut putih. Namanya Haji Abbas, seorang penjual karpet yang lebih banyak menghabiskan waktunya membaca syair Hafez daripada menghitung stok dagangannya. Di hadapannya, secangkir teh hitam pekat dan tiga butir gula batu yang belum ia sentuh. Matanya yang redup menatap layar ponsel pintar, hadiah dari cucunya, yang menampilkan berita terbaru.

"Innalillahi," bisiknya. Lalu, setelah jeda panjang, di mana ia menyesap tehnya yang sudah dingin, ia melanjutkan, "Tapi juga... Alhamdulillah. Ternyata Tuhan masih sayang pada kita. Dia kirim dua musuh bebuyutan yang ternyata... idiot."

Seisi warung yang semula tegang karena berita serangan udara ke Iran, menoleh. Beberapa mengernyit. Tapi Haji Abbas melanjutkan, suaranya berubah menjadi nada seorang dalang yang akan memulai pertunjukan. "Aku sudah 47 tahun hidup di bawah sanksi. Aku sudah melihat segala jenis ancaman. Tapi ini pertama kalinya aku melihat ancaman yang begitu... menghibur. Duduklah, anak-anak muda. Biarkan aku cerita, bagaimana Iran yang perkasa ini, selama 60 hari, menjadi penonton sirkus terbesar dalam sejarah. Sirkus yang bintang utamanya adalah seekor singa berambut pirang dan seekor rubah parnoia."

Dan begitulah, di warung teh itu, dimulailah penuturan yang kemudian dikenal sebagai "Kitab Tertawa" , sebuah kronik satir tentang bagaimana Iran, di bawah bayang-bayang syahidnya Sang Pemimpin, justru menemukan kekuatan baru: kemampuan untuk menertawakan musuh-musuhnya.

Malam Bintang Jatuh dan Surat yang Tidak Pernah Sampai

Tanggal 28 Februari 2026. Malam itu, langit Tehran berwarna jingga. 


Konten

Kitab Tertawa, Kronik 60 Hari Saat Naga Persia Saksikan Sirkus Datang ke Kota