Saudara pembaca, pernahkah Anda membayangkan sebuah keluarga yang tidak pernah berselisih? Atau sebuah negara yang sepanjang sejarahnya tidak pernah mengalami konflik? Bagi kebanyakan orang, situasi seperti itu mungkin terdengar ideal, damai, harmonis, tanpa gejolak. Namun sosiolog Amerika, Lewis A. Coser, justru akan mengernyitkan dahinya mendengar gagasan tersebut.
Bagi Coser, ketiadaan konflik bukanlah pertanda sehatnya suatu hubungan sosial, melainkan justru bisa menjadi sinyal bahaya. Dalam karya monumentalnya, The Functions of Social Conflict (1956), Coser (1956, hlm. 31) secara provokatif menyatakan bahwa tidak ada kelompok yang bisa sepenuhnya harmonis, karena jika demikian, kelompok itu akan kehilangan proses dan struktur. Pembentukan kelompok adalah hasil dari asosiasi dan disosiasi secara bersamaan, sehingga baik konflik maupun kerja sama, keduanya sama-sama menjalankan fungsi sosial.
Pernyataan ini mungkin terdengar kontra-intuitif. Bukankah konflik identik dengan perpecahan, kekerasan, dan kehancuran? Di sinilah letak orisinalitas pemikiran Coser. Ia bukan hendak merayakan konflik sebagai sesuatu yang indah, melainkan ingin menunjukkan bahwa konflik memiliki "sisi terang" yang sering kali luput dari perhatian, yaitu kemampuannya untuk memperkuat solidaritas kelompok, menegaskan identitas kolektif, dan bahkan mencegah kehancuran sistem sosial yang lebih besar.
Buku ini hadir untuk mengajak Anda, para mahasiswa dan pembaca umum, menjelajahi gagasan Coser secara menyeluruh, lalu meneropong politik Indonesia kontemporer melalui lensa teori konflik fungsional ini. Dengan gaya bahasa yang populer namun tetap bertanggung jawab secara akademik, kami berharap pemikiran Coser dapat dipahami, dinikmati, dan, yang lebih penting, digunakan sebagai alat analisis terhadap realitas sosial-politik di sekitar kita.
Lewis Alfred Coser
Lewis Alfred Coser lahir di Berlin, Jerman, pada 27 November 1913, dengan nama asli Ludwig Cohen. Ia berasal dari keluarga Yahudi kelas menengah yang cukup berada. Ayahnya, Martin Cohen, adalah seorang pengusaha, sementara ibunya, Margarethe Cohen, berasal dari kalangan intelektual. Lingkungan keluarga yang kosmopolitan ini kelak sangat memengaruhi minat intelektual Coser muda.
Kehidupan Coser berubah drastis ketika rezim Nazi berkuasa di Jerman pada 1933. Sebagai seorang intelektual muda yang aktif dalam gerakan sosialis dan seorang keturunan Yahudi, Coser berada dalam posisi yang sangat rentan. Ia terpaksa meninggalkan Jerman dan mengungsi ke Prancis pada tahun yang sama. Pengalaman sebagai pengungsi dan saksi mata kebangkitan fasisme ini sangat membentuk perspektif teoretisnya tentang konflik, kekuasaan, dan solidaritas kelompok.
Saudara pembaca, pernahkah Anda membayangkan sebuah keluarga yang tidak pernah berselisih? Atau sebuah negara yang sepanjang sejarahnya tidak pernah mengalami konflik? Bagi kebanyakan orang, situasi seperti itu mungkin terdengar ideal, damai, harmonis, tanpa gejolak. Namun sosiolog Amerika, Lewis A. Coser, justru akan mengernyitkan dahinya mendengar gagasan tersebut.
Bagi Coser, ketiadaan konflik bukanlah pertanda sehatnya suatu hubungan sosial, melainkan justru bisa menjadi sinyal bahaya. Dalam karya monumentalnya, The Functions of Social Conflict (1956), Coser (1956, hlm. 31) secara provokatif menyatakan bahwa tidak ada kelompok yang bisa sepenuhnya harmonis, karena jika demikian, kelompok itu akan kehilangan proses dan struktur. Pembentukan kelompok adalah hasil dari asosiasi dan disosiasi secara bersamaan, sehingga baik konflik maupun kerja sama, keduanya sama-sama menjalankan fungsi sosial.
Pernyataan ini mungkin terdengar kontra-intuitif. Bukankah konflik identik dengan perpecahan, kekerasan, dan kehancuran? Di sinilah letak orisinalitas pemikiran Coser. Ia bukan hendak merayakan konflik sebagai sesuatu yang indah, melainkan ingin menunjukkan bahwa konflik memiliki "sisi terang" yang sering kali luput dari perhatian, yaitu kemampuannya untuk memperkuat solidaritas kelompok, menegaskan identitas kolektif, dan bahkan mencegah kehancuran sistem sosial yang lebih besar.
Buku ini hadir untuk mengajak Anda, para mahasiswa dan pembaca umum, menjelajahi gagasan Coser secara menyeluruh, lalu meneropong politik Indonesia kontemporer melalui lensa teori konflik fungsional ini. Dengan gaya bahasa yang populer namun tetap bertanggung jawab secara akademik, kami berharap pemikiran Coser dapat dipahami, dinikmati, dan, yang lebih penting, digunakan sebagai alat analisis terhadap realitas sosial-politik di sekitar kita.
Lewis Alfred Coser
Lewis Alfred Coser lahir di Berlin, Jerman, pada 27 November 1913, dengan nama asli Ludwig Cohen. Ia berasal dari keluarga Yahudi kelas menengah yang cukup berada. Ayahnya, Martin Cohen, adalah seorang pengusaha, sementara ibunya, Margarethe Cohen, berasal dari kalangan intelektual. Lingkungan keluarga yang kosmopolitan ini kelak sangat memengaruhi minat intelektual Coser muda.
Kehidupan Coser berubah drastis ketika rezim Nazi berkuasa di Jerman pada 1933. Sebagai seorang intelektual muda yang aktif dalam gerakan sosialis dan seorang keturunan Yahudi, Coser berada dalam posisi yang sangat rentan. Ia terpaksa meninggalkan Jerman dan mengungsi ke Prancis pada tahun yang sama. Pengalaman sebagai pengungsi dan saksi mata kebangkitan fasisme ini sangat membentuk perspektif teoretisnya tentang konflik, kekuasaan, dan solidaritas kelompok.