Tulisan ini mengupas konsep “Residu” dan “Derivasi” dari Vilfredo Pareto, sebuah kerangka teoretis yang menawarkan cara unik untuk memahami bagaimana kekuasaan beredar di dalam masyarakat. Secara khusus, esai ini menggunakan lensa Pareto untuk menelaah dinamika politik Indonesia sejak Reformasi 1998 hingga era Presiden Prabowo Subianto saat ini.
Berdasarkan telaah atas karya-karya para peneliti politik Indonesia dari Australia, Amerika Serikat, Eropa, dan Dunia Muslim, tulisan ini berargumen bahwa alih-alih mengalami sirkulasi elit yang sehat, Indonesia justru menyaksikan reproduksi dan adaptasi oligarki warisan Orde Baru yang kian mengakar, sebuah fenomena yang dapat dibaca sebagai “degenerasi elit” dalam terminologi Pareto.
Paradoks Negeri yang (Katanya) Sudah Berubah
Lebih dari seperempat abad berlalu sejak gelombang Reformasi 1998 meruntuhkan rezim Orde Baru Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Euforia demokratisasi yang meletup kala itu melahirkan harapan besar: kekuasaan tidak lagi bertumpuk di tangan segelintir elite, melainkan akan tersebar secara lebih adil melalui mekanisme elektoral yang kompetitif dan partisipasi publik yang lebih luas.
Namun, di tengah gegap gempita pemilu langsung, desentralisasi, dan kebebasan pers, satu pertanyaan ganjil terus mengemuka: Mengapa wajah-wajah yang sama, atau setidaknya pola kekuasaan yang sama, terus menghantui panggung politik Indonesia? Mengapa oligarki seakan tak pernah benar-benar tumbang, melainkan hanya berganti baju?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tulisan ini mengajak pembaca untuk menyelami kerangka pemikiran Vilfredo Pareto (1848–1923), seorang sosiolog dan ekonom Italia yang sering kali disalahpahami sebagai pembela fasisme, namun sesungguhnya menawarkan pisau analisis yang tajam untuk membedah anatomi kekuasaan. Pareto tidak berbicara tentang bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan, melainkan tentang bagaimana kekuasaan senyatanya bekerja, sebuah proyek intelektual yang ia sebut sebagai “sosiologi ilmiah” yang bebas dari ilusi moralistik.
Tulisan ini mengupas konsep “Residu” dan “Derivasi” dari Vilfredo Pareto, sebuah kerangka teoretis yang menawarkan cara unik untuk memahami bagaimana kekuasaan beredar di dalam masyarakat. Secara khusus, esai ini menggunakan lensa Pareto untuk menelaah dinamika politik Indonesia sejak Reformasi 1998 hingga era Presiden Prabowo Subianto saat ini.
Berdasarkan telaah atas karya-karya para peneliti politik Indonesia dari Australia, Amerika Serikat, Eropa, dan Dunia Muslim, tulisan ini berargumen bahwa alih-alih mengalami sirkulasi elit yang sehat, Indonesia justru menyaksikan reproduksi dan adaptasi oligarki warisan Orde Baru yang kian mengakar, sebuah fenomena yang dapat dibaca sebagai “degenerasi elit” dalam terminologi Pareto.
Paradoks Negeri yang (Katanya) Sudah Berubah
Lebih dari seperempat abad berlalu sejak gelombang Reformasi 1998 meruntuhkan rezim Orde Baru Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Euforia demokratisasi yang meletup kala itu melahirkan harapan besar: kekuasaan tidak lagi bertumpuk di tangan segelintir elite, melainkan akan tersebar secara lebih adil melalui mekanisme elektoral yang kompetitif dan partisipasi publik yang lebih luas.
Namun, di tengah gegap gempita pemilu langsung, desentralisasi, dan kebebasan pers, satu pertanyaan ganjil terus mengemuka: Mengapa wajah-wajah yang sama, atau setidaknya pola kekuasaan yang sama, terus menghantui panggung politik Indonesia? Mengapa oligarki seakan tak pernah benar-benar tumbang, melainkan hanya berganti baju?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tulisan ini mengajak pembaca untuk menyelami kerangka pemikiran Vilfredo Pareto (1848–1923), seorang sosiolog dan ekonom Italia yang sering kali disalahpahami sebagai pembela fasisme, namun sesungguhnya menawarkan pisau analisis yang tajam untuk membedah anatomi kekuasaan. Pareto tidak berbicara tentang bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan, melainkan tentang bagaimana kekuasaan senyatanya bekerja, sebuah proyek intelektual yang ia sebut sebagai “sosiologi ilmiah” yang bebas dari ilusi moralistik.