BAGIAN SATU: PRESIDEN YANG HOBI NIRU
Pernah dengar istilah "monkey see, monkey do"? Nah, itulah kira-kira yang terjadi di Ruang Oval Gedung Putih pada suatu pagi yang cerah, atau setidaknya cerah menurut standar cuaca Washington DC yang lagi nggak hujan.
Donald J. Trump, Presiden Amerika Serikat ke-45 (atau ke-47, tergantung bagaimana kalian menghitungnya dan seberapa keras kalian berteriak "STOP THE STEAL!"), sedang duduk di belakang Resolute Desk sambil memainkan pulpen emas kesayangannya. Layar televisi besar di sudut ruangan menayangkan berita terkini dari Timur Tengah.
"Sir, Iran baru saja menutup Selat Hormuz," lapor Jenderal McKinley, seorang pria berwajah keras dengan seragam penuh bintang empat yang berkilau-kilau.
Trump mengangkat sebelah alisnya. Alis yang terkenal itu, yang kadang-kadang bergerak secara independen seperti punya kehidupan sendiri, naik hampir menyentuh garis rambutnya yang legendaris. "Selat Hormuz? What is that? Some kind of... some kind of, you know, the thing?"
"Ini jalur perairan strategis, Tuan Presiden," jelas Menteri Pertahanan yang berdiri di samping Jenderal McKinley. "Sekitar seperlima minyak dunia melewati selat itu."
"One fifth?" Mata Trump membelalak. "That's tremendous. That's huge. Dan Iran menutupnya? They can't do that! Only I can do things like that!"
"Situasinya sangat serius, Sir."
Trump mencondongkan tubuhnya ke depan. "Jadi Iran memblokade selat? Mereka menutup jalur air? Interesting. Very interesting." Dia mengusap dagunya. "Tell me something. Apakah selat itu... indah?"
Para penasihatnya saling pandang. "Indah, Tuan Presiden?"
"You know, beautiful. Seperti tembok. Tembok itu indah. Big, beautiful wall. Selat yang diblokade... apakah dia indah?"
Menteri Pertahanan menghela napas dalam-dalam. "Saya kira keindahan bukanlah prioritas utama di sini, Sir."
"Nonsense!" Trump membanting pulpen emasnya ke meja. "Semua yang saya lakukan itu indah. Beautiful. The most beautiful. Jadi kalau Iran bisa melakukan blokade yang indah, saya juga mau! Di mana kita bisa melakukan blokade?"
"Blokade, Sir?"
BAGIAN SATU: PRESIDEN YANG HOBI NIRU
Pernah dengar istilah "monkey see, monkey do"? Nah, itulah kira-kira yang terjadi di Ruang Oval Gedung Putih pada suatu pagi yang cerah, atau setidaknya cerah menurut standar cuaca Washington DC yang lagi nggak hujan.
Donald J. Trump, Presiden Amerika Serikat ke-45 (atau ke-47, tergantung bagaimana kalian menghitungnya dan seberapa keras kalian berteriak "STOP THE STEAL!"), sedang duduk di belakang Resolute Desk sambil memainkan pulpen emas kesayangannya. Layar televisi besar di sudut ruangan menayangkan berita terkini dari Timur Tengah.
"Sir, Iran baru saja menutup Selat Hormuz," lapor Jenderal McKinley, seorang pria berwajah keras dengan seragam penuh bintang empat yang berkilau-kilau.
Trump mengangkat sebelah alisnya. Alis yang terkenal itu, yang kadang-kadang bergerak secara independen seperti punya kehidupan sendiri, naik hampir menyentuh garis rambutnya yang legendaris. "Selat Hormuz? What is that? Some kind of... some kind of, you know, the thing?"
"Ini jalur perairan strategis, Tuan Presiden," jelas Menteri Pertahanan yang berdiri di samping Jenderal McKinley. "Sekitar seperlima minyak dunia melewati selat itu."
"One fifth?" Mata Trump membelalak. "That's tremendous. That's huge. Dan Iran menutupnya? They can't do that! Only I can do things like that!"
"Situasinya sangat serius, Sir."
Trump mencondongkan tubuhnya ke depan. "Jadi Iran memblokade selat? Mereka menutup jalur air? Interesting. Very interesting." Dia mengusap dagunya. "Tell me something. Apakah selat itu... indah?"
Para penasihatnya saling pandang. "Indah, Tuan Presiden?"
"You know, beautiful. Seperti tembok. Tembok itu indah. Big, beautiful wall. Selat yang diblokade... apakah dia indah?"
Menteri Pertahanan menghela napas dalam-dalam. "Saya kira keindahan bukanlah prioritas utama di sini, Sir."
"Nonsense!" Trump membanting pulpen emasnya ke meja. "Semua yang saya lakukan itu indah. Beautiful. The most beautiful. Jadi kalau Iran bisa melakukan blokade yang indah, saya juga mau! Di mana kita bisa melakukan blokade?"
"Blokade, Sir?"