Melampaui Narasi Hegemoni: Melawan Hoaks, Polarisasi, dan Sensor di Indonesia


Deskripsi

Artikel ini menawarkan perspektif baru dalam memahami dinamika geopolitik kontemporer yang berpusat pada kebangkitan China, khususnya melalui kerangka Belt and Road Initiative (BRI). Alih-alih mengulang narasi dominan yang telah jenuh dalam literatur Hubungan Internasional arus utama, yang cenderung memposisikan China sebagai aktor hegemonik dan negara-negara penerima sebagai korban pasif, studi ini mengalihkan fokus analitis pada agensi aktor-aktor lokal yang selama ini terpinggirkan dalam diskursus akademik.

Dengan menggunakan pendekatan etnografi geopolitik dan teori praktik sosial Pierre Bourdieu, artikel ini menelusuri bagaimana masyarakat sipil, pengusaha kecil-menengah, buruh, aktivis lingkungan, dan komunitas adat di Indonesia merespons, menegosiasikan, dan bahkan meresistensi proyek-proyek infrastruktur BRI di tingkat akar rumput. Melalui studi kasus Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), Kawasan Industri Morowali, dan pembangkit listrik tenaga air di Kalimantan Utara, artikel ini menunjukkan bahwa "kebangkitan China" bukanlah proses satu arah yang deterministik, melainkan arena kontestasi yang kompleks di mana makna geopolitik diproduksi ulang secara terus-menerus melalui praktik-praktik keseharian yang sering kali luput dari pengamatan para sarjana HI tradisional.

Dengan demikian, artikel ini menawarkan kebaruan dalam tiga hal: (1) pergeseran epistemologis dari analisis struktural ke analisis praktik; (2) penggunaan sumber-sumber primer yang jarang digunakan, termasuk wawancara mendalam dengan aktor-aktor lokal, dokumen-dokumen komunitas, arsip pengadilan, dan media lokal berbahasa daerah; serta (3) pengembangan konsep "geopolitik keseharian" (everyday geopolitics) yang memungkinkan kita memahami bagaimana kekuasaan global dihayati, dinegosiasikan, dan ditantang dalam konteks lokal yang spesifik.


Konten

Melampaui Narasi Hegemoni: Melawan Hoaks, Polarisasi, dan Sensor di Indonesia

Harga

Rp 3.300

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Melampaui Narasi Hegemoni: Melawan Hoaks, Polarisasi, dan Sensor di Indonesia


Deskripsi

Artikel ini menawarkan perspektif baru dalam memahami dinamika geopolitik kontemporer yang berpusat pada kebangkitan China, khususnya melalui kerangka Belt and Road Initiative (BRI). Alih-alih mengulang narasi dominan yang telah jenuh dalam literatur Hubungan Internasional arus utama, yang cenderung memposisikan China sebagai aktor hegemonik dan negara-negara penerima sebagai korban pasif, studi ini mengalihkan fokus analitis pada agensi aktor-aktor lokal yang selama ini terpinggirkan dalam diskursus akademik.

Dengan menggunakan pendekatan etnografi geopolitik dan teori praktik sosial Pierre Bourdieu, artikel ini menelusuri bagaimana masyarakat sipil, pengusaha kecil-menengah, buruh, aktivis lingkungan, dan komunitas adat di Indonesia merespons, menegosiasikan, dan bahkan meresistensi proyek-proyek infrastruktur BRI di tingkat akar rumput. Melalui studi kasus Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), Kawasan Industri Morowali, dan pembangkit listrik tenaga air di Kalimantan Utara, artikel ini menunjukkan bahwa "kebangkitan China" bukanlah proses satu arah yang deterministik, melainkan arena kontestasi yang kompleks di mana makna geopolitik diproduksi ulang secara terus-menerus melalui praktik-praktik keseharian yang sering kali luput dari pengamatan para sarjana HI tradisional.

Dengan demikian, artikel ini menawarkan kebaruan dalam tiga hal: (1) pergeseran epistemologis dari analisis struktural ke analisis praktik; (2) penggunaan sumber-sumber primer yang jarang digunakan, termasuk wawancara mendalam dengan aktor-aktor lokal, dokumen-dokumen komunitas, arsip pengadilan, dan media lokal berbahasa daerah; serta (3) pengembangan konsep "geopolitik keseharian" (everyday geopolitics) yang memungkinkan kita memahami bagaimana kekuasaan global dihayati, dinegosiasikan, dan ditantang dalam konteks lokal yang spesifik.


Konten

Melampaui Narasi Hegemoni: Melawan Hoaks, Polarisasi, dan Sensor di Indonesia