Membedah Politik Ibn Rusyd Merawat Akal Menolak Radikal


Deskripsi

Kali ini mari kita selami pemikiran seorang tokoh yang mungkin paling kontroversial, paling cemerlang, dan paling "modern" di antara para filsuf Islam klasik. Ia adalah Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd, atau yang dikenal oleh dunia Barat sebagai Averroes (1126–1198 M).

Mengapa ia istimewa? Bayangkan seorang ulama yang menjadi qadhi (hakim agung) di Cordoba dan Seville, sekaligus seorang dokter istana, sekaligus seorang filsuf yang karya-karyanya justru lebih "meledak" di Eropa ketimbang di dunia Islam. Tetapi yang paling mencengangkan: di tengah arus besar ortodoksi yang mulai mencurigai filsafat, Ibn Rusyd justru menulis sebuah fatwa, ya, fatwa hukum Islam, yang menyatakan bahwa mempelajari filsafat Yunani adalah wajib bagi Muslim yang mampu!

Inilah paradoks Ibn Rusyd: seorang ahli fiqh yang membela kebebasan akal; seorang hakim yang menuntut pemimpin untuk menjadi filsuf; seorang Muslim ortodoks yang tulisan-tulisannya menjadi "kitab suci" bagi para pemikir sekular Eropa. Ia adalah jembatan antara dua peradaban, dan malam ini kita akan menjadi "pejalan kaki" di atas jembatan itu.

Di universitas-universitas Eropa abad ke-13, terjadi "gempa intelektual" yang dikenal sebagai Averroisme Latin, sebuah gerakan pemikiran yang mengguncang fondasi Gereja Katolik karena mengajarkan bahwa kebenaran filsafat bisa saja berbeda dengan kebenaran agama, dan keduanya sama-sama sah. Di balik gerakan itu, ada satu nama: Ibn Rusyd. Ironisnya, di dunia Islam sendiri, ia justru dibuang, buku-bukunya dibakar, dan pemikirannya nyaris dilupakan selama berabad-abad (Fakhry, 2001).

Membedah pemikiran politik Ibn Rushd konsep negara utama proposisi penguasa syarat pemimpin dan relevansinya bagi dunia dan Indonesia masa kini

Namun, jika kita menggali lebih dalam, kita akan menemukan bahwa Ibn Rusyd bukanlah "sekularis" seperti yang dibayangkan oleh para pengikut Latinnya. Ia adalah seorang Muslim yang taat, seorang faqih mazhab Maliki, dan seorang pemikir yang berusaha keras untuk mendamaikan akal dan wahyu dalam sebuah sintesis yang ia sebut sebagai Fashl al-Maqal (Kata Pemutus).

Karya utama yang akan kita bedah malam ini adalah Komentar Ibn Rusyd atas Republik Plato. Mengapa Republik Plato, bukan Politik-nya Aristoteles? Jawabannya sederhana namun sarat makna: Ibn Rusyd tidak pernah menemukan terjemahan Politik Aristoteles. Maka, ia melakukan sesuatu yang jenius: ia membaca Republik Plato dengan "kacamata Islam" dan menghasilkan sintesis yang belum pernah ada sebelumnya. Ia mendirikan apa yang oleh para sarjana disebut sebagai "Tradisi Politik Farabian" yang diremajakan untuk konteks Maghrib ( Andalusia-Muslim) pada abad ke-12 (Rosenthal, 1953).

Biografi Intelektual


Konten

Membedah Politik Ibn Rusyd Merawat Akal Menolak Radikal

Harga

Rp 5.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Membedah Politik Ibn Rusyd Merawat Akal Menolak Radikal


Deskripsi

Kali ini mari kita selami pemikiran seorang tokoh yang mungkin paling kontroversial, paling cemerlang, dan paling "modern" di antara para filsuf Islam klasik. Ia adalah Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd, atau yang dikenal oleh dunia Barat sebagai Averroes (1126–1198 M).

Mengapa ia istimewa? Bayangkan seorang ulama yang menjadi qadhi (hakim agung) di Cordoba dan Seville, sekaligus seorang dokter istana, sekaligus seorang filsuf yang karya-karyanya justru lebih "meledak" di Eropa ketimbang di dunia Islam. Tetapi yang paling mencengangkan: di tengah arus besar ortodoksi yang mulai mencurigai filsafat, Ibn Rusyd justru menulis sebuah fatwa, ya, fatwa hukum Islam, yang menyatakan bahwa mempelajari filsafat Yunani adalah wajib bagi Muslim yang mampu!

Inilah paradoks Ibn Rusyd: seorang ahli fiqh yang membela kebebasan akal; seorang hakim yang menuntut pemimpin untuk menjadi filsuf; seorang Muslim ortodoks yang tulisan-tulisannya menjadi "kitab suci" bagi para pemikir sekular Eropa. Ia adalah jembatan antara dua peradaban, dan malam ini kita akan menjadi "pejalan kaki" di atas jembatan itu.

Di universitas-universitas Eropa abad ke-13, terjadi "gempa intelektual" yang dikenal sebagai Averroisme Latin, sebuah gerakan pemikiran yang mengguncang fondasi Gereja Katolik karena mengajarkan bahwa kebenaran filsafat bisa saja berbeda dengan kebenaran agama, dan keduanya sama-sama sah. Di balik gerakan itu, ada satu nama: Ibn Rusyd. Ironisnya, di dunia Islam sendiri, ia justru dibuang, buku-bukunya dibakar, dan pemikirannya nyaris dilupakan selama berabad-abad (Fakhry, 2001).

Membedah pemikiran politik Ibn Rushd konsep negara utama proposisi penguasa syarat pemimpin dan relevansinya bagi dunia dan Indonesia masa kini

Namun, jika kita menggali lebih dalam, kita akan menemukan bahwa Ibn Rusyd bukanlah "sekularis" seperti yang dibayangkan oleh para pengikut Latinnya. Ia adalah seorang Muslim yang taat, seorang faqih mazhab Maliki, dan seorang pemikir yang berusaha keras untuk mendamaikan akal dan wahyu dalam sebuah sintesis yang ia sebut sebagai Fashl al-Maqal (Kata Pemutus).

Karya utama yang akan kita bedah malam ini adalah Komentar Ibn Rusyd atas Republik Plato. Mengapa Republik Plato, bukan Politik-nya Aristoteles? Jawabannya sederhana namun sarat makna: Ibn Rusyd tidak pernah menemukan terjemahan Politik Aristoteles. Maka, ia melakukan sesuatu yang jenius: ia membaca Republik Plato dengan "kacamata Islam" dan menghasilkan sintesis yang belum pernah ada sebelumnya. Ia mendirikan apa yang oleh para sarjana disebut sebagai "Tradisi Politik Farabian" yang diremajakan untuk konteks Maghrib ( Andalusia-Muslim) pada abad ke-12 (Rosenthal, 1953).

Biografi Intelektual


Konten

Membedah Politik Ibn Rusyd Merawat Akal Menolak Radikal