Kali ini kita bicarakan sebuah teori yang menjawab pertanyaan yang paling menggelisahkan: “Bagaimana orang-orang baik bisa melakukan hal-hal yang sangat jahat, dan tetap bisa tidur nyenyak di malam hari?” Teori itu adalah Moral Disengagement Theory, atau dalam bahasa kita, Teori Pelepasan Moral.
Ini adalah teori yang menjelaskan mekanisme psikologis yang memungkinkan kita untuk “melepaskan diri” dari kontrol moral internal kita, sehingga kita bisa melakukan tindakan yang tidak manusiawi tanpa merasa bersalah, malu, atau menyesal.
“Bagaimana Mereka Bisa Melakukannya?”
Setiap teori besar lahir dari sebuah pertanyaan yang mengganggu, sebuah kegelisahan yang tak tertahankan. Teori Pelepasan Moral lahir dari pertanyaan yang menghantui dunia setelah Perang Dunia II, dan terus menghantui kita hingga hari ini.
1 Bayangan Holocaust
Bayangkan Anda adalah seorang warga Jerman biasa pada tahun 1940-an. Anda seorang ayah yang penyayang, suami yang setia, tetangga yang baik. Anda suka musik klasik dan berkebun di akhir pekan. Tetapi setiap pagi, Anda pergi bekerja sebagai insinyur di sebuah pabrik yang memproduksi gas Zyklon B, yang digunakan untuk membunuh jutaan orang Yahudi, Gipsi, dan tahanan lainnya di kamp konsentrasi. Atau Anda seorang pegawai administrasi yang dengan rapi mengetik daftar nama-nama yang akan “dideportasi ke Timur”.
Bagaimana Anda bisa melakukan itu? Bagaimana Anda bisa pulang ke rumah, mencium anak-anak Anda, dan tidur dengan nyenyak?
Ini adalah pertanyaan yang menghantui dunia setelah Holocaust terungkap. Filsuf Hannah Arendt, yang meliput pengadilan Adolf Eichmann di Yerusalem pada tahun 1961, menciptakan frasa yang terkenal dan kontroversial: “the banality of evil” (kebanalan kejahatan). Eichmann bukanlah monster yang haus darah. Ia adalah seorang birokrat yang rapi, efisien, dan sangat membosankan. Ia hanya “menjalankan perintah” dan “melakukan tugasnya”. Arendt menulis:
“The trouble with Eichmann was precisely that so many were like him, and that the many were neither perverse nor sadistic, that they were, and still are, terribly and terrifyingly normal.” (Arendt 276)
Kali ini kita bicarakan sebuah teori yang menjawab pertanyaan yang paling menggelisahkan: “Bagaimana orang-orang baik bisa melakukan hal-hal yang sangat jahat, dan tetap bisa tidur nyenyak di malam hari?” Teori itu adalah Moral Disengagement Theory, atau dalam bahasa kita, Teori Pelepasan Moral.
Ini adalah teori yang menjelaskan mekanisme psikologis yang memungkinkan kita untuk “melepaskan diri” dari kontrol moral internal kita, sehingga kita bisa melakukan tindakan yang tidak manusiawi tanpa merasa bersalah, malu, atau menyesal.
“Bagaimana Mereka Bisa Melakukannya?”
Setiap teori besar lahir dari sebuah pertanyaan yang mengganggu, sebuah kegelisahan yang tak tertahankan. Teori Pelepasan Moral lahir dari pertanyaan yang menghantui dunia setelah Perang Dunia II, dan terus menghantui kita hingga hari ini.
1 Bayangan Holocaust
Bayangkan Anda adalah seorang warga Jerman biasa pada tahun 1940-an. Anda seorang ayah yang penyayang, suami yang setia, tetangga yang baik. Anda suka musik klasik dan berkebun di akhir pekan. Tetapi setiap pagi, Anda pergi bekerja sebagai insinyur di sebuah pabrik yang memproduksi gas Zyklon B, yang digunakan untuk membunuh jutaan orang Yahudi, Gipsi, dan tahanan lainnya di kamp konsentrasi. Atau Anda seorang pegawai administrasi yang dengan rapi mengetik daftar nama-nama yang akan “dideportasi ke Timur”.
Bagaimana Anda bisa melakukan itu? Bagaimana Anda bisa pulang ke rumah, mencium anak-anak Anda, dan tidur dengan nyenyak?
Ini adalah pertanyaan yang menghantui dunia setelah Holocaust terungkap. Filsuf Hannah Arendt, yang meliput pengadilan Adolf Eichmann di Yerusalem pada tahun 1961, menciptakan frasa yang terkenal dan kontroversial: “the banality of evil” (kebanalan kejahatan). Eichmann bukanlah monster yang haus darah. Ia adalah seorang birokrat yang rapi, efisien, dan sangat membosankan. Ia hanya “menjalankan perintah” dan “melakukan tugasnya”. Arendt menulis:
“The trouble with Eichmann was precisely that so many were like him, and that the many were neither perverse nor sadistic, that they were, and still are, terribly and terrifyingly normal.” (Arendt 276)