Moses Hess dari Rabbi Komunis ke Bapak Zionisme


Deskripsi

Pada tahun 1961, sebuah peti mati seng yang telah terkubur selama 86 tahun di Köln, Jerman, diangkat dari peristirahatannya. Jenazah di dalamnya dibawa melintasi benua dan dimakamkan kembali di tepi Danau Galilea, di Kinneret, sebuah kibbutz, simbol kolektivisme sosialis di Tanah Israel yang baru lahir. Di nisannya terpatri kalimat yang merangkum paradoks kehidupannya: "Penulis Rome and Jerusalem, bapak pendahulu sosialisme dunia, dan pewarta negara Israel" (Weiß 7). Jenazah itu adalah Moses Hess, seorang pemikir yang hidupnya terbelah di antara dua arus ideologi besar yang akan membentuk abad ke-20: komunisme dan Zionisme.

Pemindahan jenazah Hess pada 1961 bukanlah sekadar tindakan simbolis penghormatan. Tindakan itu sendiri adalah peristiwa politik yang sarat makna kolonial. Sebagaimana dicatat oleh sejarawan Assaf Shelleg, pemindahan jenazah para pemikir Zionis awal ke tanah Israel adalah bagian dari "proyek teritorialisasi ingatan" yang bertujuan membangun legitimasi historis bagi klaim Yahudi atas Palestina (Shelleg 89). Dengan menguburkan Hess di Kinneret, negara Israel yang baru berusia 13 tahun itu sedang melakukan klaim genealogis: bahwa Zionisme bukanlah proyek kolonial abad ke-20, melainkan pemenuhan takdir historis yang telah dirintis oleh para pemikir abad ke-19. Namun, klaim genealogis semacam ini justru mengungkap ketegangan yang tak terselesaikan dalam proyek Zionis itu sendiri, ketegangan yang telah ada sejak awal dalam pemikiran Hess.

Hess adalah sosok anomali. Dijuluki "Rabbi Komunis" (The Communist Rabbi) karena latar belakangnya dan dedikasinya pada gerakan sosialis, ia justru lebih dikenang sebagai "Bapak Zionisme Buruh" (Weiss 11). Namun, jauh sebelum ia menyerukan kebangkitan nasional Yahudi, Hess adalah arsitek intelektual yang meletakkan fondasi bagi pemikiran Karl Marx. Tulisan ini berargumen bahwa perjalanan intelektual Hess, dari sosialisme universal ke nasionalisme partikular, bukanlah pengkhianatan terhadap cita-cita emansipatoris, melainkan upaya untuk memperluas dan mengoreksi universalisme sosialis agar mampu menjawab persoalan penindasan etnis yang diabaikan oleh Marx. Namun, pada saat yang sama, kritik pascakolonial menuntut kita untuk mengakui bahwa solusi yang ditawarkan Hess bagi "pertanyaan Yahudi" justru melahirkan "pertanyaan Palestina" yang hingga kini belum terselesaikan. Hess adalah jembatan yang terlupakan antara dua gerakan pembebasan yang kerap dipandang bertentangan, tetapi jembatan itu sendiri dibangun di atas fondasi yang retak: kegagalan untuk melihat bangsa lain yang juga tertindas.


Konten

Moses Hess dari Rabbi Komunis ke Bapak Zionisme

Harga

Rp 7.000

Detail Tulisan

Penulis

Seta Basri

Bahasa

Indonesia

Genre

Nonfiksi

Loading...

Moses Hess dari Rabbi Komunis ke Bapak Zionisme


Deskripsi

Pada tahun 1961, sebuah peti mati seng yang telah terkubur selama 86 tahun di Köln, Jerman, diangkat dari peristirahatannya. Jenazah di dalamnya dibawa melintasi benua dan dimakamkan kembali di tepi Danau Galilea, di Kinneret, sebuah kibbutz, simbol kolektivisme sosialis di Tanah Israel yang baru lahir. Di nisannya terpatri kalimat yang merangkum paradoks kehidupannya: "Penulis Rome and Jerusalem, bapak pendahulu sosialisme dunia, dan pewarta negara Israel" (Weiß 7). Jenazah itu adalah Moses Hess, seorang pemikir yang hidupnya terbelah di antara dua arus ideologi besar yang akan membentuk abad ke-20: komunisme dan Zionisme.

Pemindahan jenazah Hess pada 1961 bukanlah sekadar tindakan simbolis penghormatan. Tindakan itu sendiri adalah peristiwa politik yang sarat makna kolonial. Sebagaimana dicatat oleh sejarawan Assaf Shelleg, pemindahan jenazah para pemikir Zionis awal ke tanah Israel adalah bagian dari "proyek teritorialisasi ingatan" yang bertujuan membangun legitimasi historis bagi klaim Yahudi atas Palestina (Shelleg 89). Dengan menguburkan Hess di Kinneret, negara Israel yang baru berusia 13 tahun itu sedang melakukan klaim genealogis: bahwa Zionisme bukanlah proyek kolonial abad ke-20, melainkan pemenuhan takdir historis yang telah dirintis oleh para pemikir abad ke-19. Namun, klaim genealogis semacam ini justru mengungkap ketegangan yang tak terselesaikan dalam proyek Zionis itu sendiri, ketegangan yang telah ada sejak awal dalam pemikiran Hess.

Hess adalah sosok anomali. Dijuluki "Rabbi Komunis" (The Communist Rabbi) karena latar belakangnya dan dedikasinya pada gerakan sosialis, ia justru lebih dikenang sebagai "Bapak Zionisme Buruh" (Weiss 11). Namun, jauh sebelum ia menyerukan kebangkitan nasional Yahudi, Hess adalah arsitek intelektual yang meletakkan fondasi bagi pemikiran Karl Marx. Tulisan ini berargumen bahwa perjalanan intelektual Hess, dari sosialisme universal ke nasionalisme partikular, bukanlah pengkhianatan terhadap cita-cita emansipatoris, melainkan upaya untuk memperluas dan mengoreksi universalisme sosialis agar mampu menjawab persoalan penindasan etnis yang diabaikan oleh Marx. Namun, pada saat yang sama, kritik pascakolonial menuntut kita untuk mengakui bahwa solusi yang ditawarkan Hess bagi "pertanyaan Yahudi" justru melahirkan "pertanyaan Palestina" yang hingga kini belum terselesaikan. Hess adalah jembatan yang terlupakan antara dua gerakan pembebasan yang kerap dipandang bertentangan, tetapi jembatan itu sendiri dibangun di atas fondasi yang retak: kegagalan untuk melihat bangsa lain yang juga tertindas.


Konten

Moses Hess dari Rabbi Komunis ke Bapak Zionisme