Rekan-rekan mahasiswa dan masyarakat umum yang penulis hormati, perkenankan penulis memulai esai ini dengan sebuah pertanyaan sederhana tetapi mengusik: Kapankah terakhir kali Anda membayangkan “perang” dan yang terlintas di benak adalah tank-tank yang berderak melintasi perbatasan, serdadu berseragam yang berhadap-hadapan, atau dua negara yang secara resmi menyatakan permusuhan?
Bagi banyak dari kita, itulah citra klasik perang, “old wars” dalam terminologi Mary Kaldor, yang diwariskan oleh lukisan-lukisan pertempuran era Napoleon, film-film Perang Dunia, hingga doktrin-doktrin akademi militer. Namun, lihatlah sekeliling kita hari ini. Di Ukraina, tank memang masih bergerak dan jet tempur meraung, tetapi di saat yang sama kita menyaksikan milisi-milisi relawan yang dibiayai lewat crowdfunding, pusat-pusat perbelanjaan dan apartemen yang dihantam rudal tanpa pandang bulu, serta perang narasi yang berkecamuk di Telegram dan X.
Di Suriah, aktor-aktor yang bertikai demikian banyak dan cair sehingga sulit membedakan mana tentara negara, mana pemberontak, mana jihadis transnasional, dan mana penjarah yang hanya mencari keuntungan. Di Sudan, perebutan tambang emas oleh kelompok paramiliter menjadi mesin konflik yang menghancurkan jutaan warga sipil tanpa ada deklarasi perang resmi apa pun. Inilah wajah perang kontemporer: Buram, kacau, dan melampaui seluruh kategori yang kita anggap mapan.
Di sinilah urgensi lahirnya kerangka pikir baru. Kita tidak bisa lagi memahami konflik-konflik mutakhir hanya dengan teori-teori perang konvensional yang dirumuskan berabad-abad lalu. Kita memerlukan sebuah lensa analitis yang mampu menangkap keburaman (blurriness) itu sendiri sebagai ciri esensial, bukan sekadar anomali. Esai ini akan mengajak Anda menyelami salah satu lensa tersebut: Teori Perang Baru (New Wars Theory) yang dipelopori oleh Mary Kaldor, seorang akademisi Inggris terkemuka.
Esai ini akan mengupasnya secara populer-ilmiah, dengan bahasa yang renyah dengan tapi tetap bertanggung jawab secara akademik, agar mudah dicerna oleh mahasiswa maupun masyarakat umum. Sumber-sumber utama dari esai ini adalah buku-buku dan jurnal bereputasi, terutama karya monumental Kaldor sendiri, New and Old Wars: Organised Violence in a Global Era, serta literatur mutakhir yang menguji relevansinya terhadap realitas dunia 2020-an. Setelah menuntaskan pemaparan teorinya, saya akan mengevaluasi seberapa relevan atau tidak relevankah teori ini dalam menjelaskan dinamika politik internasional masa kini, dengan studi kasus yang berimbang dari berbagai belahan dunia.
Mary Kaldor
Mary Kaldor bukanlah nama yang asing di koridor London School of Economics (LSE). Lahir pada 1946, ia adalah Profesor Tata Kelola Global di LSE sekaligus pendiri Unit Riset Keamanan Manusia dan Masyarakat Sipil. Jejak aktivisme intelektualnya panjang: Sejak era 1980-an ia telah menjadi suara penting dalam gerakan pelucutan senjata nuklir Eropa (European Nuclear Disarmament), dan kemudian mengalihkan perhatiannya pada sifat konflik yang berubah drastis pasca-Perang Dingin. Buku New and Old Wars edisi pertama terbit pada 1999, edisi kedua pada 2006, edisi ketiga pada 2013, dan gagasannya terus diperbarui hingga edisi-edisi berikutnya. Buku ini, dalam kata-kata penerbitnya, “telah mengubah secara fundamental cara kita memahami perang dan konflik kontemporer”.
Rekan-rekan mahasiswa dan masyarakat umum yang penulis hormati, perkenankan penulis memulai esai ini dengan sebuah pertanyaan sederhana tetapi mengusik: Kapankah terakhir kali Anda membayangkan “perang” dan yang terlintas di benak adalah tank-tank yang berderak melintasi perbatasan, serdadu berseragam yang berhadap-hadapan, atau dua negara yang secara resmi menyatakan permusuhan?
Bagi banyak dari kita, itulah citra klasik perang, “old wars” dalam terminologi Mary Kaldor, yang diwariskan oleh lukisan-lukisan pertempuran era Napoleon, film-film Perang Dunia, hingga doktrin-doktrin akademi militer. Namun, lihatlah sekeliling kita hari ini. Di Ukraina, tank memang masih bergerak dan jet tempur meraung, tetapi di saat yang sama kita menyaksikan milisi-milisi relawan yang dibiayai lewat crowdfunding, pusat-pusat perbelanjaan dan apartemen yang dihantam rudal tanpa pandang bulu, serta perang narasi yang berkecamuk di Telegram dan X.
Di Suriah, aktor-aktor yang bertikai demikian banyak dan cair sehingga sulit membedakan mana tentara negara, mana pemberontak, mana jihadis transnasional, dan mana penjarah yang hanya mencari keuntungan. Di Sudan, perebutan tambang emas oleh kelompok paramiliter menjadi mesin konflik yang menghancurkan jutaan warga sipil tanpa ada deklarasi perang resmi apa pun. Inilah wajah perang kontemporer: Buram, kacau, dan melampaui seluruh kategori yang kita anggap mapan.
Di sinilah urgensi lahirnya kerangka pikir baru. Kita tidak bisa lagi memahami konflik-konflik mutakhir hanya dengan teori-teori perang konvensional yang dirumuskan berabad-abad lalu. Kita memerlukan sebuah lensa analitis yang mampu menangkap keburaman (blurriness) itu sendiri sebagai ciri esensial, bukan sekadar anomali. Esai ini akan mengajak Anda menyelami salah satu lensa tersebut: Teori Perang Baru (New Wars Theory) yang dipelopori oleh Mary Kaldor, seorang akademisi Inggris terkemuka.
Esai ini akan mengupasnya secara populer-ilmiah, dengan bahasa yang renyah dengan tapi tetap bertanggung jawab secara akademik, agar mudah dicerna oleh mahasiswa maupun masyarakat umum. Sumber-sumber utama dari esai ini adalah buku-buku dan jurnal bereputasi, terutama karya monumental Kaldor sendiri, New and Old Wars: Organised Violence in a Global Era, serta literatur mutakhir yang menguji relevansinya terhadap realitas dunia 2020-an. Setelah menuntaskan pemaparan teorinya, saya akan mengevaluasi seberapa relevan atau tidak relevankah teori ini dalam menjelaskan dinamika politik internasional masa kini, dengan studi kasus yang berimbang dari berbagai belahan dunia.
Mary Kaldor
Mary Kaldor bukanlah nama yang asing di koridor London School of Economics (LSE). Lahir pada 1946, ia adalah Profesor Tata Kelola Global di LSE sekaligus pendiri Unit Riset Keamanan Manusia dan Masyarakat Sipil. Jejak aktivisme intelektualnya panjang: Sejak era 1980-an ia telah menjadi suara penting dalam gerakan pelucutan senjata nuklir Eropa (European Nuclear Disarmament), dan kemudian mengalihkan perhatiannya pada sifat konflik yang berubah drastis pasca-Perang Dingin. Buku New and Old Wars edisi pertama terbit pada 1999, edisi kedua pada 2006, edisi ketiga pada 2013, dan gagasannya terus diperbarui hingga edisi-edisi berikutnya. Buku ini, dalam kata-kata penerbitnya, “telah mengubah secara fundamental cara kita memahami perang dan konflik kontemporer”.